Tiga per empat menuju Pancasila

Sejauh ini dari sekian banyak langit, hanya satu yang berbicara. Berbicara tentang senyum yang diiringi tegur sapa, juga tentang sebuh keramahan. Keramahan disana bukanlah sebuah kebaikan, tapi lebih kepada kebiasaan. Kebiasaan yang membingungkan, terlebih saat-saat kita menjalani hidup di jaman seperti sekarang. Langit yang berbicara, Sumbawa~

Perjalanan ini dimulai dari Terminal Mandalika, Mataram, setelah rencana keberangkatan ke Sumbawa ditunda selama beberapa hari. Hari-hari dihabiskan hanya untuk berleyeh-leyeh di saung bang Resi, Sebelum nya bang Resi merupakan seorang kenalan dari kenalannya kenalan ku, terlihat sedikit rumit memang tetapi begitulah ketika kita menjadikan gunung sebagai arena bermain semudah itu relasi terjalin. Sembari memulihkan kondisi fisik setelah kembali dari Rinjani  3 hari sebelumnya. Selain fisik, kondisi finansial yang cukup mengkhawatirkan juga menjadi awan kelabu, perhitungan saat itu hanya cukup untuk membeli logistik dan tranportasi, dan itu pun dengan catatan harus mendapatkan kendaraan yang termurah apapun kendaraannya atau kondisinya.

Benar adanya perkara yang tiga jikalau rezeki tak akan kemana, dengan bantuan bang Resi, kita mendapatkan tumpangan 25% lebih murah dibandingkan informasi dari kawan yang telah terlebih dahulu berangkat kesana seminggu sebelumnya. Kendaraan ini cukup nyaman untuk ditumpangi, kelas minibus, yang didalamnya tidak hanya bermuatan manusia tetapi juga berkarung-karung beras, berkeranjang sayur mayur, bahkan di bagian belakang mobil terdapat dua motor bebek yang bergelayutan dengan berbalut dus bekas dan bersimpulkan seutas tambang. Suatu gambaran yang menyenangkan untuk perjalanan yang akan dinikmati selama 18 jam kedepan, nyaman sekali.

Perjalanan selama 3/4 hari itu lebih dari setengahnya hanya dihabiskan untuk merenung, kemudian tertidur. Lalu apa lagi yang bisa dilakukan ketika yang bersemayam di dalam dompet hanya dua lembar “pangeran antasari” dan itu pun telah berpindah ke kantong kemeja karna dia merasa kepanasan dan sesak disana. Dan itu pun hanya bertahan selama dua jam setelah mereka berpaling ke kantong pedagang jagung,untuk ditukar dengan empat buah jagung rebus. Bekal yang akan bertahan hingga 20 jam kedepan ini, nikmat sekali.

IMG_3812

Laut, kukatakan padamu bahwa aku merinding setiap perjumpaan kita.
Laut, aku ingin bertanya satu hal tentang perasaan mu.
Laut, marahkah engkau ketika kami menjadikanmu sebagai sarana pembuangan segala kotoran kami?
Laut, marahkah engku karna kami telah merubah tampilan rupa mu?
Laut, ku mohonkan saat itu, jangan marah, aku tak tau cara berenang.

Benar saja laut adalah bagian dari phobia, meskipun sangat nikmat sekali untuk dihembus oleh angin nya, angin panas nya. Hembusan nya tak sekalipun pernah berkata “aku lelah, dan aku butuh istirahat” begitulah dia, angin laut. Disana terlihat Pulau Kenawa yang sungguh menggoda untuk ditapaki, dengan padang rumput hijaunya. Oiya satuhal yang terlintas saat itu dan masih menempel hingga saat ini, “Laut Indonesia dan gugusan pulau nya memang indah”.

Menapaki pulau Sumbawa  untuk pertama kalinya setelah berlabuh di Poto Tano diiringi rona senja yang siap kembali ke peraduannya. Selang satu jam setelah melewati kota Sumbawa besar terjadi guncangan hebat akibat meletus nya roda ban kendaraan yang aku tumpangi yang kemudian memberikan ku kesempatan untuk  merasakan keramahan lokal untuk pertama kalinya. Ini lah sebuah sentuhan sederhana milik mereka. Sampai hari ini belum menemukan deskripsi yang tepat untuk menggambarkan keramahan orang sumbawa yang kutemui saat itu, mungkin kamu bisa merasakannya nanti hehe.

Selanjutnya hanya ada keheningan malam, alunan suara angin, decit rem yang mengkhawatirkan, hingga sebuah guncangan di subuh hari oleh paleton baret merah Kopassus membuat ku tersadar telah menapak di desa Pancasila, titik awal menuju puncak Tambora. Cerita selanjutnya ~ Gunung tambora “Ironi sang pemula, Pendakian Tambora

Advertisements

Desa tetaplah muda

image

Dunia semakin tua, mungkin saja itu benar ada nya. Tapi kenapa, cobalah pergi berkunjung ke desa. Mungkin jawabannya ada disana, desa terasa sangat tua.

Desa semakin tua, juga benar ada nya. Tapi kenapa, cobalah mengunjungi mesjidnya. Mungkin jawabannya ada disana, jika belum terlihat cobalah berjalan sejenak ke sekitar. Rasakan akan sesuatu yang hilang. Mungkin mereka telah pergi.

Pemuda tak lagi ada disana, pucuk kehidupan, tombak dari solusi, dan akar dari segala kreatifitas. Mereka tak lagi ada, pergi tak pernah kembali. Jikalau bendera putih berkibar pertanda kegagalan, mereka kembali sebagai preman bukan pahlawan.

Seandainya pemuda dapat memilih dimana mereka hendak dilahirkan, tetapi tidak dapat melawan kehendak alam. Terlepas dari itu semua, pemuda tetaplah pemuda. Seorang pembelajar yang berkorban untuk sebuah perubahan. Perubahan yang bernilai besar untuk pribadinya, dan tak ternilai ketika diperuntuk selain dirinya sendiri.

Hari ini aku belajar apa itu arti “pergi untuk kembali” bahwa menjaga bumi tetap muda adalah bibit yang kita tanam dalam hati semenjak kita meninggalkan tanah kelahiran kita dengan bermacam-macam alasan yang kemudian memetik dan menikmati hasilnya di “desa” kita. Agar dia tetap muda ~

Temanggung – 070116  – 11.48 pm