Kesan

852732922_72578.jpg

Perlu kah untuk diingat, tidak. Apabila hanya untuk menghabiskan ruang dalam ingatan. Pun melupa membutuhkan usaha yang tak sedikit. Hanya menghabiskan oksigen yang mengalir di nadi.

Berlalunya tiap detik, menghapus satu persatu lukisan yang bernama kesan. Biarkan begitu, pun bintang tak pernah meminta untuk dioret acak di gelap kanvas langit. Ketika ia tak meminta, ia kembali pada malam-malam berikutnya.

Disudut yang tak pernah sama, hanya wujud. Itu arif yang diajarkan bintang, menuntun. Tidak membebani disatu titik, disatu ruang, disatu emosi. Terus bergerak-menari meninggalkan kesan yang ikut bersemi dihati. Cukup.

Kesan
09-06-2018

Advertisements

an Envelope

 

The bell was ringing, but noone home
it has been waiting for long time
long time ago before millenial era
no phone to be ringing

It was an envelope, from that far away
it has been coming for long time
long time ago when i was still young
the envelope never been opened

Envelope became yellowing already
it was lost, but founded after 30 years
even lost the memory had been waiting for it
life is suck indeed…

The old envelope where i put my heart on it
it was never…

The Synthesizer

12331604_523828471133070_1083479734_n

Morning cloudy isn’t like neither white nor black
is like you can catch something in
that others is blinded
seeing thing far beyond

Brain is sucking imagination
laughing, crying, and stunned alone
noone understand – craziness is alone
until somebody realise and make it story

It is like wringing clothes
feel what is twist like
drop by drop of water
this is how the synthesizer works – noone understand

Kaki Telanjang

Menyusuri pantai ku merintih
Diantara jarak bayang daun nyiur
Angin menjelang tengah hari berdamai
Hingga malam melepas rantai amuk

Muara tak seberapa jauh
Mulut bertukar adu dengan laut
Tak kunjung jua kaki menapak tepiannya
Mata terkadang fana

Semakin dekatnya muara
Nyiur semakin enggan bertautan
Bayangan bernaungnya pijakku
Menyiksa telapak dan jemari

Bertelanjang kaki mengejar muara

Keledai Malang

Keledai mati itu tuli sedari lahir
mata itu saja yang diandalkanya
mulut yang tiada pernah pasif memamah
malang betul nasibnya

Engkau tahu,
setidaknya masih ada kebaikan matinya
menghantarkan tuannya selamat
sudah tugasnya memang

Pernah kau jumpai hewan mati berpakaian?
ini dia keledai malang,
itu dia senyum terkembang di pembaringan
tiada pakaian yang lebih baik dari itu

Jikalau keledai mati haruskah dikafani?
atau bangkainya pelipur lara pemangsa gurun?
keledai malang,
apakah engkau tau jalan pulang menuju-Nya?