Hingga 9 kali

IMG_20151107_165426_BURST1

Entah kenapa pagi ini ada suatu garis lurus yang menarik ku kembali. Memaksaku untuk menoleh ke satu minggu yang telah bergulir. Jalan cerita yang tidak terlepas dari segelas kopi kemudian dilanjutakan segelas lainnya, iya kopi. Seperti biasanya kopi selalu menemani hariku. Hanya saja seminggu ini banyak cerita aneh tentangnya. Bahkan ketika menulis ini pun, rasa hidung ku mencium sesuatu berbau kopi.

Memang setiap pagiku ditemani secangkir kopi, bahkan juga malamku, terkadang juga sore ku. Segelas kopi yang biasa kuseduh sendiri, juga untuk dinikmati sendiri. Belakangan aku lebih sering menikmati nya dengan teman ku. Dengan teman yang berbeda disetiap kesempatannya, tempat yang berbeda,dan  juga cerita yang tak sama. Tidak hanya itu aku pernah, duduk dari satu kedai kopi ke kedai lainnya hanya dalam selang 3 jam.

Iya dengan segelas kopi aku bisa melakukan apa saja, sepertinya. Seakan dia punya daya magis nya tersendiri, terlebih saat membicarakan sesuatu yang biasanya sangat sulit untuk dibicarakan di hari-hari yang biasa. Seakan dengannya pikiranku memiliki sesi nya tersendiri.

Kita akhiri saja ceritanya, sepertinya terlalu berlebihan menyebutkan namanya hingga 9 kali, kopi~

Advertisements

Selimut kopi

IMG_5271

Cangkir kopi yang kutinggalkan telah terbalik
menumpahkan kertas yang telah remuk
menggunduk pasrah diantara kumpulan kegelisahan
yang semerawut bahkan berantakan, kalau saja dapat diukur.

Secangkir kopi yang diharapakan sangat
mengusir malam yang kian terlarut
enggan dimakan oleh dingin nya pagi
dia telah tumpah, bahkan mulai mengering.

remukan kertas terpaksa membuka diri
terselimut sedikit rasa manis dari secangkir kopi
sisanya hanya terasa pahit,
ada sendu didalamnya

Kertas berselimut kopi ~

Celoteh Tentang Dia

Seperti ┬ábiasa secangkir kopi selalu memberikan efek yang dahsyat kepadaku. Mengacaukan gelombang aliran hormon dalam berpolarisasi menghentak kelopak mata tetap terjaga. Dia menghantarkan ku, yang sepertinya tidak punya bakat bernegosiasi dan melewatinya sebagai kawan, melawan arus keheningan malam. Keheningan yang biasanya dikuasai oleh dentingan jam dinding yang sesekali bersahutan dengan rintihan cicak yang entah kenapa tidak muncul malam ini. Dia yang sebelumnya terlarut dalam cangkirku, dia yang di daftar menu bertuliskan “aku dari Papua Wamena”. Si hitam legam yang menurutku tidak memiliki aroma setangguh saudara dekatnya seperti si Toraja ataupun si Gayo Aceh, sekali lagi ku katakan dia telah mencuri bunga tidurku.

IMG_4393-01
A cup of coffe, please.

Continue reading “Celoteh Tentang Dia”