You can not…

Chasing the rocket needs entire of life. Tell the stories that another impossible is exist. Sight is no evergreen, following perspective rules. Sound dissapear by time, said newton rules.

Time is consistent, but not people. When it’s no longer not, it means dead. It’s what cardiograf says. Time is the same, but people growing old – brain becomes tired in every chiming of time.

Do not be anger, consistent is a hard thing. Do not be foolish to stand at the same place at the another time. People looking for meaning – it needs time – sincerity is in a content.

 

 

You can not choose what stays and fades away

 

Advertisements

Magic Of Tidying Up

Sumber : Google.com

Akhir pekan sebelumnya saya habis kan hanya dengan dua hal, “membaca dan mengopi”. Buku yang ditulis oleh Marie ini saya temukan beberapa hari sebelumnya, tanpa membaca resume nya dan tanpa ada pertimbangan sama sekali, hanya membaca kata tidying up langsung saja buku ini masuk keranjang belanja. Alasannya? Tidak tau.

Buku ini sangat ringan sekali, hanya 182 gram namun konten yang disajikan tidak kalah ringan. Berisikan masalah membersihkan, merapikan, menata dan membuang. Buku ini saya temukan di rak antara buku motivasi dan psikologi. Dari segi manapun kedua aspek ada didalam buku ini. Ringan tapi mengigit, tidak berat tapi menampung sebagian isi dunia, dunia yang kita tinggali sehari-hari ini.

Tidying up, bukan perkara merubah dunia juga bukan perkara menaklukan dunia. Ini hal kecil tentang berbenah, membereskan isi kamar, sehingga tidak akan berantakan lagi hingga seterusnya. Dan siapa sangka bisa merubah hidup seperti yang diujarkan Marie.

“Keep only those things that speak to your heart. Then take the plunge and discard all the rest. By doing this, you can reset your life and embark on a new lifestyle.” – Marie kondo

Konmori; begitu Morie memberi nama metode berbenah yang diciptakannya, yang berasal dari singkatan namanya. Metode ini menuntun kita untuk berbenah dengan melakukan 2 hal utama yaitu, Membuang dan Menata.

Kata membuang mungkin terdengar mudah untuk barang-barang yang dianggap sampah, bagaimana jika barang tersebut bukan sampah, apakah mudah untuk membuangnya? Tentu saja tidak. Butuh keberanian tersendiri untuk membuangnya, seperti membuang baju pemberian orang yang kita sayang namun tidak pernah lagi digunakan selama 2 tahun terakhir. Mungkin dikarenakan sudah tidak muat lagi atau sudah lewat jamannya. Alih-alih dibuang justru disimpan sebagai kenangan atau dalih bisa digunakan lagi suatu waktu. Namun justru ini permasalahannya, ketika barang-barang terus bertambah tanpa ada pengurangan.

Kata kedua yaitu, menata. Dengan barang yang banyak tentu sulit untuk menatanya dan membutuhkan banyak space, bahkan kita lupa memilikinya. Barang yang kita miliki justru harus dipikirkan bagaimana menatanya, seefisien mungkin, dengan memanfaatkan space yang ada dan yang terpenting tidak akan terlupakan.

Setelah selesai membaca buku ini ada beberapa hal yang terlintas dikepalaku. Memang betul ketika sesuatu yang salah terjadi dan kemudian terulang justru akan menjadi sebuah ijin tidak tertulis. Misalnya ketika terbiasa menumpuk pakaian disudut lemari tanpa dilipat, maka akan begitu seterusnya. Lainnya, ketika tempat pembuangan sampah cukup jauh dari rumah kemudian kita melihat ada tumpukan sampah yang dekat, kita akan tergiur untuk membuang sampah di tempat tersebut. Sama halnya dengan kamar yang berantakan, berbenah dengan cara yang benar akan menjaga kerapian kamar sepanjang waktu.

Siapa sangka ketika kamar rapi cara berpikir juga ikut berubah. Dengan adanya keberanian membuang barang yang telah lalu akan membuat hidup nya menatap kedepan. Masa lalu memang ditinggalkan, bekasnya tetap di hati. Ketika kenangan itu telah dibuang tidak berarti apa-apa, tapi ia telah menunaikan tugasnya dengan memberikan kebahagiaan dimasa lampau. Juga dengan keberanian membuang barang hingga hanya menggunakan barang-barang yang benar kita butuhkan dan terhindar  dari pikiran untuk membeli barang yang tidak kita butuhkan, akan membuat hidup lebih tenang – simplicity

Bandung aku redup

Ada jingga dimana-mana, disela oleh kelip putih. Bandung bercahaya, kota ini, bukan lebih tepatnya sebuah cerita. Dikala malam siapa saja akan senang untuk mendaki bukit, mengumpulkan cahayanya dalam satu bingkai. Dingin itu pasti, tak apa ketika warung kopi ada dimana-mana dan mie rebus didalam mangkok pun menggoda. Itu Bandung kota serupa mangkok.

Malam ini tidak biasa. Redup cahayanya lelah api semangatnya. Bandung tidak lagi menjadi lautan api. Ada hati yang sepi meredupkan setiap energi cahaya. Kopi pun lekas mendingin. Mie rebus pun mengembang tak tersentuh. Kemana Bandung yang biasa, tiada kemana, hanya saja tiada menggelora.

Hujan yang dikutuk banyak orang pun entah kemana. Hujan yang membuat atap menjadi tiris, yang membuat jalan menjadi riuh, yang membuat hati menjadi basah. Iya benar hujan yang itu enggan datang. Hujan yang dibenci pun mendatangkan rindu meski banjir mengepal umpat dimana-mana.

Meredup lampu jalanan tertiup angin malam. Kucing bergolek diatas kap mobil mencari hangat seperti kehilangan semangat mengail. Bapak bersarung coklat bermotif kotak bersiap untuk ronda malam ini, sungguh tidak beruntung. Tiang listrik terpukul lemah semua bersekutu menghancurkan malam ini. Semoga maling tiada datang.

Bandung aku redup~

100 – 40

Diantara dua tembok, gang sempit yang hanya muat sebadan. Dua kaki berjalan sempoyongan nyaris lupa diri. Pria yang dulu berkopiah kini nyaris tak sadarkan diri dipenghujung jalan. Menuju pembaringan seolah-olah melupakan hukum Tuhan dimalam menuju pagi.

Esok setelah senja dinanti. Duduk berdampingan bersama diantara tuak-tuak bau. Menanti pria berkopiah lainnya untuk memandikan dirinya dari lumpur, sebelum ajal. Bertong-tong tuak telah diteguk namun tak kunjung jua menghabiskan seisi dunia. Manusia tiada lupa bagimana melawan hukum Tuhannya.

Dua malam menjelang, seorang alim berkopiah bergilir tugas menjemput Ubai keluar dari malam-malam sempoyong di lorong bawah tanah para pengumpul dosa. Alim menolak masuk, mengigil, ini bukan tempat ku untuk bernafas. Ubai bak sabar menanti…

Alim sekarang giliranmu menggantikan aku menengguk tuak-tuak ini. Aku Ubai, waktu ku telah usai. Sekarang kamu yang bergelut diantara mereka – dan kamu bukan mereka…

Kedai tuak dengan 100 pelanggan kini bersisa 40~

Kingkong

Image result for king kong

Kingkong comes to the city, everyone gets worried about him. Tanks appear on every side of the corner, jets shout out load ready to launch the missile. Boom boom and boom, The kingkong is hurt. He is angry and start to hit everything coming to him. Dozen of fighter jets surround him, targeting his heart. Five seconds ahead, he lie on the ground while tear drops before a missile boom on his head. People are getting happy then.

Kingkong did nothing. He just traveled from his forest though, no more forest to live. Just trying to adapt in the building forest, no trees for swinging. But people hates something different. People won’t like a thing that they don’t understand. That is people~