Ini atau itu?

Kita seringkali dihadapkan dengan pertanyaan;

Lebih memilih besar tapi dingin?
atau,
Kecil tapi hangat?

sebetulnya hal ini jika kita cermati hanya lah sebuah pertanyaan ilusi. Hampir disetiap manusia, bahkan dibalik relung hatinya yang terdalam selalu menginginkan adanya pilihan ketiga. Besar, lapang, tidak sempit namun hangat.

Bahkan jikapun ada pilihan ketiga yang lebih rasional, yaitu dengan tidak menjawab, dengan tidak mengingkari relung hati. Pilihan ketiga selalu tak pernah ada, tak pernah diberikan.

Tetangga depan rumahku berteriak mengenai kebebasan, ia adalah seorang amerika yang katanya sangat bebas hingga dijunjungnya tinggi-tinggi. Namun seringkali obrolan kita, tidak jauh dari “ini atau itu?”, tidak ada pilihan ketiga.

Lebih diijinkan untuk membohongi diri sendiri, tapi
tidak untuk diam.
karena bohong masih termasuk 1 dari 2 pilihan yang ada.
diam itu pilihan ketiga, dan itu tidak ada.

Ya kalo tidak ini ya itu….

Advertisements

Sepasang kaus kaki belang

Satu minggu berlalu seolah ia kilat, datang tak bersuara.
Tidak membuat kaget, sama sekali tidak.
Satu minggu berlalu, memutar ingatan kembali
Seolah ia menjadi petir, oh banyak yang telah berlalu.

Satu minggu berlalu, dan teringat sesuatu
Kaos kaki ini masih saja sama
Seperti sepasang saat senin lalu
Oh seminggu rupanya berlalu

Ia tidak bau karena petir pun kilat
Hanya saja lembab karena percikan hujan
Sepasang kaos kaki butuh pengganti
Dan seringkali, kaos kaki tak berpasangan

Jadilah ia belang
Meskipun ia dapat bersembunyi
Dibalik sepasang sepatu
Oh kaus kakiku belang~

Bandung, November  14

Syair itu

IMG_7666.jpg

 

 

 

 

 

 

Syair tak akan terlahir dari tempat terang.
Dimana gelap gulita disana buta berkata dalam kata.
Syair ada disana.

Syair tak pernah mengarung diombak tenang.
Dimana terjang menghantam kapal mengayuh entah kemana.
Syair berlabuh padanya.

Syair bukan upaya, tapi daya.
Daya yang mengalir bukan dialiri.
Dimana Syair
Disitu gelisah baik pun buruk…

Kesan

852732922_72578.jpg

Perlu kah untuk diingat, tidak. Apabila hanya untuk menghabiskan ruang dalam ingatan. Pun melupa membutuhkan usaha yang tak sedikit. Hanya menghabiskan oksigen yang mengalir di nadi.

Berlalunya tiap detik, menghapus satu persatu lukisan yang bernama kesan. Biarkan begitu, pun bintang tak pernah meminta untuk dioret acak di gelap kanvas langit. Ketika ia tak meminta, ia kembali pada malam-malam berikutnya.

Disudut yang tak pernah sama, hanya wujud. Itu arif yang diajarkan bintang, menuntun. Tidak membebani disatu titik, disatu ruang, disatu emosi. Terus bergerak-menari meninggalkan kesan yang ikut bersemi dihati. Cukup.

Kesan
09-06-2018

an Envelope

 

The bell was ringing, but noone home
it has been waiting for long time
long time ago before millenial era
no phone to be ringing

It was an envelope, from that far away
it has been coming for long time
long time ago when i was still young
the envelope never been opened

Envelope became yellowing already
it was lost, but founded after 30 years
even lost the memory had been waiting for it
life is suck indeed…

The old envelope where i put my heart on it
it was never…