Ibuku Kampungan

img_5136

Nak gimana caranya sih pakai whatapp, ibu nda tau caranya. Kawan-kawan ibu disekolah minta ibu daftar, biar katanya mudah untuk berbagi jikalau ada informasi. Aku juga bingung nih bu ngasih taunya gimana, coba minta tolong siapa gitu bu, ke ipang atau ke kawan sekolah ibu yang muda. Iya nak nanti ibu coba minta tolong. Begini nih kalau punya ibu kampungan.

Katanya nda bisa didaftarkan nak, harus ada emailnya. Dulu kan ibu udah pernah punya email kan. Ibu nda tau email sama password nya apa. Benar-benar nda ngerti ini ibu nak, maklum ibu udah tua. Ibu mah selalu mengedepankan umur terus, bilang tua, tau ga sih bu Kolonel Sander yang bikin KFC yang mendunia itu pada umur 65. Bisa-bisanya ibu udah menyerah karena whatsapp trus bilang nda ngerti karena faktor umur. Aduh bu jangan kampungan deh.

Suatu waktu aku bercerita tentang sesuatu pada ibu. Tanggapan ibu seperti ibu-ibu yang lainnya, kok gitu nak, gimana tuh nak, tapi setelah dijelaskan panjang lebar yang berujung dengan kebingungan juga. Ibu bilang; iya nih ibu kan sekolah nya nda tinggi nak, ini juga udah syukur ibu jadi pengajar karena jaman. Dulu ibu pernah cerita bahwa tahun 70-an Indonesia masih kekurangan pengajar jadi pendidikan setingkat diploma pun bisa. Pusing kan kalau punya ibu kaya begini, kampungan.

Tadi malam ibu menelfon. Aku bilang bu ada Faisal nih di kosan. Gimana dia sekarang nak, kan udah kerja tuh kapan nikahnya dia. Anak temen ibu ada nih, mau dikenalan nda. Mana mau dia dikenal-kenalin gitu bu, orang kemaren aja udah hampir mau jadi dianya malah nda mau. Hapal lah sama selera dia gimana bu, biarin nyari sendiri aja deh. Kalau anak ibu gimana?

Aduh bu ini lagi deh. Hahaha ibu ketawa, nanti aja kalau udah kerja ya. Oiya bu aku sekolah bukan buat kerja ya bu jadi nanti ibu jangan berharap bakal kerja dimana atau gimana gitu bu. Soalnya menurut aku sekolah bukan buat cari kerja bu, tapi buat cari ilmu, ya syukur-syukur ilmu nya mengikuti rezeki nya bu.

Nak ibu nda pernah menuntut kamu harus kerja dimana atau kerja apa. Kamu mau kerja apa aja buat ibu nda masalah asal baik buat kamu. Masalah memberi kecukupan buat kamu, memenuhi kebutuhan kamu meski sesulit apapun itu tanggung jawab ibu. Anak ibu udah mau rajin shalat, mau membaca Al-qur’an, mau belajar tentang agama kaya yang anak ibu bilang aja udah jadi kebahagiaan buat ibu nak.

“Cinta nya tidak terukur, cintanya tidak menuntut”

“Ibuku memang kampungan tapi cintanya tidak”

Advertisements

Hai : Orang Asing

_dsc2321

Hai

Ada orang asing datang menyapa, menggenggam tangan erat, seakan risih tidak pernah diciptakan untuknya. Tanpa memeriksa rasa datang bertegur sapa kemudian berbicara, diikuti sedikit canda. Semudah itu, itulah orang asing yang tumbuh dalam rasa bahwa manusia itu sama saja. Manusia mana yang sama, manusia yang familiar atau unfamiliar itu sama, sama-sama manusia.

Hai

Orang asing mulai bertanya tentang hidupku. Menjawab adalah kekasih dari bertanya, terlepas apakah itu cinta diantara mereka bukanlah menjadi soal. Tanya layak untuk dijawab. Hari berikutnya engkau masih bertanya didalam sela percakapan nan terkadang serius, tak jarang juga jenaka.

Hai

Dirimu semakin tidak asing lagi saat menyapa wahai orang asing. Aku sekarang tau dimana kamu, dan secuil tentang bagaimana kamu menjalani kehidupanmu. Kamu yang sangat menyenangi bepergian, membaca buku, dan tentu saja menyeruput kopi. Untuk yang terakhir menjadi sedikit istimewa karena siapa sangka obrolan tentang kopi selalu dapat menjadi pembuka kalimat diantara kekakuan dan keasingan kita satu sama lain.

Hai

Siapa sangka orang asing seperti mu juga ikut ambil pusing dalam larutnya perbincangan. Topik yang semakin banyak setiap waktunya yang terkadang membuat lidah kelu, pikiran buntu untuk menanggapi setiap topik yang engkau ajukan. Aku butuh waktu untuk memikirkan bahasa yang tepat untuk menjawab setiap bahasa yang kau lontarkan.

Hai

Siapa sangka satu tahun telah berlalu

Hai

Meski telah bergulir waktu selama itu kamu tetap menjadi asing dilayar ponselku selama beberapa waktu yang lalu

Hai

Kamu tau kenapa?
Karena biarlah keterasingan ini tetap ada dan terpelihara hingga waktunya ia benar-benar terkikis sempurna. Kemudian bermetamorfosa menjadi keterasingan yang lain.

Kamu tau lagi kenapa harus begitu?
Harus nya kamu mengerti sebagai seseorang yang senang untuk berjalan melihat sesuatu yang baru, mengenal hal yang baru, mencari tantangan baru bahwa keterasingan selalu akan memberikan nuansa yang baru untukmu, yang akan selalu dapat memancing keingintahuanmu.

Dan sekali lagi kenapa?
Karena hidup adalah rahasia, dan akan selalu ada rahasia dibalik rahasia~

Dibalik Jendela

IMG_5169

Kamu tahu apa yang aku lihat ketika menatap keluar jendela? Ooh sebelumnya maafkan aku tidak mendengar saat kamu memanggil.

Aku melihat menara tinggi menjulang berlatar langit biru dan awan pekat namun putih bersih. Menara mesjid yang sehari-hari menyerukan orang untuk menyembah-Nya. Perlahan bangunan satu persatu pergi dan muncul kembali. Sebagian dari mereka ada yang beratap seng biasa, ada satu dua muncul dengan “gonjong”, atap khas minang menyerupai tanduk kerbau. Dan ketika semua dari mereka lenyap, hanya pematang sawah berhektar-hektar terbentang. Mungkin belum musim panen, masih hijau kata mereka, belum dewasa dan belum matang.

Jauh lagi diseberang sana terlihat hutan, bukan, perbukitan. Mereka seperti mengikuti, tak lelah mengiringi perputaran roda mobil ini. Mereka seperti tiada habis nya, bergelut dengan gumpalan awan yang hanya berjarak beberapa senti dari tengkuk mereka. Aku suka hanya untuk melihat mereka.

Ooh iya, sebenarnya hanya sesederhana itu alasan ku untuk menatap keluar jendela. Menikmati apa yang aku sebut kampung halaman.

Jalan yang mana?

Akan memilih yang mana diantara dua jalan, lurus dan berkelok.

Seperti malam ini, jalan lurus tiada kelokan berarti apa lagi tikungan. semua nya terlihat bagai sebuah penggaris berhias lampu. Mungkin begitu arsiteknya merancang jalanan ini sesuai konturnya. Dan dengan penuh harap menghantarkan pelintas nya lebih cepat beristirahat diatas bantal mereka.

Lain lagi dengan jalan menuju rumahku dari Bandara, banyak lurusnya tapi tidak sedikit juga belokan bahkan tikungan yang terdapat plang mematikan persis pada beberapa sudut. Dan sebagian orang mungkin tidak suka dengan jalanan seperti ini, bikin mabuk katanya.

Jika disuruh memilih yang mana, aku bingung. Jalanan lurus mungkin terlihat enak, tetapi ada ego yang besar disana. Ego yang ada disetiap pengemudi dibalik setir mobil atau setang motor. Ego untuk memacu tunggangan mereka dengan lebih cepat, menyalip para lambat didepan mereka. Sembari menghitung kecepatan dan menganalisa kendaraan dari arah sebaliknya. Semua tentang probabilitas dan ego tentang sesuatu yang jelas dan terlihat.

Disisi lain, jalan berkelok memiliki sensasi tersendiri untuk mengeluarkan naluri hati-hati dari seorang manusia. Sebuah naluri yang berasal dari keinginan bertahan hidup. Menganalisa setiap kemungkinan yang ada di balik bukit, jurang yang menganga, diantara tikungan. Semua tentang sesuatu yang tidak terlihat, akankah ada kejutan dibalik sana.

Akhirnya, aku pikir kita tidak harus memilih jalan yang mana, semua dikelilingi resiko nya sendiri, dibungkus cerita nya masing-masing. Hanya untuk satu tujuan, kembali memijakan kaki di atas tanah, karena-Nya.

Dingin Gunung

Pagi ini mendadak terasa lebih dingin dari biasanya, padahal disudut kanan layar menunjukan pukul 09.11 waktu Bandung. Aku duduk di salah satu kursi meja bundar, menantang hembusan nafas teratur pendingin ruangan, pantas saja dingin.

Hingga saat ini aku tidak pernah menempati daerah yang panas dalam waktu yang lama, kurang dari 6 bulan. Sisanya hidupku selalu berada di daerah dingin, katakanlah Bukittinggi dan saat ini Bandung. Namun begitu, ketika bertemu dingin selalu saja ada perasaan tidak nyaman. Perasaan lemah terhadap daya tahan tubuhku yang terbilang cukup mengkhawatirkan. Dan seringkali aku membayangkan, bagaimana bila aku berada di daerah bersalju atau daerah yang musim panasnya pun masih terasa sangat dingin atau daerah yang kemunculan mataharinya  sangat dinanti-nanti. Mungkin hal inilah alasan mengapa aku terlahir di Indonesia, aku beruntung.

Dingin pantang dilawan
Dingin sulit untuk dikalahkan
Jika tidak maka akan menggigil karenanya
Jika begitu cobalah berteman dengan nya

Kalimat-kalimat itu selalu aku bisikan dipikiranku ketika mendaki gunung. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, hanya saja aku belum menemukan gunung yang hangat, semuanya dingin. Memang begitulah gunung, tempat yang menjauhi permukaan laut. Semakin menjauh maka semakin dinginlah kemungkinan, bahkan pada suatu ketinggian tertentu dia akan berselimut salju.

Dingin yang dihembuskan oleh nya selalu berbeda setiap waktunya, setiap musimnya. Dingin yang dapat membuat siapa saja menggigil karenanya. Dinging yang tidak pernah memilih kepada siapa dia bernafas. Terkadang tidak mau berkompromi, lalu membunuh siapa saja yang tidak pernah siap. Memang kejam, tapi begitulah dingin gunung menjalani hari-harinya.

Dingin yang diberikan oleh gunung, dingin yang berlaku pada siapa saja. Rasa yang akan menggila pada siapa saja yang mencoba melawannya. Rasa menyiksa terasa ketika mencoba meremehkan dirinya.

Dibalik itu semua, dia mengajarkan apa arti rasa hangat pada orang-orang yang menerimanya apa adanya. Rasa hangat yang tercipta dari suatu perasaan yang sama ketika merasakan dingin itu sendiri. Dan itulah alasan mendaki gunung menjadi kegiatan yang hangat bagi orang-orang yang mengerti mengapa gunung itu harus dingin.

Yaitu untuk menghasilkan kehangatan di hati, gunung tidak pernah mengecewakan untuk hal ini ~