Petuah Pahit

Satu sendok cukup? Kalo memang tidak kuat pahit tidak apa-apa.
Tidak cukup baik menambahkan gula kedalam minuman, bahaya gula.
Mungkin hasil ekstraksinya perlu didelusi sedikit agar tidak terlalu pahit.
Bagaimana?

Pahit ~
Masa, harusnya tidak lagi terlalu pahit karena juga ditambahkan es.
Sini saya coba,
Hmmm ini manis bukan lagi pahit.

Pahit~
Maklum terbiasa dengan kopi yang digunting.
Bukan kopi yang digiling.
Mungkin belum terbiasa.

Pahit~
Memang begitu rasa kopi.
Standar pahit segelas kopi sama saja.
Hanya toleransi kita berbeda.

Pahit~
Rasa yang tercecap pertama seperti itu,
Itu dulu sekarang tidak lagi,
Toleransi rasa ku dengan kamu tidak sama lagi.

Sepahit apapun, hanya lah awalan
Terbiasa, akan menjadi lebih mudah
Perjuangan selalu di awal – di akhir hanya akan menjadi kebiasaan.
Semua sama, begitu petuah pahit.

Advertisements

Hari ini Hari Kopi

photo_2017-10-01_20-08-49

Lingkup bermain semakin jauh namun secangkir kopi akan tetap sama. Mungkin dengan kalimat sederhana ini dapat mewakilkan seberapa mengglobalnya kopi hari ini. Mungkin juga ini perasaan atau pikiran saya saja, karena lingkup kopi telah menjadi bagian sehari-hari, entah bagaimana dengan yang lain. Mari kita pikir balik film mengenai kopi cukup memiliki daya tarik katakanlah filosofi kopi dan sekuelnya, kemudian AADC yang melambungkan nama klinik kopi. Bahkan ada yang bilang (anonymous); di Bandung sendiri setiap bulannya ada 10 kedai kopi yang muncul, begitu juga dikota lainnya. Apa benar kopi sekedar tren sesaat seperti batu akik atau?

Kopi mengglobal hari ini di Indonesia meski katanya kopi telah diketahui dari abad 17-an melalui koffie stelsel, istilah tanam paksa kopi oleh Belanda. Rempah-rempah bukan semata-mata permata yang diperdagangkan oleh Belanda di Eropa. Kopi bahkan menjadi komoditas utama saudagar-saudagar Belanda. Hal ini saya baca dan ketahui melalui novel Max Havelar yang ditulis Multatuli bahwa kopi bukan hanya mengglobal hari ini. Kopi muncul kembali hari ini, bukan lagi sebagai komoditas tanam paksa namun menjadi tanam sukarela.

Sore ini presiden RI, bapak Joko Widodo, mengeluarkan pernyataan pada diskusi kopi akan memberikan 10 beasiswa untuk anak muda untuk belajar kopi baik itu di bidang pertanian, barista, atau pembuatan alat dan mesin kopi. Satu hari sebelumnya, Pemprov Jabar menyelenggarakan event kopi bertema “ngopi saraosna” atau ngopi  sepuasnya. Event yang mengundang pelaku-pelaku kopi di Jawa barat mulai dari petani, roastery, pembuat alat-alat seduh kopi. Bahkan lembaga amal mesjid Salman ITB melakukan upaya pensejahteraan petani kopi di seputaran Bandung melalui kurban Idul Adha. Apakah hal ini dapat menjadi pemicu untuk perkembangan kopi di Indonesia – hingga bukan menjadi tren saja?

Kopi merupakan komoditas kedua yang diperdagangkan di dunia. Boleh jadi kalimat sebelum ini menjadi pemicu berkembangnya kopi di Indonesia mengingat kopi sangat bisa untuk tumbuh di banyak wilayah sepanjang Nusantara. Faktanya kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar, berdasarkan MIT’s Observatory of Economic Complexity (OEC), kopi berada pada urutan 98 sebagai komoditas yang diperdagangkan, biji beras kopi pada urutan 114, dan kopi yang telah disangrai pada urutan 301. Terlepas dari angka-angka ini, kopi tidak bukan tanaman yang tumbuh di sembarang tempat, beruntung kita bisa memilikinya.

1 Oktober, hari kopi internasional.
Abad 17 hingga 21 kopi masih memiliki tempat – dan akan kemana bergulir, kopi Indonesia?

 

 

Pesan Singkat

img_7779

 

“Kopi armor katanya udah tutup yah karena tidak memiliki izin bangunan”

“Tapi nemu kopi armor yang lain nih dijalan legok randu, kesana yuk”

“yuk,siap-siap dulu”

“dinanti di kosan ya”

 

Sesingkat itu pesan  ajakan untuk pergi ngopi yang siapa sangka nanti menjadi obrolan selama 12 jam. Pesan dari seorang yang kawan yang juga menyukai kopi. Kita berdua baru belajar menyukai kopi. Kita yang mengobrol mengenai kopi, berselang pendapat mengenai rasa kopi seolah-olah tau banyak. Tapi kita baru berlajar mengenal rasa kopi.

Seperti di hari yang biasa datang menghampiri, selang 10 menit kemudian menyeduh kopi. Satu jam kemudian menyeduh kopi yang lain. Berbicara tentang rasa yang jika dipikir-pikir kembali, kita tidak benar-benar tau apakah rasa itu benar. Kamu bilang ini rasanya spicy seakan ada sensasi pedas, aku bilang tidak ada pedas disana hanya sedikit pahit dan sedikit asam. Seperti obrolan kosong yang perlu divalidasi kita bilang. Sayangnya diantara kita tidak ada yang merasa benar.

Kita duduk di kedai kopi yang desain nya serba kayu ini. Tidak terlalu ramai juga tidak pula sepi, setidaknya disetiap meja dan bangku yang tersedia telah terisi oleh pantat penikmat kopi. Tempat yang jauh dari kota, sedikit terpencil dengan masih banyaknya pohon-pohon dan jalanan yang tidak terlalu bagus. Hal ini menjadi indikasi suatu tempat yang tenang. Armor kopi, aku suka.

Dengan pesanan untuk yellow caturra dan cikajang.

Kopi habis tiada obrolan yang bersisa karena hari masih terang menjelang beberapa jam menjelang senja. Namun hujan tiada sabar untuk bertumpah ke bumi. Bukan untuk berlama-lama seperti mereka yang membutuhkan tempat bercanda, kita hanya menghabiskan kopi kemudian pergi. Karena senja menjelang dan hujan siap menerjang.

Hujan meruntuh biarlah roda tetap berputar, kita duduk diseberang penyeduh lainnya yang berjarak hampir 10 km dari penyeduh sebelumnya. Berharap dapat menikmati segelas kopi hangat lainnya ketika senja menjelang dalam hitungan menit, pun menghantam dingin nya kota ini.

Kali ini secangkir kopi sindoro dan manglayang tersedia.

“Kamu tau tidak, aku ingin tau apa yang akan terjadi di tahun 2024”

“Dua periode presiden lagi”

Dan ini diakhiri dengan mendengar podcast mengenai cerita Siti Aisyah ra yang mengantarkan masing-masing dari kita kedalam kelelahan menjelang subuh.

Obrolan seperti apa hingga 12 jam lamanya?
Entahlah…

” Secangkir kopi dan kawan yang tepat untuk sesuatu yang tidak kita mengerti “

 

 

 

Sesuatu Yang Hilang

img_5792-2

Pagi ini..

Aku menyesap kopi seperti di pagi-pagi yang biasa. Namun ada yang beda. Ada sensasi saat pertama kali menyeruputnya (kopi) , entah apa namanya, kita sebut saja itu nikmat. Terasa sudah lama sekali tidak merasakan sensasi yang sama, padahal meminum kopi telah menjadi rutinitas.

Apakah kopi nya berbeda?

Memang hampir selalu menyeduh jenis kopi yang berbeda setiap harinya, tapi tetap saja tiada sensasi nikmat itu. Hingga beberapa saat sebelum menulis catatan ini aku teringat sesuatu. Aku telah melupakan bagaimana seharusnya menyeduh kopi – bagaimana seharusnya meminum kopi. Benar, aku telah melupakannya dan menganggapnya sebatas rutinitas, kebutuhan, dan semata kebiasaan.

Pagi ini..

Aku menyeduh kopi, benar-benar menyeduh. Menyeduh dengan hati – bukan menyeduh sebagai selingan, apalagi karena butuh. Hal ini mengingatkan aku akan kata seseorang;

“Kopi rasanya akan tetap pahit mau diseduh dengan gaya apa aja, ya karena dia kopi”

“Dan yang terpenting adalah menyeduh dengan menggunakan hati, menggunakan perasaan”

“Perasaan penyeduh akan tercurah ke dalam rasa secangkir kopinya; apakah marah, bahagia, atau sendu”

Pagi ini..

Hal ini terjadi kepadaku, sangat mengejutkan sekali. Dihari-hari yang lalu aku telah merasakan bahwa sepertinya kopi ini mulai terdegradasi seiring waktu (kualitas rasa yang menurun). Sehingga aku memaklumi rasanya yang menjadi kurang baik. Lagipula pikiran seperti yang orang bilang “Apapun rasa kopinya lebih baik daripada tiada kopi sama sekali” seringkali terngiang di kepala sehingga sekali lagi aku memaklumi kopi yang tidak enak ini. Tapi apa?

Pagi ini..

Aku menemukannya, dia yang telah lama pergi
Menyeduh dengan hati, dan
Perasaan nikmat ketika menyeruput kopi
Sesuatu yang hilang, kembali~

 

Berguru kepada-nya

IMG_5792-2

Kenapa kamu menegak kopi, meski tau rasanya pahit?

Karena aku tau dia adalah guru yang paling baik tentang makna.
Dari satu tegukkan, mencitra banyak rasa.
Untuk satu tegukkan banyak cara.
Untuk satu hal lain, pahit nya tidak pernah disembunyikan.

Berguru kepadanya, artinya belajar untuk jujur dan belajar untuk mencintai diri sendiri~