Untuk Tenang

IMG_5543-3

Bermain dalam prasangka seringkali menjerumuskan kedalam duka, alih-alih bahagia, memang begitu adanya meski tidak ada penjelasannya. Tempat bermainnya adalah pikiran, suatu tempat dimana tidak ada pagar sebagai pembatasnya. Wahana yang lengkap sebanding dengan kedalaman pemiliknya. Tidak ada batasan, seperti menciptakan imajinasi dari perwujudan harapan, pun keengganan yang ditolak jauh, namun tetap kembali bahkan lebih dekat.

Anti prasangka, seperti satu kata yang ditambahkan didepannya. Dia berperan sebagai penantang, berdiri disudut yang bersebrangan. Sesuatu yang ditemukan oleh seorang manusia, tidak hanya cara bermain namun juga luas dalam memaknainya. Terlahir sebagai buah kebijaksanaan untuk mengembalikan permainan kebentuk dasarnya, membiarkan alirannya tanpa distraksi imajinasi.

Lalu apa, Apakah kita sepakat untuk tidak mengontrol imajinasi
atau, membiarkannya mengalir begitu saja,
lalu tenang, bahkan lebih dari pada itu~

Advertisements

Sedu Sedan

IMG_5789

Tempat tersunyi adalah hati mu
bila kau mau menyisihkan waktumu
mengintip satu persatu setiap ruang
sekedar datang untuk menyapa

Tempat teriuh rendah adalah pikiran mu
asal jangan terlelap, dan
juga bukan termenung
butuh lantang untuk teriak, dirimu ada

Tempat terindah adalah Tuhan mu
jika tanya menghampiri mu
semoga kau tau jawab mu,
dimana seharusnya engkau kembali

Tuhan mu..

————————————————————————————————–
Malam setelah hujan. 21.10 Cibeunying permai ~

Meja Bundar

IMG_9642

Aku merasa adil dengan diriku
duduk disalah satu sudut meja bundar
aku merasa adil dengan sekitarku
tidak merebut salah satu sudut dari mereka

Meja bundar, terima kasih engkau telah ada
aku merasa tenang karenamu
jauh dari pertarungan dalam pikiran
antara aku dan makna keadilan

Tidak ada sembunyi antara kita
mampu tuk memandang setiap mata yang ada
dengan komposisi yang tidak berbeda
sederhana bersama mengecilkan kebesaran, dan

ketika hanya lilin jadi penerang
tidak satupun hanya menjadi bayangan
menjadi gelap dan tidak terlihat
dalam temaram yang adil

————————————————————————————————–
Meja bundar ~ Student’s lounge of Environmental Engineering, 05 feb ’16

Calls from a book

IMG_20151017_071555

What a good day when the sun shines my private room, then reflected by the window showing me particles of the dust in this lovely morning. In front of me there is an e-book and also found a good words in a goodread “To Kill a Mockingbird” which is a fiction book written Harper Lee almost 60 years ago.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view — until you climb into his skin and walk around in it.”  

The words is a reminder and has deep meaning that we can never know what it is like to be other person. All of sense when we hear, see, or experience other people’s lives, our mind tries to react to put ourselves in their shoes and consider how we would deal with it. It is an impossible for us to actually do the same like their true perspective. In fact, we would hear, see, and experience things differently and our history of life and shape of our personality after period.

By trying to do other perspective about life or doing something the same of other’s daily. the result is only an explanation, but not a true feeling. For instance, by closing our eyes for the whole day doesn’t mean we know what  blind person feels. It might give us a better perspective but not will be the same. Be someone who loses their sight and someone who was born without sight,  both of things have differences and know things differently.

We can never walk in someone else’s shoes for a mile or even a footstep, but we can hope of a better understanding and to learn to walk beside someone else, and attempt to see things, a small glimmer from their perspective for a short while. But in the end we revert bact to us and they them and hope we took something from it.

To face the virtual world we might need an understanding what we see, hear, know are not the only one process to make our perspective. Behind of a quick rotation of life we also need a deep consciousness and deep understanding about others and have a care to assess a value~

Kenangan Biru

IMG_3991-2

Kota yang indah ini tak lagi membiru
tidak ada pemandangan yang jernih
diselimuti kabut, asap meski tidak hitam dan pekat
kota yang berselimut embun telah pergi

Tidak lagi biru

Kota ini adalah kenangan
ketika daun muda mengering dan mencoklat
ketika daun tua berguguran tertiup angin
dia senantiasa berada disana, duduk termangu

Kenangan

Ayunan sapu penyisir jalanan
membentuk suara khas yang hanya miliknya
mengikat daun satu dan lainnya menjadi satu
kemudian bersatu disudut jalan

Mengalihkan tuk kembali kesana ~

———————————————————————-

Bandung ku bernaung, dari pojokkan sabuga, 19 januari 2016