Surat si Gila

img_6077

Aku berkata bahwa kegilaan adalah langkah pertama menuju sikap tidak mementingkan diri sendiri. Jadilah gila, Misha. Jadi gilalah kau dan katakan padaku apa yang ada di balik selubung ” kesehatan jiwa”. Tujuan hidup ini ialah membawa kita lebih dekat kepada segala rahasia itu, dan kegilaan itu adalah salah satunya jalan. Jadilah gila, dan tetaplah menjadi seorang saudara yang gila bagi saudaramu yang gila….” 

–  Gibran –

Advertisements

Jalani Saja

dscf7157
Doc by : @dinihajarrahmah
Pada hari itu, aku bertanya pada Tuhan,

“bisakah Engkau membisikan apa yang harus aku lakukan?”

tiada bisikan, kembali tertidur menanti pagi – menghabiskan hari.

“mungkin esok hari”

esok pun masih sama, ayam berkokok dipagi hari, pertanda kembali ke alam mimpi.
Dunia tiada menginginkan ku, tiada cerita yang harus ku tulis.

“tunggu – Tuhan Maha Mendengar”

Terlelap hingga terjaga oleh tetesan air, langit-langit runtuh oleh tetesan hujan.
Namun tiada bisikan aku harus berbuat apa. Disudut kamar, tambang mungkin sesuai bila dijadikan ayunan.
ayunan leher – ayunan kematian.

“Baiklah Tuhan, mungkin aku harus berjumpa denganmu”

Terlelap, tersadar, apa ini didunia mimpi apa didunia kematian – sama saja.
Seperti berjalan didalam kabut, meraba-raba pintu menuju surga mungkin juga neraka.
Terjal berliku, perih terasa dipundak, langkah kaki yang semakin berat.

Lelah menghantam sekujur badan, sejenak berhenti dihantam badai.
berjalan tiada henti, hingga lupa. Lupa berjalan tanpa henti – tiada berpikir.
Hingga kabut lenyap berganti hijau savana biru langit luas.

“Apa ini surga?”

Dibelakang ku kabut badai menggulung, melintir tulang siapa saja yang melewati.

“Apakah aku dari sana?”

“iya”

“Oooh Engkau Tuhan, Tuhan Maha Tahu”

Jalani saja, langkah selanjutnya berada dibelakang kamu yang diseberang..

Jalani saja~

19 Oktober 16

Image result for kindness
Source : Google.com

Sebuah resume dari cerita kelasik.

Kamu mau dikirimi apa?

tidak ada.

aku udah banyak merepotkan kamu dengan hal ini dan itu. kamu mau apa?

aku tidak suka dengan kalimat barusan.

beneran nih, gapapa kok.

tidak, sedang tidak ingin apa-apa.

Oke kalo gitu, semisal nanti ingin sesuatu bilang ya.

ok.

 

Sebuah dialog tua diwaktu lampau yang kemudian dijadikan cerita dari hasil interpretasi pembacanya.

kebaikan bukan sebuah benda berwujud nyata yang bisa ditumpuk, disusun, ataupun kumpulan tagihan yang harus dibayar.

sebuah rasional yang baik, kebaikan tentu akan dibalas kebaikan, tapi selalu saja ada kalimat kontradiktif “bagaimana kebaikan itu tidak kunjung berbalas, malah dibalas sebaliknya”. Kalimat kedua ini menjadi monster yang menakutkan dan seringkali lebih memengaruhi seseorang. Menjadikan seseorang menaruh kebaikannya dengan lebih hati-hati.

Mau memilih kebaikan sebagai apa, coba kamu pikirkan wahai “aku” ~

Kopi Sobek

Dua hari ini saya melanggar janji (untuk tidak lagi meminum kopi sobek)~

Coba bisikan kepada saya, apakah ada seseorang yang sangat menikmati sensasi yang terdapat didalam kata “menunggu”. Jika ada seseorang saja mari berbagi cerita. Menunggu memang membuat gelisah, tidak hanya menunggu kepastian (ehmm), menunggu gerobak sampah pun sama saja rasanya. Iya sampah, hasil buangan orang lain yang akan saya tampung, akan saya pilah-pilah.

Kemarin hari keempat buat saya mengais-ngais sampah di TPS (Tempat Pembuangan Sampah). Aktivitas yang dimulai sedari subuh ketika orang lain bersih-bersih, saya dan petugas kebersihan berkotor-kotor. Hari pertama tidak banyak yang saya temukan seperti; makanan yang mulai membusuk, kantong-kantong plastik yang berminyak, kotak pembungkus makanan, dan pembalut wanita. Yang terakhir saya sebut lengket disarung tangan, untuk pertama kalinya saya memegang itu dan bekas pakai. Hari pertama terlewati, nafsu makan masih tidak bermasalah.

Saya mulai jatuh sakit – flu. Mungkin ini bagian dari adaptasi di lingkungan baru sebagaimana hal-hal lainnya. Sesampai di TPS, gerobak yang saya nanti tak kunjung datang, saya gelisah setelah 2 jam. Adzan Zuhur berkumandang, masih tidak ada tanda-tanda gerobak kan datang. Bagini rasanya gelisah menanti, gelisah akan sembahyang tapi berasa kotor untuk itu.  Bukan hanya saja, awan pun begitu, sedikit-sedikit panas sekali, lalu rintik-rintik hujan jatuh, kemudian panas kembali. Awan bersama saya.

Duduk di warung, saya minta diseduhkan kopi yang disobek dari sasetan. Saya tidak benar-benar haus, juga tidak membutuhkan kopi apalagi sasetan. Tapi saya gelisah hari itu, dan butuh tempat teduhan karena berdiam di tps bukan pilihan. Setengah jam berselang, gerobak saya muncul, tanpa pikir lama-lama mulailah saya beroperasi. Ketika membuka kantong hitam berisi sampah itu apa yang saya temukan “kumpulan belatung segar”, banyak dan tampak liar. Meski masih semangat menyelesaikan operasi – Hari ini saya mual~

photo_2017-02-02_17-54-51

Saya ingin marah, karena menunggu, tapi urung.
Saya berpikir tentang hak untuk marah, tidak ada.
Saya berpikir tentang kemarahan hanya boleh terjadi di dunia kecil kita (pikiran).
Saya berpikir tentang menghargai orang lain yang telah membantu kita.
Saya berpikir tentang apa jadinya jika semua orang ingin menjadi bos dan tiada lagi yang mau bergelut dengan sampah-sampah ini.
Saya tidak marah, dan mulai menikmati kopi sobek ini.

Hari ini hari kelima, menunggu sudah tidak menjadi soal. Saya kembali duduk di warung dan memesan segelas kopi sobek. Saya mulai mendengarkan pemilik warung yang terlihat sibuk mengantarkan pesenan (dus air mineral) ke pelanggannya di jalan Dipati Ukur. Hanya mendengarkan saja dengan sedikit anggukan dan sedikit tanggapan. Si bapak bercerita bahkan menjelaskan pendapatannya sebulan, sebesar 15 juta. Mungkin karyawan bank BN*I diseberang sana tidak sampai 5 juta perbulan setelah sekolah sekian lama. “Bapak mah sekolah ngan nepi SD kelas 4, hidup yang penting harus kreatif dek”. Itu salah satu kalimat yang dilontarkannya kepada seorang pemuda yang duduk diseberangnya dan kalah kreatif, meski menempuh pendidikan S2.

Saya berpikir lagi, belajar itu hingga mati benar adanya.
Saya juga berpikir tentang, membedakan manusia berarti tidak belajar apa-apa
Saya juga berpikir tentang, dengarkan siapa saja bukan hanya pada PhD atau Prof, aki-akipun gudang ilmu.
Dan hidup harus kreatif karena duduk dibangku sekolah bukan untuk cari kerja tapi untuk cari ilmu

Saya lupa lagi kalau ini kopi sobek~