Tidak ada Janji

Kata-kata yang indah – bernada positif – hingga buah pikiran para filsuf seringkali di tampikan oleh sebagian orang. Dengan berbagai alasan tentunya, seperti; kehidupan tidak semulus kata-kata; hidup ini terlalu keras untuk dijalankan dibanding dikatakan; quote itu bullshit. Dan tidak sedikit juga orang yang senang berfilosofi. Mengais-ngais buah pikiran para pemikir (quote) yang diuntai menjadi kata-kata. Atau dengan sengaja di kutip dikarenakan kata-kata tersebut memiliki dampak perubahan pada kehidupan manusia, perkataan Nabi Muhammad misalnya.

Sangkalan terhadap quote sebenarnya ada dasarnya, disaat telah sekian banyak buah pikiran telah dikumpulkan. Pertanyaan yang seringkali disangkalkan yaitu, seberapa banyak yang telah di refleksikan?

Secara personal, aku menerima segala bentuk buah pemikiran [apapun]. Meskipun akan selalu ada tandensi untuk membandingkan pemikiran-pemikiran tersebut hingga keberujungan keberpihakan. Bahkan perselisahan seringkali dipicu dari hal-hal ini. Hal ini menjadi sangat sulit – kita sangat perlu untuk menentukan batasannya.

Hingga akhirnya aku menemukan bahwa Tuhan sangatlah baik, dengan memberikan dua jenis pikiran; pikiran sadar dan bawah alam sadar. Keduanya berperan dalam mengatur tindakan kita sehari-hari. Jika kita katakan kita lebih sering diatur oleh pikiran sadar kita, tanpa menafikan alam bawah sadar. Alam bawah sadar ini lebih seperti perpustakaan besar yang menampung  informasi yang sangat banyak. Kapan penggunaan informasi tersebut? Dianalogikan, seseorang yang telah berlatih beladiri sekian lama, disituasi yang genting secara tidak sadar akan bergerak tanpa sempat berpikir terlebih dahulu.

Ternyata begitupun dengan quote atau buah pemikiran. Kata-kata dari suaracerita diatas menurutku memiliki kalimat-kalimat yang baik. Seringkali aku jadikan suara penghantar tidur, yang secara tidak langsung tersimpan di memori alam bawah sadar. Hal ini ikut andil dalam mempengaruhi perilaku, semisal recording diatas mengenai “Tidak ada janji” membuatku menaruh perhatian lebih terhadap sebuah janji.

“Maka aku harus jelaskan bahwa aku tidak pernah menjanjikan dunia yang begitu diinginkan banyak orang itu. Aku seperti ini, terserah bagaimana kamu melihatnya.” – Tak ada Janji (Suaracerita)

Ternyata aku sering mengungkapkan kata-kata ini secara tidak sadar, tidak mengutip sama sekali, lalu darimana kata-kata itu datang? Dari alam bawah sadar.

Advertisements

The Broken Wings

Source : Google.com

Selalu menggengam buku kemanapun. Atau selalu terselip diantara celah ransel. Setiap ada waktu untuk berdiam diri, waktu tanpa kesibukan, waktu yang tidak menuntut konsentrasi lembaran buku sebagai kawan. Di bis kota duduk di pinggir jendela setelah memberi sedikit celah untuk lalu angin. Membaca demi beberapa paragraf cukup untuk membuat lelah, pusing, bis berogoyang. Jalanan bertambal disana dan disini seperti penumpang diseberang. Hanya saja tambalan bagian dari gaya berbusana.

Minggu ini, “The Broken Wings” yang ditulis lampau oleh Kahlil Gibran atau Khalil Gibran yang belakangan baru aku ketahui perubahan namanya. Tapi lebih suka dengan Khalil. Satu dua lembar pengantar menceritakan sosok unik, puitis, pemberontak, kufur, dan kontradiktif. Namun hingga hari ini masih dikagumi baik oleh aku ataupun sastrawan.

Satu paragraf menarik tentang sosok guru dan teman pertama Khalil yaitu, ibunya, Kamila. Seorang poliglot yang menguasai bahasa Arab, Inggris, dan Perancis juga menguasi seni musik. Bila kita katakan, tiada Khalil tanpa Kamila dan juga ayahnya, itu benar. Dia [ Khalil ] bisa saja lahir dari rahim manapun. Tapi kita katakan, tiada Khalil, yang aku dan sastrawan kenal hingga hari ini tanpa seorang Kamila. Seorang wanita terpelajar, penuh bakat, lagi cantik jelita, itu dia Kamila.

Dari siapa Khalil mengenal kisah kekhalifahan Harun Ar-Rasyid yang masyhur, cerita 1001 malam, bahkan sosok Leonardo da Vinci. Tentu saja guru pertamanya, Kamila, sosok yang telah membentuk seorang pelukis dan penulis yang di kagumi para sastrawan.

Wanita Modern – 77
” Peradaban modern telah membuat wanita sedikit lebih bijaksana, namun hal itu telah menciptakan penderitaan yang lebih berat baginya karena ketamakan laki-laki. Wanita masa lalu adalah istri yang bahagia, namun wanita masa kini adalah seorang nyonya yang menderita. Di masa lalu ia berjalan dalam cahaya dengan mata buta, namun sekarang ia berjalan dengan mata nyalang dalam kegelapan. Ia anggun dalam kebodohan, berwibawa dalam kebersahajaan dan perkasa dalam kelemahannya. Kini ia telah menjadi buruk dalam kelincahan, picik dan tanpa hati nurani dalam ilmu pengetahuannya. Akan datangkah masanya ketika keanggunan dan pengetahuan, kelincahan dan kewibawaan, serta kelemahan raga dan keperkasaan jiwa, menyatu dalam diri seorang wanita? “
(The Broken Wings – Khalil Gibran)

Ia hadir di masa depan melalui pena yang digoreskannya dimasa lalu. Dengan sebuah paragraf berbentuk sebuah silet yang membuat luka terhadap perempuan. Ia menuliskan karena kecintaanya terhadap wanita. Bagaimana tidak, terlahir dari sesosok wanita yang agung, terpelajar – modern. Dikatakannya modern diciptakan untuk membunuh wanita untuk menjadi istri yang bahagia. Tapi Kamila sesosok wanita yang modern – juga ibu yang bahagia.

Beberapa dekade, wanita tidak dianjurkan berpendidikan tinggi, hanya karena kelak digambarkan ia tidak membutuhkan pendidikan tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga – mendidik anak-anaknya. Dekade itu telah lewat, bahkan wanita sekarang lebih berpendidikan tinggi daripada wanita lampau pun pria hari ini. Membuat tengkuk pria bergidik untuk mendekatinya. Nyonya perkasa yang menderita.

Ironi yang ditelan oleh Khalil demi wanita yang ia cinta. Demi sebuah tanya;
Akan datangkah masanya ketika keanggunan dan pengetahuan, kelincahan dan kewibawaan, serta kelemahan raga dan keperkasaan jiwa, menyatu dalam diri seorang wanita?”
Masa itu hari ini, Khalil kamu harus datang berkunjung pada hari ini, untuk memperoleh jawaban dari pertanyaanmu.

Abaikan kata modern, bukan berarti menyingkirkan kata terpelajar. Ketika wanita tidak belajar dan terpelajar maka tiada lagi Khalil Gibran kelak keluar dari rahim para wanita. Ketika Kamila tidak berlajar dan terpelajar maka Khalil Gibran dilahirkan dari bukan rahim Kamila.

Katakan, siapapun akan merindukan sosok wanita, Kamila, sebagai ibu dari anak-anaknya.

 

Satu kata

photo_2017-01-11_09-40-45

Jejak tiada guna tanpa arah
bukan peta juga bukan kompas
intuisi pun bingung
bentuk serupa menjalar kesegala

Pikiran tiada batasan
seperti awan melingkar meliuk
mengikuti sekitarnya
berimajinasi sesukanya

Lalu jangan biarkan pikiran
membingung sesukanya
berjalan mengikuti jejak yang tak kemana
Bunuh khayalan dengan kata

Jangan pergi dalam diam, berikan aku satu kata..

 

Ibuku Sepertinya Bodoh

wpid-photogrid_1415627786729.jpg

Satu malam berdering lagi telfon ku, tapi buku yang aku pegang enggan untuk diselipkan pembatas bacaan. Arloji menunjukan pukul 7.15 malam, ini waktunya ibu menelpon di waktu yang biasa setelah beliau mengucapkan dua salam kepada Tuhan Yang Maha Esa atau juga setelah mendoakan anaknya kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Aku tidak tau beliau tiada bosannya dan mungkin tiada punya hal lain yang dipanjat kan didalam doa nya, selain anaknya. Bilamana dikatakan bodoh, mungkin juga, setidaknya sekali-kali cobalah berdoa untuk diri sendiri bu.

Tinggal anak ibu dan bang Adil aja nih yang belum mengirimkan surat pulang. Iya bu belum sempat, nama-nama yang harus dicantumkan belum ibu kirim, nanti takutnya salah tulis. Iya nanti ibu kirim. Eh teman-teman ibu yang udah pada pensiun sekarang lagi nyari-nyari ibu dan teman yang lain, katanya pengin kumpul gitu kaya saat muda dulu, reuni.

Kemaren temen ibu bilang gini nak, eh En, tahi lalat di pipinya kemana? Udah diwarisin sama anak saya diiringi tawa saat ibu mengatakannya. Memang di pipi kanan saya ada tahi lalat warisan ibu, tidak besar dan tidak hitam tapi cukup pas lah ditempatnya. Eh ngomong-ngomong anak Eni dimana sekarang, udah nikah? Anak saya yang kecil sekarang lagi kuliah di Universitas [lupa namanya]. Nah pertanyaan teman ibu itu mancing banget, ibu tolong jangan sampai salah ngomong yah, nanti jadi janji kan berabe bu. Iya nak, ibu mah senyum-senyum aja, ga mau ibu maksa anak ibu lah. Doa ibu mah yang terbaik aja buat anak ibu. 

Tau ga sih bu, aku kuliah bukan buat nyari kerja bu tapi biar bisa reunian haha. Kan gitu bu kalo kita ga sekolah kan ga bisa reunian, lagian kalau pengen nyari uang mah ga usah sekolah yang tinggi juga kaya pak H. Buy, juga bisa punya banyak uang dan bisa bantu banyak orang bu. Tapi ga bisa reunian hehe, makin banyak sekolahnya makin banyak reuninannya bu. Ah kamu, cape-cape  ibu sekolahin kamu malah buat reunian terdengar ketawa beliau di balik speaker telpon. 

Obrolan sama ibu menjadi loncat dari sana ke sini, tentang presiden – hutang – tentang menjadi kaya – dan tentang membantu orang lain. [ff x4]

Menjadi kaya belum tentu juga bisa bantu orang lain ya ga sih bu. Mungkin saat kita tidak punya, kita membantu orang sedikit, dan punya hasrat jika diberikan lebih mungkin dapat membantu orang banyak. Disaat menjadi kaya, belum bisa dipastikan juga kita mampu membantu banyak orang ya kan bu. Iya nak, kaya – miskin, punya cobaan dan rintangan yang sama. Begini juga sudah bisa bahagia ya nak.

Beliau bercerita punya hutang disana dan disini, lalu dibayar disana, muncul lagi disini. Tapi anehnya beliau masih bisa bilang, sodara kita yang ini kesusahan nak kasian. Nenek yang ini juga sulit hidupnya. Adek ibu yang ini ga bisa ibu melepaskannya.

Aduh ibuku, kapan pinternya sih. Selalu saja memperhatikan sekitar yang lebih susah tanpa sadar ibu juga tidak lebih ringan dibanding sekitar.
Aduh ibu, doakan dirimu sendiri sebelum orang lain.
Se-sederhana itu saja sulit bagimu.
Mungkin karena ini kebodohanmu ini, jadi menurun kepada ku.

Tapi tak apalah bodoh juga beliau ibuku jua
mungkin buat dirinya menjadi tak punya tidak ada bedanya dengan punya segalanya.
Ibuku sepertinya memang bodoh~