Cerita Aku dan Dia (II)

Sekarang aku jatuh cinta padamu kemarin, hari ini, juga hari esok. 
Ternyata cinta bukanlah perkara penampilan juga bukan perkara rasa.
Dia adalah sesuatu namun bukan penjelasan juga bukan alasan
Cinta karna belajar dan Cinta karena keingintahuan dan Cinta karena terbiasa.

(Disambung…)

Bandung, Mei 2016

Entahlah apakah hari ini hari yang tepat untuk meneruskan ceritaku. Sebuah cerita yang akan mengungkapkan siapa kamu. Tetiba saja membuka satu halaman kosong ini disaat ruangan ini, yang mereka sebut sebagai perpustakaan, yang jarang sekali suara raungan pendingin ruangan terdengar lebih sangar dari suara manusia yang ada didalamnya. Disudut lain dari ruangan ini terdengar suara familiar, gesekan kertas-kertas, sepertinya ada seseorang yang sedang mencari sesuatu didalam sebuah buku. Pasti ada perlunya atau juga gundahnya akan tuntutan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Suasana tenang ini jika boleh aku sebut sebuah bahagia, anggap saja begitu. Dikebetulan lainnya tenggorokan ku sedikit lebih kering dari biasanya.Pertanda kurang cairan yang menggorong melewatinya atau juga pertanda segelas yang aku seduh dua jam lalu telah menyerapnya, meski tidak hingga keriput. Maafkan aku untuk sebuah prolog yang terlalu panjang, bahkan aku lupa aku harus melanjutkan cerita tentangmu.

Tentang cinta ku kepadamu hari ini.
Tentang cinta yang telah dimulai dari bertahun yang lalu.
Tentang cinta yang aku sadari untuk terus belajar mengenal mu.
Untuk apa, untuk cinta itu sendiri. 

Dua tulisan tentang kamu ternyata hanya diakhiri dengan sepotong kalimat setelah ini,

Dari aku yang mulai mengenalmu belum lama ini, dan jatuh cinta.
Terima kasih untuk seduhan mu dan untuk pahitmu, Kopi~

 

Advertisements

Ditertawakan pagi

IMG_6243-2

Inilah ujungnya dimasa kita bisa menertawakan diri sendiri dalam sepi. Lupa akan seseorang pun yang berdiri diantara, memang sepi disini. Inilah dimana jemari dapat bebas bergerak tanpa terbentur dinding bernama ide. Pagi yang sangat indah untuk tertawa, demi siapa, demi diri sendiri, demi keadaan, dan demi Tuhan yang begitu adil.

Kata terangkai menjadi sebuah kalimat kutukan tidak berlaku detik ini. Diantara pancaran langit dalam riak awan terlukiskan biru, tetapi tetap saja sendu. Meski, tiada lupa, meski tiada diingat, cukup tertawa saja dan teruslah menulis bait demi bait. Mengeluarkan gumpalan asap yang ingin berteriak menembus benak melumpur menarik dalam. Ingin berteriak tapi dalam kata.

Sebentar lagi kita akan meledak hanya menyisakan tulang belulang bercucuran merah, hanya terjadi dalam tak terkendali. Tapi aku tidak akan begitu, tertawa saja, karena dua hari istimewa tidak berharga dan akan terlupa jikalau tidak begitu. Lalu, bolehkah menyerah, tentu, tapi jangan melupa.

Terima kasih langitku, senyum diantara gertakan dua putih. Selamat tinggal itu bukan akhir tapi awal, Karena langit memberi isyarat dimana kamu harus ku jemput dan bumi dimana aku menunggu.

Lantunan Dibawah Hujan

Malam menghantarkan pada kesepian.
sesosok enggan melintas di gelap malam, bayang tinggal dipikiran.
semakin pagi buncahlah semua rindu. – Hujan

Saat cucuran dimana-mana raja untuk berselimut,
enggan untuk keluar, tiada bertambah pengalaman baru. – Hujan

Kering tak ada beras tuk disuap,
Tak kering beras basah lalu hanyut mengalir mengaburkan diri. – Hujan

Langit pecah, prang.
Dada berdesir, jutaan kubik berhamburan tanpa permisi. – Hujan

Tentang Berlari

IMG_4702-2

Sore yang mendung ini aku memiliki kesempatan untuk membuka segel buku yang di tulis dengan hati oleh Haruki Murakami, “What I talk about When I talk about Running”. Tentu saja ada ketidaksabaran disana setelah penantian hingga Ujian Akhir  Semester yang melelahkan ini hampir selesai dengan sempurna. Dan juga dengan harapan yang kupikir tidak sesempurna hasilnya nanti. Hanya dengan membaca prakata nya saja sudah membuat ku berhasrat untuk memulai berlari kembali, juga untuk tulisan ini.

Aku teringat sesuatu yang memaksa ku untuk menuliskan nya segera, karena ingatan seperti ini cepat sekali menguap seperti senyawa volatil yang tidak pernah menunggu temperatur memuncak hingga ke ubun-ubun, cepat sekali hilangnya. Didalam halaman kedua, Murakami menuliskan bahwa “Tidak masalah sekecil apapun tindakannya, jika terus dilakukan, hal itu akan bermakna kontemplatif, atau bahkan meditatif, Tentang Berlari”. 

Jika dipikirkan kembali benar adanya, berlari adalah media kontemplasi yang baik, aku sepakat dengan hal ini. Sebenarnya ada media lain yang aku senangi yaitu dengan bermain di dan melakukan sebuah petualangan di alam, dan naik gunung tentunya.

Namun, sayangnya hal ini tidak dapat aku lakukan setiap saat, dibutuhkan persiapan dan waktu yang cukup. Hal lainnya yang terpikirkan olehku adalah, kebiasaan ku untuk “Bengong”, alih-alih berkontemplasi, media ini justru membawa aku untuk berimajinasi dan berspekulasi dan itu sangat melelahkan buat ku terkadang.

Kurang dari lima menit untuk menuliskan ide singat ini, dalam keadaan subconscious.  Jika boleh mengutip satu kalimat lagi dari buku ini halaman 6, “ Aku selalu berhenti pada saat aku merasa  dapat menulis lebih banyak”. Sangat menyenangkan ketika menulis dibawah alam sadar, tidak melelahkan, tanpa harus berpikirkan keras akan plot alur tulisan dan juga ide yang muncul meruah buncah seperti teko yang terus mengalir ke dalam gelas yang mulai tumpah.

Aku akan berhenti didalam filosofi untuk berhenti ketika kita di puncak tidak tamak, dan besyukur demi kesinambungan pikiran yang lebih tenang.

Berguru kepada-nya

IMG_5792-2

Kenapa kamu menegak kopi, meski tau rasanya pahit?

Karena aku tau dia adalah guru yang paling baik tentang makna.
Dari satu tegukkan, mencitra banyak rasa.
Untuk satu tegukkan banyak cara.
Untuk satu hal lain, pahit nya tidak pernah disembunyikan.

Berguru kepadanya, artinya belajar untuk jujur dan belajar untuk mencintai diri sendiri~