Weather Forecast

“Di besok jadi ke Takao-san?” – Site

Pesan pertama yang muncul menjelang tengah malam disaat Kawasaki-shi larut dalam keheningan. Setelah sehari sebelumnya batal karena ramalan cuaca menunjukan tingkat presipitasi di kanto area mencapai 90%, yang artinya payung akan sangat dibutuhkan di hari itu. Memang benar weather forecast merupakan senjata dalam bentuk yang lain untuk menghadapi hari. Bahkan guyon menyebutkan mereka lebih percaya ini dibandingkan Tuhan, meski kuil dimana-mana dan meski jimat senantiasa menemani.

Hari esok cerah sekali menurut weather forecast. Obsesi akan Fuji-san salah satu alasan yang mendorong perjalanan ke Takao-san ini. Setelah 2 minggu sebelumnya gagal menemukan Fuji dalam bentuk terbaiknya disalah satu spot pengamatan Fuji-san, Hakone. Obsesi lainnya,  kata mereka belum je Jepang jikalau belum ke melihat Fuji, menurut Site, seorang yang memilik hobi mendaki gunung.

photo_2017-12-03_08-13-03.jpg
Hiking mate!

Hari ini cerah, kita berangkat tanpa riset. Riset merupakan bagian dari pekerjaan kita, tapi perjalanan tanpa riset itu berbeda, lebih menarik. Aroma pendakian mulai terasa ketika pergantian dari Nambu line menjadi Keio Line, ada beberapa orang yang menggunakan setelan pendakian, menarik!

Setelah drama ketinggalan Suica card hingga salah beli tiket tibalah di ujung perjalanan, Stasiun Takaosanguchi, stasiun kereta terakhir sebelum pendakian. Ekspektasi menikmati alam Jepang dengan damai menjadi buih, disaat hampir 90% manusia lalu lalang di luar stasiun menggunakan setelan pendakian. Kita mau menuju gunung atau menuju pasar kaget?

photo_2017-12-03_08-14-32.jpg

Apakah saya dan Site menemukan barang bagus dan murah di Takao-san?

 

Advertisements

Cerita Usai

photo_2017-12-02_21-56-26.jpg

Ditengah keramaian kota yang menuju sepi ketika hari mendekati purna nya. Wajah kota kian memerah dikala pejalan kaki merasa buat untuk menyebrang. Merah pula wajah penghuninya dikala angin meniup pucuk hidungnya. Keteraturan penyusun kota yang pecah ditemani riang bulan.

Disudut blok hunian tampak sepi dihinggapi bau busuk daun berguguran. Seperti nafas pejudi kalah dalam pertarungan hingga perut kembungnya. Suara sirine darurat menggaung untuk ketiga kalinya. Gaung rombongan gerbong kereta mendekati suara akhirnya.

Seniman jalanan menghibur bawah tower jam yang mendenting jelas. Tak ada kotak sumbangan disana – ini pertunjukan. Ini kota pejuang, bekerja bukan untuk hidup, mati pilihan tak bekerja. Pintu kamar telah dikunci, esok menanti, cerita usai.