It’s Blind

I am gonna tell you the truth about love

It is truly blind, when it comes to you.
Whisper into your heart that all you need is a real stick and a warm hand to be grasped.
When you get it, don’t let it go.

IMG_5148

And when you tell me love isn’t enough to blind you
At the end, you aren’t falling enough in love…

Memiliki moment

Aku pinjam ungkapan Gede Prama tentang “moment dan menyalahkan”

Jika seseorang menyalahkan orang lain, ia perlu balajar
Jika seseorang menyalahkan diri sendiri, ia mulai belajar
Jika seseorang berhenti menyalahkan, pembelajaran usai

Memiliki sebuah moment itu pasti.

Berbicara tentang moment itu seperti berbicara tentang menjalani sebuah lomba maraton. Lomba yang harus ditempuh dalam jarak yang panjang. Dalam hal ini bukan hanya tentang waktu yang menjadi prioritas dalam menyelesaikannya, tapi tentang bagaimana menyelesaikannya.

Setiap memulai perlombaan akan diiringi suatu hasrat dan semangat. Seiring berjalannya waktu berbagai hambatan mulai datang, diawali dari kelelahan pada otot kaki, cuaca yang terkadang tidak mendukung, hingga pada puncaknya terjadi pertarungan hati dengan pikiran. Ketiga hal ini seringkali menjadi faktor untuk menyelesaikan pertarungan, apakah di garis finis atau, antara garis finis dan start.

Mencintai sebuah moment itu pilihan

Sebagaimana lomba maraton dimulai dengan perasaan menggebu. Kita katakanlah itu sebagai awalan yang positif hingga dia menemui rintangan nya. Perlahan satu persatu mendistraksi tubuh hingga menusuk ke pikiran, lalu apakah positif akan tergerus hingga berubah menjadi negatif. Seringkali kita mengalami hal ini dalam hidup. Menganggap sebuah rintangan adalah sebuah ujian yang mesti dihindari, setidaknya sesuatu yang harus diselesaikan secepat mungkin. Tapi siapa yang tau hambatan itu adalah bentuk dari moment tersendiri yang mungkin saja akan kita cintai dikemudian hari.

Ketika moment tidak lagi dipilah

Kita anggap moment itu representasi dari nilai positif dan ujian sebagai representasi dari nilai negatif. Bagaimana jika kita tidak mengasumsikan keduanya secara terpisah, namun menggabungkan keduanya, baik bernilai positif atau negatif sebagai satu moment yang utuh. Sebagai suatu hal yang telah membangun diri kita hingga didetik yang sedang berdenting tak berhenti ini. Sebagai suatu hal yang merepresentasikan diri kita.

13417457_1024797090931752_6839240438557735402_n
Source : google.com

Ada satu pelajaran yang diungkapkan oleh Om Bob Sadino yang menurutku sangat dalam artinya. Di analogikan dalam tiga lingkaran :

  • Pertama lingkaran HITAM-PUTIH:
    Lingkaran ini mencakup akan logika dan cara berpikir. Berisi tentang keseimbangan antara hitam dan putih. Segala hal berdiri dan mengakar kuat di satu sisi, salah dan benar, siang dan malam.
  • Kedua lingkaran ABU-ABU:
    Ini lah bagian dari sebuah hati dilingkupi kebijaksanaan, moderasi dengan melihat pada dua belah sisi, ketika orang melihat sebagai kesalahan orang ini mampu menemukan sisi kebenaran atau sebaliknya. Dia mampu mengambil sisi positif dari kejadian yang dialaminya. Ku pikir dilingkaran inilah pandangan ku mengenai moment itu sendiri
  • Ketiga lingkaran KOSONG:
    Seolah kosong tetapi sebenarnya penuh isi dan tidak hampa, memiliki logika sendiri alias otonom, karena tempatnya iman, kepercayaan dan keyakinan. Tingkatan ini memiliki tempatnya tersendiri, ketika berserah dan mempercayakan moment itu sendiri sebagai sebuah takdir.

Dari aku yang telah memiliki moment dan aku yang belajar mencintai setiap moment yang ada.

The man in the cage

Chained in between the three sides of the wall
Glued straight staring at the bars were a little rusty
Dim lit torch lights the night
Burnt hot my back in the morning and afternoon sun

In a little time to sharpen the senses
Closed eyes, breath bated, ear whack
Each floor friction pushed every inch
Thrilling sound that echoed the feelings

Visible length of the face with a smile hanging
Bring a clink, not strange
I’m waiting for the sound of approaching me
During this time I have been waiting for, my prison key

Long lost smile back
Even in the shadows was not
But who would have thought, you push me back
Longer chained themselves to freezing

 

Solitude is matter, and
Solitude is bliss..

Dingin Gunung

Pagi ini mendadak terasa lebih dingin dari biasanya, padahal disudut kanan layar menunjukan pukul 09.11 waktu Bandung. Aku duduk di salah satu kursi meja bundar, menantang hembusan nafas teratur pendingin ruangan, pantas saja dingin.

Hingga saat ini aku tidak pernah menempati daerah yang panas dalam waktu yang lama, kurang dari 6 bulan. Sisanya hidupku selalu berada di daerah dingin, katakanlah Bukittinggi dan saat ini Bandung. Namun begitu, ketika bertemu dingin selalu saja ada perasaan tidak nyaman. Perasaan lemah terhadap daya tahan tubuhku yang terbilang cukup mengkhawatirkan. Dan seringkali aku membayangkan, bagaimana bila aku berada di daerah bersalju atau daerah yang musim panasnya pun masih terasa sangat dingin atau daerah yang kemunculan mataharinya  sangat dinanti-nanti. Mungkin hal inilah alasan mengapa aku terlahir di Indonesia, aku beruntung.

Dingin pantang dilawan
Dingin sulit untuk dikalahkan
Jika tidak maka akan menggigil karenanya
Jika begitu cobalah berteman dengan nya

Kalimat-kalimat itu selalu aku bisikan dipikiranku ketika mendaki gunung. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, hanya saja aku belum menemukan gunung yang hangat, semuanya dingin. Memang begitulah gunung, tempat yang menjauhi permukaan laut. Semakin menjauh maka semakin dinginlah kemungkinan, bahkan pada suatu ketinggian tertentu dia akan berselimut salju.

Dingin yang dihembuskan oleh nya selalu berbeda setiap waktunya, setiap musimnya. Dingin yang dapat membuat siapa saja menggigil karenanya. Dinging yang tidak pernah memilih kepada siapa dia bernafas. Terkadang tidak mau berkompromi, lalu membunuh siapa saja yang tidak pernah siap. Memang kejam, tapi begitulah dingin gunung menjalani hari-harinya.

Dingin yang diberikan oleh gunung, dingin yang berlaku pada siapa saja. Rasa yang akan menggila pada siapa saja yang mencoba melawannya. Rasa menyiksa terasa ketika mencoba meremehkan dirinya.

Dibalik itu semua, dia mengajarkan apa arti rasa hangat pada orang-orang yang menerimanya apa adanya. Rasa hangat yang tercipta dari suatu perasaan yang sama ketika merasakan dingin itu sendiri. Dan itulah alasan mendaki gunung menjadi kegiatan yang hangat bagi orang-orang yang mengerti mengapa gunung itu harus dingin.

Yaitu untuk menghasilkan kehangatan di hati, gunung tidak pernah mengecewakan untuk hal ini ~

 

Menjelang Senja

Aku sedang memikirkan apa yang akan kutulis. Aku merasakan angin menyapu tengkuk ku dengan pelan, dingin. Gemuruh yang entah dibagian langit mana terus saja berteriak menakuti setiap anak kecil disudut kota ini. Kilatnya saling bersautan satu sama lain, berselang seling dengan nada minor yang tetap. Suara daun berguguran jatuh menghantam atap ku bernanung. Helai demi helai tertiup angin jatuh mencium tanah, mesra.

Dahulu sekali jauh sebelum aku duduk disini, pernah ku dengar orang-orang tua mengatakan bahwa ketika dikala senja hujan turun membasahi bumi merupakan salah satu pertanda bulan suci telah datang. Tentu, kurang dari dua jam lagi aku yang duduk ditempat yang sama, namun di bulan yang berbeda, bulan suci Ramadhan.

Sesaat memikirkan kalimat apa lagi yang akan kutulis, hujan turun. Membasuh rindu ku yang beberapa saat lalu menutup hatiku yang sekian lama telah membeku. Aku beritahu, sebelumnya aku tidak menyukai hujan, mereka membuat ku sakit, mereka seringkali menghalangi langkah-langkah ku. Aku hanya tidak suka basah, itu saja. Namun sekarang aku mengerti, kala hujan, kala aku bisa memanjatkan doa yang mungkin dapat menggetarkan singgasana-Nya.

Hujan..
Hujan dikala senja..
Hujan dikala senja menjelang Ramadhan..
Dalam diam doa tanpa kataku untuk-Mu.. 

Dari lubuk hati yang terdalam dari aku yang melihat dunia berbeda dari satu tahun yang lalu ingin mengucapkan maaf kepada semua hati yang telah bersilang dengan ku, sepanjang usiaku.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat Memenuhi Hati dengan Kebaikan dalam Berkah Bulan Ramadhan

Dibawah Naungan Hujan
Bandung, 05 Juni ; 16:38