Simbol`

photo_2018-03-23_09-35-10
“Chemex” – Coffee Maker

 

“lu yakin ngasih nama itu?”

Pertanyaan yang tidak satu dua di lontarkan oleh beberapa teman dan sahabat. Setelah meminta pendapat akan logo dari nama yang sudah kutetapkan menjadi nama usahaku. Dimulai dari akhir tahun 2017, diawali dari kegemaran untuk mengkonsumsi kopi, tidak hanya sekedar “konsumsi” namun juga menelaah saintifik dibalik kopi itu sendiri. Saintifik disini baik itu dari segi kimiawi, pertaniannya, hingga faktor teknis seperti perbedaan pengaruh dari air penyeduhan, alat seduh, dan parameter lainnnya. Kemudian berujung pada pemesanan mesin untuk menyangrai kopi satu bulan setelahnya.

“bukannya berniat untuk “discourage” tapi kalo lu pakai nama itu soalah2 membentuk segmentasi tersendiri”

Pernah muncul keraguan untuk  merevisi nama menggantinya dengan sesuatu yang lebih filosofis atau orang bilang lebih keren atau juga lebih kekinian. Dan memang benar, menilik nama-nama yang digunakan untuk sebuah kedai kopi ataupun merek dagang kopi yang telah disangrai, masih banyak pilihan. Namun tetap aku menjatuhkan pilihan pada satu nama yang sederhana ini dan cukup familiar digunakan dimana-mana.

Dan lagi setelah logo yang didesain oleh seorang kawan yang bekerja dibidang kreatif desain selesai, aku semakin memantapkan untuk menggunakan nama yang sederhana ini. Tepat tanggal 3 april ini, sudah 3 bulan logo ini aku gunakan sebagai ujung tombak dari usaha ini.

cutmypic.png
Barokah Coffee Shelter

In Islam, Barakah or Barokah (Arabic: بركة‎) is a kind of continuity of spiritual presence and revelation that begins with God and flows through that and those closest to God. Barokah can be found within physical objects, places, and people, as chosen by God.

Inilah simbol yang aku gunakan, sebuah representasi dari lambang “infinity” yang memiliki arti tak ada batas. Dengan terdapat sebuh biji kopi didalam nya menunjukan bahwa tidak ada batasan pada kopi, baik dari segi ilmunya, pembelajarannya, rasa, dan juga bagaimana cara untuk menikmatinya. Barokah atau Barakah berasal dari bahasa arab yang berarti pertambahan nilai terhadap sesuatu untuk mendekatkan diri pada Allah sang pencipta semesta.

Dalam sebuah nama dan simbol sederhana ini terdapat makna yang luar biasa~
Tak ada alasan untuk tidak berjuang dengan nama ini bukan?

 

03-04-2018
Barokah Coffee Shelter

Advertisements

Petuah Pahit

Satu sendok cukup? Kalo memang tidak kuat pahit tidak apa-apa.
Tidak cukup baik menambahkan gula kedalam minuman, bahaya gula.
Mungkin hasil ekstraksinya perlu didelusi sedikit agar tidak terlalu pahit.
Bagaimana?

Pahit ~
Masa, harusnya tidak lagi terlalu pahit karena juga ditambahkan es.
Sini saya coba,
Hmmm ini manis bukan lagi pahit.

Pahit~
Maklum terbiasa dengan kopi yang digunting.
Bukan kopi yang digiling.
Mungkin belum terbiasa.

Pahit~
Memang begitu rasa kopi.
Standar pahit segelas kopi sama saja.
Hanya toleransi kita berbeda.

Pahit~
Rasa yang tercecap pertama seperti itu,
Itu dulu sekarang tidak lagi,
Toleransi rasa ku dengan kamu tidak sama lagi.

Sepahit apapun, hanya lah awalan
Terbiasa, akan menjadi lebih mudah
Perjuangan selalu di awal – di akhir hanya akan menjadi kebiasaan.
Semua sama, begitu petuah pahit.

Hari ini Hari Kopi

photo_2017-10-01_20-08-49

Lingkup bermain semakin jauh namun secangkir kopi akan tetap sama. Mungkin dengan kalimat sederhana ini dapat mewakilkan seberapa mengglobalnya kopi hari ini. Mungkin juga ini perasaan atau pikiran saya saja, karena lingkup kopi telah menjadi bagian sehari-hari, entah bagaimana dengan yang lain. Mari kita pikir balik film mengenai kopi cukup memiliki daya tarik katakanlah filosofi kopi dan sekuelnya, kemudian AADC yang melambungkan nama klinik kopi. Bahkan ada yang bilang (anonymous); di Bandung sendiri setiap bulannya ada 10 kedai kopi yang muncul, begitu juga dikota lainnya. Apa benar kopi sekedar tren sesaat seperti batu akik atau?

Kopi mengglobal hari ini di Indonesia meski katanya kopi telah diketahui dari abad 17-an melalui koffie stelsel, istilah tanam paksa kopi oleh Belanda. Rempah-rempah bukan semata-mata permata yang diperdagangkan oleh Belanda di Eropa. Kopi bahkan menjadi komoditas utama saudagar-saudagar Belanda. Hal ini saya baca dan ketahui melalui novel Max Havelar yang ditulis Multatuli bahwa kopi bukan hanya mengglobal hari ini. Kopi muncul kembali hari ini, bukan lagi sebagai komoditas tanam paksa namun menjadi tanam sukarela.

Sore ini presiden RI, bapak Joko Widodo, mengeluarkan pernyataan pada diskusi kopi akan memberikan 10 beasiswa untuk anak muda untuk belajar kopi baik itu di bidang pertanian, barista, atau pembuatan alat dan mesin kopi. Satu hari sebelumnya, Pemprov Jabar menyelenggarakan event kopi bertema “ngopi saraosna” atau ngopi  sepuasnya. Event yang mengundang pelaku-pelaku kopi di Jawa barat mulai dari petani, roastery, pembuat alat-alat seduh kopi. Bahkan lembaga amal mesjid Salman ITB melakukan upaya pensejahteraan petani kopi di seputaran Bandung melalui kurban Idul Adha. Apakah hal ini dapat menjadi pemicu untuk perkembangan kopi di Indonesia – hingga bukan menjadi tren saja?

Kopi merupakan komoditas kedua yang diperdagangkan di dunia. Boleh jadi kalimat sebelum ini menjadi pemicu berkembangnya kopi di Indonesia mengingat kopi sangat bisa untuk tumbuh di banyak wilayah sepanjang Nusantara. Faktanya kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar, berdasarkan MIT’s Observatory of Economic Complexity (OEC), kopi berada pada urutan 98 sebagai komoditas yang diperdagangkan, biji beras kopi pada urutan 114, dan kopi yang telah disangrai pada urutan 301. Terlepas dari angka-angka ini, kopi tidak bukan tanaman yang tumbuh di sembarang tempat, beruntung kita bisa memilikinya.

1 Oktober, hari kopi internasional.
Abad 17 hingga 21 kopi masih memiliki tempat – dan akan kemana bergulir, kopi Indonesia?

 

 

Abstrak dalam tulisan

Hei saya merindu mu
hei kenapa begitu, saya sungguh mahal untuk kamu rindukan

Iya saya tahu itu, sangat
nah, tidak lah elok kamu ungkapkan itu kepada saya

kata-kata saya belum usai, saya rindu abstrak didalam tulisanmu…

Baik, hari ini telah berada di penghujung juli. Kan tidak ada salahnya tidak menulis selama 54 hari. Karena menulis membutuhkan fokus, kata mereka. Untuk saya menulis membutuhkan imajinasi, bagaimana bisa saya menulis sesuatu ketika fokus menuntut. Fokus meminta untuk duduk didepan, agar lebih jelas melihat jalanan. Ada hal yang mesti segera untuk sampai.

Tidak dosa bukan tidak menulis selama 54 hari, kan saya bukan penulis. Tapi kamu menunggu imajinasi saya, lalu saya meminta maaf kepadamu. Apa, kamu bilang kita duduk berdua – berbicara tentang hal tak biasa – ketika kamu membaca tulisan saya, seperti itu kata mu tadi. Saya baru mendengar jika dengan membaca melalui selembar layar seolah telah terhubung, bahkan duduk bercerita.

Tadi saya bilang imjinasi duduk dibelakang, kemudi ganti, lalu bagaimana?
Tulisan-tulisan usang disini saya kembali baca, lalu apa?
Kamu tahu, benar-benar abstrak semua yang saya tulis, bahkan saya tidak ingat bagaimana bisa menulisnya.
Terheran-heran, mungkin ini saatnya imajinasi kembali ke kemudi.

Sudah itu saja, karena spotify dalam shuffle mode memutar lagu slank – Terlalu manis (piano version).
dan saya merinding~

Saya kembali menulis untuk kamu baca – Abstrak, 31-07-17

Sabda Cinta

Sabda cinta

Kehidupan normal seakan-akan menguap ketika cinta memasuki musimnya. Menemukan belahan yang membuatmu gelisah ketika ia lalai menjaga dirinya. Pernah gemas? Tidak enak bukan. Musim panas masih jauh dari kelopak mata tapi rasa marah menyaingi. Mengumbar kata hendak memberi tahu mana yang benar mana yang mesti dijalani, bukan dengan amburadul memperlakukan diri.

Seperti ibu memarahi buah hati, itu sayang itu cinta. Kamu? Bukan buah hatinya bukan imamnya bukan makmumnya, tiada usah marah, bukan tempatnya bukan haknya. Gemas bukan? Tentu saja, karena itu cinta ada. Jika bukan cinta,terlantar lah anak bertindak semaunya tiada tuntunan.

Pernah begitu? Berarti lupa untuk bangun dari namanya jatuh cinta. Ini sabda untuk mengetahui apa itu cinta dan tanda-tanda jatuh cinta. Dan jangan lupa, ini melenakan. Marah tanpa alasan itu lumrah dalam cinta, tapi tidak marah tanpa alasan ketika tiada dalam ikatan, karena kita bukanlah monyet bergelantungan. Mereka tiada mengerti apa itu sabda cinta, yang sesungguhnya~

Gemas membacanya? Saya juga ketika menulisnya~