Dibalik Jendela

IMG_5169

Kamu tahu apa yang aku lihat ketika menatap keluar jendela? Ooh sebelumnya maafkan aku tidak mendengar saat kamu memanggil.

Aku melihat menara tinggi menjulang berlatar langit biru dan awan pekat namun putih bersih. Menara mesjid yang sehari-hari menyerukan orang untuk menyembah-Nya. Perlahan bangunan satu persatu pergi dan muncul kembali. Sebagian dari mereka ada yang beratap seng biasa, ada satu dua muncul dengan “gonjong”, atap khas minang menyerupai tanduk kerbau. Dan ketika semua dari mereka lenyap, hanya pematang sawah berhektar-hektar terbentang. Mungkin belum musim panen, masih hijau kata mereka, belum dewasa dan belum matang.

Jauh lagi diseberang sana terlihat hutan, bukan, perbukitan. Mereka seperti mengikuti, tak lelah mengiringi perputaran roda mobil ini. Mereka seperti tiada habis nya, bergelut dengan gumpalan awan yang hanya berjarak beberapa senti dari tengkuk mereka. Aku suka hanya untuk melihat mereka.

Ooh iya, sebenarnya hanya sesederhana itu alasan ku untuk menatap keluar jendela. Menikmati apa yang aku sebut kampung halaman.

Advertisements

Senjata Ditangan

IMG_9153-2

Menunggu yang lembut hatinya. Dibawah rindang pohon terasa sulit untuk menemukannya. Terhalang segarnya nafas udara. Berlebih sesak didada, terasa terlalu penuh.

Menemukan yang halus perasaannya. Diantara gersangnya gurun. Membakar setiap jengkal permukaan dikala terik siang. Tiada oase, hanya fatamorgana.

Merindu yang teguh imannya. Dibalik tingginya semak belantara hutan. Diselimuti lumut sedemikian basah. Hingga bernafas pun terasa sulit. Hanya bersabar dalam berjalan, senjata ditangan.

 

Bukittinggi, 17 Juli 2016

 

 

Jalan yang mana?

Akan memilih yang mana diantara dua jalan, lurus dan berkelok.

Seperti malam ini, jalan lurus tiada kelokan berarti apa lagi tikungan. semua nya terlihat bagai sebuah penggaris berhias lampu. Mungkin begitu arsiteknya merancang jalanan ini sesuai konturnya. Dan dengan penuh harap menghantarkan pelintas nya lebih cepat beristirahat diatas bantal mereka.

Lain lagi dengan jalan menuju rumahku dari Bandara, banyak lurusnya tapi tidak sedikit juga belokan bahkan tikungan yang terdapat plang mematikan persis pada beberapa sudut. Dan sebagian orang mungkin tidak suka dengan jalanan seperti ini, bikin mabuk katanya.

Jika disuruh memilih yang mana, aku bingung. Jalanan lurus mungkin terlihat enak, tetapi ada ego yang besar disana. Ego yang ada disetiap pengemudi dibalik setir mobil atau setang motor. Ego untuk memacu tunggangan mereka dengan lebih cepat, menyalip para lambat didepan mereka. Sembari menghitung kecepatan dan menganalisa kendaraan dari arah sebaliknya. Semua tentang probabilitas dan ego tentang sesuatu yang jelas dan terlihat.

Disisi lain, jalan berkelok memiliki sensasi tersendiri untuk mengeluarkan naluri hati-hati dari seorang manusia. Sebuah naluri yang berasal dari keinginan bertahan hidup. Menganalisa setiap kemungkinan yang ada di balik bukit, jurang yang menganga, diantara tikungan. Semua tentang sesuatu yang tidak terlihat, akankah ada kejutan dibalik sana.

Akhirnya, aku pikir kita tidak harus memilih jalan yang mana, semua dikelilingi resiko nya sendiri, dibungkus cerita nya masing-masing. Hanya untuk satu tujuan, kembali memijakan kaki di atas tanah, karena-Nya.

Begitu Memoir

IMG_3093Menjelang tengah malam ada sebuah pesan masuk dari seorang teman, begini kira-kira isinya “Di abis ngorek blog lo nih gw, baper liat postingan ke Malang”.

“Nyasar 8 hari di bulan Ramadhan” itu judul tulisannya, siapa sangka hingga selarut ini aku nyasar didalam sebuah memori kenangan.

Atas nama memoir, obrolan meluncur begitu saja seperti sebuah roller coaster. Meluncur begitu saja, meliuk-liuk di aneka trek Memberikan sensasi deg-degan pada jantung, tentang apa lagi sensasi yang akan timbul dari trek yang disuguhkan. Berbicara tentang kebodohan di masa silam, tentang pemandangan indah yang dinikmati bersama, dan hal-hal kecil yang dapat mengundang tawa.

Entah kenapa ya cerita usang yang digali kembali secara tidak sengaja seperti memiliki magnetnya tersendiri. Mungkin untuk alasan ini pula Reunian, baik dengan kawan kuliah, sekolah, atau seperjalanan, reunian akan selalu ada hingga kapanpun dan dirindukan. Kalau Pidi baik berkata ” tujuan aku kuliah agar nanti bisa ikut reunian”. Menarik keluar memori yang mungkin telah berdebu dan tertimbun diantara memori yang diperbaharui setiap waktunya. Bahkan mempertanyakan cara waktu bekerja, yang tidak terasa telah berjalan dengan sangat kencang meninggalkan sebuah memoir sebagai jejak masa lampau.

Hmmmm, mungkin tidak ada salahnya disaat waktu muda ini kita melakukan berbagai hal, meski, untuk sebagian orang hal tersebut merupakan suatu kebodohan karena tak lazim dan di luar jalur. Namun, selama jalur yang kita tapaki tersebut  tidak menghantarkan kita berhambur ke dasar jurang, percayalah kelak pengalaman itu akan membuat kita kaya, dan ceritanya memberikan kita sebuah senyum, bahkan tawa kelak.

Dengan memahami hal ini dapat memberikan suatu energi untuk berjalan dengan menatap kedepan secara positif. Pengalaman yang baik atau buruk kelak akan menjadi sebuah memoir. Dengan mengerti hal ini pula kita belajar bagaimana seharusnya bersyukur bahwa masa sialam adalah sebuah catatan kehidupan, sebuah pengingat juga rambu-rambu hidup.

Mungkin begitulah cara memori bekerja ~