P.K

Tidak ada suara hewan,
tidak ada suara lalu lintas,
tidak ada suara dunia ini yang terekam
semua tentang suara yang tidak diakuinya, hanya ada puisi

Ia pergi tak menengok sama sekali,
mungkin ia berusaha sembunyikan air matanya
dia belajar sesuatu,
dia juga mengajarkan sesuatu

Ia belajar untuk berbohong
apa yang ia ajarkan?
arti cinta yang sebenarnya
cinta yang cukup untuk merelakan

PK~

Advertisements

Paradox of Choice

Sometimes i find myself in a supermarket in front of a lot of different types of snack, and i waste a lot of time just standing there having no idea what to pick.

It’s recognizable as “The Paradox of Choice”

All the different choices are supposed to make me better off, but they can cause paralysis and actually make my worse off. The fact that some choice is good doesn’t necessarily mean that more choice is better.

Now i write several example example according to a book ” The paradox of choice – Why more is less” authored by Barry Schwartz. I recommend you read this book, i suggest only this book at this time so you have no confusing time to choose.

So let’s take a look at a study very briefly where a producent were trying to promote an high-quality jams. There two different experiments. In experiment one, they offered 24 samples. Experiment two, they offered only 6 samples. Well, the large number of samples attracted more people, but in both cases, people tasted the same number of jams on avarage.

What happened when it came to buying?

There was a huge difference. Only 3 % of the people who were offered 24 jams to sample from went on to buy the jam. However, 30% of the people who were offered only 6 jams to sample from went on to buy the jam. That was a huge difference.

And let’s take a look at another example and make it even more personal. “Hey can you please make a reading list of your favourite books”. I’ll definitely make it at some point, but let’s take a look at what most people’s reading list look like. Some people literally put like 200 books on it. Now when we take a look at that, most people are just going to be paralyzed. There’s too much choice, what if we pick the wrong book.

It’s really hard to pick, so guess what we’re probably going to do? Not pick anything

Now let’s talk about how we can use this if we just want to make our life better. Our number one priority is to avoid paralysis. This morning i’d get up and i wasn’t really sure what i wanted for breakfast. The amount of food in my fridge could be probably make combination breakfast. I want all of the, but i was breakfast alone, just forget it and i need to choose. So there were times when i literally spent 10 minutes figuring out what i was going to have for breakfast. I was really exhausting due to 10 minutes alone. I was wasting a lot of time.

It was never happened when i have the same thing almost every morning, wheat bread and nutella jam. There are certain  morning where i don’t and i just screw around and make a mess in the kitchen, but that’s cool because that’s what i want, a simplicity. This isn’t about not enjoying things. It’s about enjoying things even more.

I’ve turned something that wasted my energy and time into something that is super easy where i don’t have to be paralyzed, and where i can dedicate that time and energy to things that are more important and enjoyable than figuring out what i’m going to eat for breakfast.

Choosing well is especially difficult for those determined to make only the best choices and sometimes choice can make us suffer. It asks whether increased opportunities for choice actually make people happier, and concludes that often they do not.

It also identifies several psychological processes that explain why added options do not make people better off: adaptation, regret, missed opportunities, raised expectations, and feelings of inadequacy in comparison with others.

Now i understand things like why Mark Zuckerberg wearing the same t-shirt all the time. Or the big coffee shop like Tanamera and Anomali coffee serves only two or three coffee beans each day and taking turns it during a weeks, in addition to keep freshness of the bean.

“It’s why more is less”

Street Photography

S t r e e t 
P h o t o g r a p h y


Street   noun  \ stri:t \ : a thoroughfare especially in the city, town, or village that is wider than an alley or lane and that usually include sidewalks

Pho.tog.ra.phy   noun  \ fə-täg-rə-fē  \  : the art of process of producing images by the action of radiant energy and especially light on sensitive surface.

Street Photography  is a type of documentary photography that features subjects in candid situations within public places such as streets, parks, beaches, malls, political conventions and other things.

Street Photography uses the techniques of straight photography in that it shows the pure vision of something, like holding up a mirror to society. Street photography often tends to be ironic and and can be distanced from its subject matter, and often concentrates on a single human moment, caught at a decisive or poignant moment.


Expression
A visual expression through emotions shown face

img_0866-3 img_5113 img_1245-3img_1714

Peminta Tua

 

Dilorong sempit menuju kantor seorang peminta tua yang sering terabaikan kali ini menarik perhatiannya. Dia pikir sesekali tidak apalah memberi selembar ribuan kepadanya, tapi tidak untuk menjadi rutinitas.  Terlalu banyak pertanyaan tentang peminta tua ini, apakah dia layak menerimanya, apakah dia tidak menipu kita, apakah membuatnya menjadi pemalas dengan memberi terus menerus. Pikiran ini terus terlintas dikepalanya meski sesekali tetap memberi, tak apalah sesekali.

[Dia] Seorang pekerja kantoran disela kejenuhannya menyelesaikan tugas manakala menjelang tenggat waktu. Menonton sebuah iklan Heartwarming  sembari menikmati red velvet yang dibelinya ditoko cake seberang kantor. Seringkali menonton sebuah iklan menjadi hal yang menyenangkan buatnya, dikala lelah, cukup menonton dengan tatapan nanar.

Tepat didetik setelah iklan berakhir, sang pekerja bertanya, apakah ada manusia seperti itu?

Dihari yang lain ketika melewati lorong sempit  ia menyiapkan lembaran untuk peminta tua. Kemudian meneruskan perjalanan menuju kantor, tanpa bertanya. Esok hari ia melakukan hal yang sama, hingga suatu hari ia masih menyiapkan lembarannya namun tidak menemukan peminta tua. Menoleh kian kemari mencarinya, tapi tidak ada.

Termangu ia didepan layar kerja seolah ada perasaan kehilangan, tiada peminta tua hari ini.

 

Pesan Singkat

img_7779

 

“Kopi armor katanya udah tutup yah karena tidak memiliki izin bangunan”

“Tapi nemu kopi armor yang lain nih dijalan legok randu, kesana yuk”

“yuk,siap-siap dulu”

“dinanti di kosan ya”

 

Sesingkat itu pesan  ajakan untuk pergi ngopi yang siapa sangka nanti menjadi obrolan selama 12 jam. Pesan dari seorang yang kawan yang juga menyukai kopi. Kita berdua baru belajar menyukai kopi. Kita yang mengobrol mengenai kopi, berselang pendapat mengenai rasa kopi seolah-olah tau banyak. Tapi kita baru berlajar mengenal rasa kopi.

Seperti di hari yang biasa datang menghampiri, selang 10 menit kemudian menyeduh kopi. Satu jam kemudian menyeduh kopi yang lain. Berbicara tentang rasa yang jika dipikir-pikir kembali, kita tidak benar-benar tau apakah rasa itu benar. Kamu bilang ini rasanya spicy seakan ada sensasi pedas, aku bilang tidak ada pedas disana hanya sedikit pahit dan sedikit asam. Seperti obrolan kosong yang perlu divalidasi kita bilang. Sayangnya diantara kita tidak ada yang merasa benar.

Kita duduk di kedai kopi yang desain nya serba kayu ini. Tidak terlalu ramai juga tidak pula sepi, setidaknya disetiap meja dan bangku yang tersedia telah terisi oleh pantat penikmat kopi. Tempat yang jauh dari kota, sedikit terpencil dengan masih banyaknya pohon-pohon dan jalanan yang tidak terlalu bagus. Hal ini menjadi indikasi suatu tempat yang tenang. Armor kopi, aku suka.

Dengan pesanan untuk yellow caturra dan cikajang.

Kopi habis tiada obrolan yang bersisa karena hari masih terang menjelang beberapa jam menjelang senja. Namun hujan tiada sabar untuk bertumpah ke bumi. Bukan untuk berlama-lama seperti mereka yang membutuhkan tempat bercanda, kita hanya menghabiskan kopi kemudian pergi. Karena senja menjelang dan hujan siap menerjang.

Hujan meruntuh biarlah roda tetap berputar, kita duduk diseberang penyeduh lainnya yang berjarak hampir 10 km dari penyeduh sebelumnya. Berharap dapat menikmati segelas kopi hangat lainnya ketika senja menjelang dalam hitungan menit, pun menghantam dingin nya kota ini.

Kali ini secangkir kopi sindoro dan manglayang tersedia.

“Kamu tau tidak, aku ingin tau apa yang akan terjadi di tahun 2024”

“Dua periode presiden lagi”

Dan ini diakhiri dengan mendengar podcast mengenai cerita Siti Aisyah ra yang mengantarkan masing-masing dari kita kedalam kelelahan menjelang subuh.

Obrolan seperti apa hingga 12 jam lamanya?
Entahlah…

” Secangkir kopi dan kawan yang tepat untuk sesuatu yang tidak kita mengerti “