Sangka Berbaik

Perpisahan adalah sebuah kisah temporer. Hanya sebagian kecil cerita dari perjalan yang dirundungi ruang dan waktu. Perpisahan bagi sebagian besar orang terasa menyakitkan, dan sebagian lain sangat menyakitkan, dan hanya sebagian kecil yang mengerti dalam kelapangan hati.

Hari ini katakanlah sebuah perpisahan antara aku dan kamu, karena itu aku bercerita kepadamu tanpa kamu sadar itu adalah pesan.

Berbaik sangka lah pada keadaanmu,
Berbaik sangka lah pada pikiranmu, dan
Berbaik sangka lah pada takdirmu

Hal ini bisa saja menjadi bekal yang baik untuk mu dikemudian hari, percaya saja dan berbaik sangkalah.

Aku sudah menduganya, kamu akan berkata sedih. Hal yang wajar karena itu kata yang lumrah dalam sebuah perpisahan. Tapi Ingat lah Aku ketika kamu bertemu dengan Hujan. Ingatlah Cerita ini ketika kamu kehujanan. Dan ingatlah Hujan adalah anomali dari Bandung.

Untuk teman ku yang akan berlayar jauh, Tia ~

Dari Chief yang super sweet…

Advertisements

Bingung atau Bengong

bengong/be·ngong/ v termenung (terdiam) seperti kehilangan akal (karena heran, sedih, dan sebagainya);

bingung/bi·ngung/ a  hilang akal (tidak tahu yang harus dilakukan)

Itulah definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,  untuk kata “Bingung” dan “Bengong”. Jika dipikirkan baik-baik darimanakah asal kedua kata tersebut, tentu jawabannya akan membuat kita bingung. Kemudiang bengong akan siapa sih, yang dahulu sekali mengejawantahkan kedua kata yang berawalan dari huruf B ini. Jika kita pikirkan lagi kenapa suatu kata dapat terlahir hingga memiliki makna, tentunya kita akan bengong kembali karena memikirkannya hingga bingung tidak menemukan jawabannya.

Seseorang yang menciptkan suatu kata, cenderung dari ketidaksengajaan, kemudian diucapkan berulang kali hingga menjadi candu. Kata yang keluar menjadi kebiasaan terhadap suatu momen tertentu. Lalu setiap telinga yang mendengar, menjadi terbiasa, memaknai-nya sebagai perwakilan terhadap suatu kejadian. Tanpa ada jabat tangan terjadilah suatu kesepakatan diantara pengucap dan pendengar. Kata yang telahir menjadi suatu makna dalam kehidupan, menjadi sebuah kesepakatan makna.

Hingga paragraf kedua ini aku terbengong, tentang apa yang telah aku tulis sebelumnya, entahlah tidak tahu mengapa, aku juga bingung kenapa. Dan setelah satu kalimat sebelum ini, aku sempat bengong selama lima belas detik sebelum menuliskan satu kalimat yang menjelaskan jikalau saat ini aku sedang bingung. Kemudian garuk-garuk kepala pertanda tidak gatal, suatu pertanda bingung mau menuliskan apa lagi, tetapi masih ingin terus menulis.

IMG_5777

Hidup dijaman sekarang dua kata ini sangat dalam maknanya, dan sebegitu seringnya kita menggunakannya. Hidup dijaman yang serba canggih dan masih akan terus bekembang ini dua kata ini juga semakin sering penggunaanya, meski tidak diucapkan oleh lidah secara gamblang, pun tidak bersuara. Dan dijaman yang sekarang ini seberapa seringkah kita “Bengong” disaat kehidupan ini di distraksi oleh berbagai macam hal. Hingga suatu hari kita akan “Bingung” dan lupa bagaimana caranya memulai untuk “Bengong”

 

Dari aku yang menjadi candu dalam arti~

Sampai Jadi Debu

Not every song can make me shivering inside, but this one is an exception..

Sampai Jadi Debu (menampilkan Gardika Gigih)

(Lagu: Ananda Badudu dan Gardika Gigih; Lirik: Ananda Badudu)

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

Direkam sekali waktu(live) di Studio Kua Etnika, Yogyakarta pada Januari 2016
Sampai Jadi Debu direkam menggunakan piano Gardika Gigih yang diberi nama Michiko

Album “Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti”

Dibalik Hujan

RFQI1496

Ketika suara adzan memanggil hujan
Serentak kompak mereka turun
Memekik riuh tanpa memelan
Membasuh tanah meresap dalam

Membuka payungku menghentak
suaranya tung tung tung
sesaat teralihkan lentingan sempurna genangan aspal pinggir jalan
byurr byurr nadanya

Berjalan dibawah hujan
Melaju tanpa berlari
payung ditangan kanan, kiri mencari hangat saku
tidak terlalu buruk juga

Mata kosong menatap jauh
jalan hanya terlihat lurus
mata nanar lekat menatap bulir
hujan tertinggal di muka payung

Dibalik hujan~