Mengikat Tali Sepatu

Pagi ini saat mengikat tali sepatu, muncul suatu kata-kata di pikiranku “Kita tidak cukup tangguh untuk mengenal diri sendiri tanpa merefleksikannya pada orang lain, pun sebaliknya”.

IMG_5173

Beberapa menit setelahnya seorang lelaki melintas didepan angkutan yang aku tumpangi. Pria ini berpenampilan cukup rapi dengan kemeja ungu tua yang telihat cocok dengannya. Dalam bahasa sunda dia mengatakan; kira-kira artinya “dapatkah saya ke jalan padjadjaran dengan kendaraan ini bapak supir?” Kemudian dia duduk dipinggir membelakangi pintu, sejenak aku mendengar dia menggumamkan sesuatu, flasdisk. Dia meraba tasnya, mengeluarkan sesuatu, memastikannya lalu memasukkan nya kembali kedalam tas. Dia mengeluarkan ponsel, mendekatkannya ke telinga sembari menekan beberapa tombol keypad, lalu lamat-lamat terdengar suara seseorang disana,

Dan disini gedung Telkom Indonesia telah terlihat menjadi penanda sudah saat nya aku menutup buku ini dengan tulisan menyerupai sebuah hieroglif. Karena angkutan ini engga untuk membiarkan aku menulis dengan cara yang sangat baik.

Dan sore ini aku mencoba kembali mengingat kejadian pagi ini, lelaki seperti apakah yang menyihirku untuk menulis cerita tentangnya. Saat aku melihat seorang pria melintas dengan menggunakan sebuah tongkat, tetiba ada sebuah perasaan disana, entahlah apa itu. Dia membuatku mengawang, berandai tentang bagaimana dia menjalani kehidupan. Dia melintas dengan tenang, disaat dunia jalanan tidak mengenal keramahan bagi siapapun. Dia pemberani dan di tidak takut dunia. Dia menggunakan ponsel seperti biasa, cukup dengan menekan tombol, mendengar bunyi dari setiap sentuhannya. Dia lembut dan dia sensitif terhadap dunia.

Benar saja aku mengawang-awang, merasa lemas ketika membayangkan   dirinya, apalagi membayangkan sebagai dirinya.

Entah ini tulisan keberapa yang mengekspresikan kata bersyukur, lagi-lagi tidak pernah cukup. Namun ada sesuatu yang aku maknai ketika sesuatu diambil darimu, maka sesuatu yang lain akan dilebihkan padamu.

“Kita tidak cukup tangguh untuk mengenal diri sendiri tanpa merefleksikannya pada orang lain, pun sebaliknya”

Sekarang aku sedikit mengerti dari kata–kata tersebut, Meski engkau tidak bisa melihat dunia tapi engkau tidak menyerah dan engkau mengerti cara berjalan bersama dunia, terimakasih pria berkemeja ungu.

Advertisements

Frasa Tua

Lama tidak membuka twitter aku menemukan sesuatu, sebuah frasa yang pernah aku tulis beberapa tahun silam. Frasa ini tidak hanya menarik, tapi mempunyai suatu magis, menurutku sih. Saat membacanya tak diduga aku tersedot kedelamnya, seperti buih yang terlempar ketepian, membentuk berbagai pertanyaan.

Frasa milik siapa kah ini, apakah milikku apa orang lain? Jika itu terlahir dari pikiranku, bagaimana kondisiku saat itu? Inspirasi seperti apa yang bisa melahirkan frasa seperti itu?

Sentak aku masuk ke dunia google, tidak ada indikasi yang menunjukan kalimat itu milik seseorang, mungkinkah itu aku. Tapi kok bisa?

IMG_5967-3
Satu hal bahwa memory aku (kita) terbatas untuk  mengingat segala hal. Bukannya seringkali kita temukan dan disebutkan dalam sastra lama bahwa manusia memang tempatnya adalah lupa. Atau mungkin lebih tepatnya sangat sulit untuk menemukan kembali informasi yang telah tersusun rapi didalam sebuah perpustakaan terbesar yang ada di alam raya ini, yaitu pikiran. Bahkan kita seringkali tersesat ketika mencoba untuk mencarinya, hingga lelah.

Namun, aku menyadari hal lainnya, Tulisan merupakan perpustakaan yang lain yang akan kita miliki kelak. Dia dapat menjadi penuntun kita dalam menemukan buku yang kita cari didalam perpustakaan pikiran. Dia menjaga kita dari ketersesatan hingga jatuh dalam lelah. Dan karena dia kita bisa terhempas kembali ke ruang dan waktu yang telah usang.

Seni tidak mengenal arti kata revisi, percayalah~

Aku masih tidak percaya bahwa aku adalah orang tua dari frasa ini, dan itu sangat hebat, sungguh~

Juanda 98

Aku terjebak disini bersama mereka. Mereka yang asing, yang sudi menemaniku dalam diam. Dibawah atap teduh, dihalaman beralas paving block yang tersusun  rapi, yang disela-selanya ditumbuhi rumput liar. Aku bersyukur berada disini. Aku yang terjebak menatap rintik hujan. Indah sekali ketika mereka turun bersisian memenuhi permukaan, lalu memantul kembali. Rapat dan bernada, silih berganti hingga sedikit lambat laun sedikit mereda. Pertanda aku harus melanjutkan perjalanan.

Paragraf selanjutnya ditulis dibawah rintik hujan, diatas boncengan yang menebas angin jalanan kota.

Hujan memang biasa menari di setiap sore Bandung. Ini penghujungnya, akhir dibulan maret. Tapi perasaan ini tidak, terjebak didalamnya, larut, kemudian menikmatinya. Mungkin saja bagi sebagian orang, tidak ada yang istimewa dari hal ini, keculi hujan mengingatkan mu akan kisah usang. tapi aku tau jawabannya kenapa perasaanku terasa berbeda kali ini.

Karena aku tidak punya sesuatu yang mengalihkan pikiranku
kecuali hujan itu sendiri~ Juanda 98

IMG_5994-3


*catatan kaki

  • Tidak akan bertemu dengan perasaan itu, jika ada gadget ditangan...
  • Tidak punya gambar hujan, karena itu tulisan ini ada

Sastra, aku meleleh..

Ajarkanlah sastra pada anak-anak kalian. Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani – Umar bin Khattab

Kata-kata yang indah bukan,
membalik sesuatu yang negatif menjadi positif,
menerobos batas yang sudah jelas,
Sastra…

IMG_5932

Tentang Sastra, memang benar adanya bahwa didunia ini banyak sekali ragam ilmu pengetahuan. Secara garis besar dikategorikan sebagai ilmu sains sosial dan ilmu sains alam, dimana ilmu sastra dikategorikan kedalam sains sosial. Hanya saja belakangan hal ini sedikit mengganjal pikiran ku bahwa sastra itu bukan bagian dari sains sosial, bukan sains alam, bukan juga diantara keduanya.

Menurutku sastra tidak bisa dikotak kan, bahkan di spesifikkan sebagai sebuah cabang ilmu. Hmm, mungkin sastra itu merupakan suatu kedalaman. Ketika sastra berada ditangan seseorang, disaat itu juga kedalaman seseorang dapat diukur. Bener sastra itu sendiri tak terdefinisikan, bahkan hingga aku menulis tulisan ini pun aku masih tak mampu untuk memahami nya, menyederhanakannya, apalagi mempolakannya. Mungkin benar lagi bahwa sastra itu perkara perasaan, pada masing-masing manusia yang memahaminya.

Setelah dua paragraf berikut, aku mohon maaf mengenai sastra yang aku ungkapkan. Itu hanya kata yang keluar dari perasaan saja dan bukan berlandaskan teori. Hanya intuisi yang terpendar keluar setelah terpendam dalam. Aku juga pernah tau bahwa puisi itu hanyalah milik penulisnya, karena tak seorangpun dapat menginterpretasikan isinya persis sama seperti penulisnya. Benar saja penulis adalah pembaca pertama, dan makna puisi adalah milik para pembacanya.

Akhirnya secara tidak sengaja mataku tertuju pada sebuah sastra, dua, lima, sepuluh detik telah tertahan disana. Aku putuskan bahwa definisi sastra tertinggi adalah, Iya itu adalah Al-Qur’an. Suatu sastra yang tidak diciptakan oleh manusia, dan butuh waktu yang tidak pernah cukup untuk memahami nya.

Dipenghujung kata, Sastra, aku meleleh dan tak sanggup lagi menulis tentangmu~

Santai aja lah ya…

Capture

Apakah kita memang terlahir dengan membawa sebuah sifat. Ataukah sifat itu sendiri ada seiring kita tumbuh, entahlah. Santai, siapa yang mau dengan sifat satu ini. Tidak mengenal panik, kalopun ada itupun sedikit dan tidak terlihat kentara. Bukti nya siang ini adalah hari terakhir mid-term, tetap santai seperti biasa.

Setiap ada yang bertanya ” tidak mereview atau tidak belajar?”, jawaban yang keluar  selalu sama yaitu “Ujian yang hitungan mundurnya adalah jam adalah waktunya untuk rileks”

Pagi ini sembari menikmati secangkir kopi origin Toraja Sapan, googling nama sendiri mba google. Kalo orang bilang memang dasar kurang kerjaan padahal mau mid-term. Siapa sangka ketemu foto diri sendiri di tumblr teman KKN yang ditulis 4 tahun yang lalu ( http://chukurkumis.tumblr.com/page/7 ). Mungkin ini pertama kalinya membaca tulisan orang lain yang mendeskripsiin diriku dari sudut pandangnya.

Dan di akhir kalimat yang bikin tertawa adalah,
apapun kondisinya baik senang ataupun sedih, baik tawa atau tangisan
“santai aja lah ya…”


*Abaikan bibir dower abis disengat lebah desa hahahahaha~