Abstrak dalam tulisan

Hei saya merindu mu
hei kenapa begitu, saya sungguh mahal untuk kamu rindukan

Iya saya tahu itu, sangat
nah, tidak lah elok kamu ungkapkan itu kepada saya

kata-kata saya belum usai, saya rindu abstrak didalam tulisanmu…

Baik, hari ini telah berada di penghujung juli. Kan tidak ada salahnya tidak menulis selama 54 hari. Karena menulis membutuhkan fokus, kata mereka. Untuk saya menulis membutuhkan imajinasi, bagaimana bisa saya menulis sesuatu ketika fokus menuntut. Fokus meminta untuk duduk didepan, agar lebih jelas melihat jalanan. Ada hal yang mesti segera untuk sampai.

Tidak dosa bukan tidak menulis selama 54 hari, kan saya bukan penulis. Tapi kamu menunggu imajinasi saya, lalu saya meminta maaf kepadamu. Apa, kamu bilang kita duduk berdua – berbicara tentang hal tak biasa – ketika kamu membaca tulisan saya, seperti itu kata mu tadi. Saya baru mendengar jika dengan membaca melalui selembar layar seolah telah terhubung, bahkan duduk bercerita.

Tadi saya bilang imjinasi duduk dibelakang, kemudi ganti, lalu bagaimana?
Tulisan-tulisan usang disini saya kembali baca, lalu apa?
Kamu tahu, benar-benar abstrak semua yang saya tulis, bahkan saya tidak ingat bagaimana bisa menulisnya.
Terheran-heran, mungkin ini saatnya imajinasi kembali ke kemudi.

Sudah itu saja, karena spotify dalam shuffle mode memutar lagu slank – Terlalu manis (piano version).
dan saya merinding~

Saya kembali menulis untuk kamu baca – Abstrak, 31-07-17

Advertisements