Hikayat Terjatuh

IMG_9928-2

Jatuh,
Adalah suatu rupa yang bagi sebagian orang sangat dihindari. Dan bagi sebahagian yang lainnya bukan hal yang disukai tetapi lebih terbiasa. Dan sebagian kecil menantang nya, berulang-ulang.

Jatuh,
Ketika disinggungkan dengan hukum alam, dia berbicara mengenai perbedaan ketinggian. Selama ini memang belum ada yang berani menelorkan istilah jatuh itu ke atas, setidaknya hingga saat ini.

Jatuh,
Selanjutnya bisa dikaitkan dengan meruntuh nya sesuatu menjadi bentuk yang tidak diinginkan. Dapat terjadi begitu saja, atau juga setelah mempertahankannya. Tingkatan nya lebih kompleks saja, karna sakit sebagai sebuah rasa hanya  salah satu bagiannya.

Jatuh,
Berbicara tentang bentuk setelahnya, ketika dipungut kembali, kemudian disatukan dia tidak akan pernah sama. Tetapi tetap saja tidak terlalu menakutkan. Semua nya akan berjalan seperti seharusnya, hanya masalah waktu.

Jatuh,
Jika saja bukan terjadi pada ego, mungkin tidak dibutuhkan hati yang lapang untuk kembali. Meski tidak utuh, hanya saja dia lebih tangguh. Hati yang lapang dia lebih bernafas, sekali lagi meski waktu sebagai parameternya. Tak akan pernah teracung menunjuk keluar, tetapi akan kedalam namun tidak memendam.

Dia sebagai sebuah indikator penanda
Dia juga sebagai pengingat
Dia bukan sesuatu yang negatif
Dan dia tidak lebih dari sebuah alur hidup yang harus dilewati, Jatuh.

Sebuah kata-kata yang beraroma negatif dipenghujung tahun ini, tapi dia bernilai positif bukan sebagai kata tapi sebagai makna~ 

Advertisements

Desember 27

IMG_1268

10.56 pm WIB, Bandung sejuk setelah dilimpahi berkah dari langit, hujan.

Jam dinding masih saja menjadi sesuatu yang sangat sexy bagiku dan dipikiranku, kenapa. Coba saja luangkan sejenak waktumu dan mulai pandangi setiap detingan jarumnya, cukup satu menit saja. Tidak kah kamu merasakan sesuatu disana, jika tidak mungkin belum ada ketenangan disekitar mu, atau pun ketenangan didalam hatimu juga pikiranmu. Aku dapat merasakannya tepat saat ini juga dan mulai bertanya, kenapa dia harus bergerak melingkar ke arah kanan bukan sebaliknya. Ataukah itu hanya kesepakatan saja, biar seragam, biar tidak tumpah satu sama lain, biar akur.

Aku setuju dengan itu. Aku juga setuju bahwa waktu adalah sesuatu yang relatif. Seandainya jarum jam bergerak sebaliknya memulai perputaran dari kiri, tentunya aku juga tidak akan protes. Karna aku telah sepakat bahwa waktu itu adalah sesuatu yang relatif.

Relatif menurutku adalah sesuatu hal yang memiliki variabel yang tidak hanya satu, boleh jadi tidak terbatas. Sesuatu yang memiliki sisi tidak hanya satu, tetapi lebih. Sesuatu yang memiliki sudut pandang yang bervariasi  yang jika dimulai dari 0 derjat hingga 360 derjat. Begitupun dengan waktu.

Berbicara mengenai waktu seorang manusia, seringkali kita mewakilkannya dengan angka-angka yang kita semua dapat pahami arti nya. Dia diawali dengan sebuah tangisan saat seseorang dilahirkan kedunia, kemudian angka tersebut terus berubah dan bertambah seiring berjalannya waktu. Kita sebut itu suatu pencapaian umur seseorang terhadap waktu. Disisi lain kita juga dapat mengartikan bahwa waktu seseorang tersebut sebenarnya tidak lah bertambah, justru berkurang semenjak tangisan pertamanya dimulai. Setiap hembusan yang bergulir, setiap satu sel yang tumbuh, setiap denyut nadi yang mengalir, dan setiap dentingan jam dinding yang menjadi penandanya.

11.20 pm

Kemudian waktu telah menyeretku kepada aku yang saat ini, pencapaian ku telah 1/4 abad sebagai manusia biasa dan akan terlewati 40 menit dari sekarang. Kemudian berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk ku? Hanya itu alasan untuk terus belajar; menjadi lebih baik dan bernegosiasi dengan waktu.

Dari aku yang hingga saat ini masih belajar untuk terus bersyukur, disetiap kesadaran nafas yang ku hembuskan setiap detiknya, dan cinta dan terimakasih ku untuk ibu untuk perjuanganmu~ 11.35 pm.

13-12-15 10.25

IMG_3852

Pagi ini seekor kucing tersadar bahwa dia terbangun diatas sebuah perahu. Berdasarkan sudut matahari saat itu, kira-kira berada pada sudut 60 derajat dari permukaan bumi dimana si kucing berada. Menggeliat dari tidur karna ayunan perahu yang semakin kencang mengantarkan nya pada kesadaran sepenuh nya. Ketika semua ruh nya telah berkumpul, kemudian mulai mengamati keadaan sekitar betapa terkejutnya dia berada diatas lautan. Lautan yang saat itu tidak terlalu liar dengan tarian ombaknya juga tidak tenang seperti danau yang tak tersentuh buaian angin.

Tidak ada suara yang keluar dari nya, tidak ada seringai, tidak ada raut kecemasan. Waktu hanya ada untuk dia dan pikirannya sendiri, entahlah apa yang dipikirkan nya saat itu. Sedikitpun tidak terlihat suatu ekspresi yang berlebihan dari nya, dan sekali lagi jika boleh kutebak apa isi pikirannya. Mungkin saat itu dia merasa, tidak perlu untuk menumpahkan segala keterkejutan, kekecewaan, kekesalan, amarah secara berlebihan. Dari sudut pandangan lainnya dia merasa kalau hari ini bukan miliknya. Bahkan dia mungkin tersadar bahwa dirinya sendiri bukanlah miliknya.

Kucing telah merefleksikan dirinya yang lain sebagai manusia, bahwa sebenarnya ada perasaan campur aduk dalam dirinya, gelisah, kesedihan, ketidaktenangan. Sisi humanis cenderung bergerak ke arah negatif itu lah kita manusia,itu wajar dan sangat wajar sekali. Namun dia berusaha tidak menumpahkannya dalam bentuk amarah, berusaha untuk merasionalkan segala sisi positif yang ada. Kemudian “Keikhlasan bukan lah sifat melainkan lebih ke proses pembelajaran” dari waktu ke waktu yang didalamnya terdapat hari ini.

10.25 pagi
Minggu 13 Desember ’15 ~

Tumpang dan Gelak Tawa-nya

Mungkin sudah lebih dari setahun aku tidak menulis mengenai kisah perjalananku, tiba-tiba saja sebuah memori kembali setelah seorang teman memposting foto perjanlanan ku beberapa hari yang lalu.

IMG_3273
Candi Jago, Tumpang

Aziz     : Di temenin gua ke Semeru yuk
Didi     : Duh, lu jalan kapan emang ziz, gua masih ada kelas nih hingga dua minggu ke depan.
Aziz     : berangkat nya juga ga sekarang di 2 minggu lagi, gua masih di Jakarta soalnya
Didi     : Oke nanti berkabar aja

Vivi     : Di gua di depan nih di, di tempat juice
Didi     : oke Vi, gua kesana. Gimana jadi jalan ga nih, kata senior gua Semeru lagi tutup

Vivi     : Gimana ya gua juga bingung, si Aziz dia udah beli tiket ke Malang soalnya, besok pagi dia jalan.
Didi     : Yaudah besoj jalan aja dah, kasian Aziz. Gimana-gimananya entar lagi dipikirin dah.

Didi     : Bal, lu ikut  ga ke Semeru? Gua jadi jalan nih, jam 9 ini mau cus ke Malang.
Iqbal    : Brai, gua pikir ga jadi ke Semeru, peralatan udah gua titip ke temen nih. emang budget berapaan?

Didi     : Yaudah, nanti gua bantu cariin dah. Tiga ratusan cukuplah.
Iqbal    : Lu dimana sekarang brai? gua abis nyewa barang-barang nih, gua packing dlu ( jam 11)

Sepotong percakapan antara aku dengan Aziz, Iqbal, dan Vivi beberapa bulan yang lalu ketika hendak mendaki gunung Semeru. Percakapan yang jika di baca dengan seksama, terlihat seperti becanda saja, karna untuk mendaki sebuah gunung tidak sesederhana itu apalagi tanpa persiapan, bahkan dengan persiapan yang serba mendadak. Namun, terkadang dibalik sesuatu yang tanpa persiapan itulah tersimpan sebuah ceritanya tersendiri.

Setelah melewati beberapa drama dari Vivi,   akhirnya kita berangkat dari Pare, Kediri menuju Malang untuk bertemu Aziz yang telah sampai di sana beberapa jam sebelumnya. Perjalanan selama tiga jam dengan menumpang minibus yang didepannya terpampang tulisan “Puspa Indah” ini membawa suatu perasaan, akan kemungkinan kita akan gagal untuk mendaki Semeru, dan sebuah harapan bahwa gunung Semeru telah dibuka untuk pendakian.

Di pojok kanan stasiun malang Aziz terlihat terlantar, persis di depan sebuah toko yang menjual oleh-oleh keripik buah khusus kota Malang. Lima toko dari sana terdapat sebuah rumah makan padang, yang entah kenapa menarik kita berempat kesana, yang nanti akan memberikan sebuah kenangan yang berharga disana, sebelum melanjutkan perjalanan ke Tumpang.

“Mau Ke bromo apa Semeru mas?” Tanya seorang sopir didepan stasiun, kemudian pertanyaan yang sama di ulang lagi oleh sopir ke-dua dan sopir ke-tiga, kehidupan stasiun.

“Mau ke semeru pak”
“Semerunya belum di buka untuk pendakian mas”
Ternyata  feeling ku benar
“Tapi kata temen saya udah buka pak”
“Dibilangin ga percaya sampean mas”

Kita berempat sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Tumpang. Hanya karna kita pikir tanggung celana basah sampai selutut kenapa ga diterukan saja hingga sebahu, Aroma  khas Tumpang ~

Tumpang aku kembali lagi ke kota mu, tempat yang penuh rindu bagi ku juga bagi siapa saja yang telah merasakan keindahan Oro-Oro ombo.
Tumpang, menjadi titik pertama kaki di pijakan di atas tanah yang telah mengakar dengan sangat dalam akan sebuah kedamaian bernama Ranu Kumbolo.
Tumpang menjadi saksi bisu, dimana bayangan akan ketangguhan nya diawali, Mahameru.

Mungkin hampir setiap pendaki yang pernah ke semeru akan mampir terlebih dahulu ke rumah Pak Rus. Beliau telah mendedikasi kan rumahnya sebagai tempat singgah bagi pendaki yang hendak ke Semeru, tentunya dengan sebuah ke ikhlasan disana. Sampai disana beliau bercerita bahwa kemarin malam ada empat orang pendaki dari palembang, Dona, Reno, Fadli dan Agung bernasib seperti kami. Karna benar saja, Semeru memang belum di buka untuk  umum, guncangan kedua dimulai.

Kemudian, hanya dengan saling pandang dan sedikit kata yang kurang dari 30 menit kami memutuskan untuk mengganti tujuan menuju Puncak Anjani, Rinjani. Tanpa ada keraguan sama sekali dengan semudah itu berubah, bukannya tanpa pertimbangan. Tentu saja ada, namun kita percaya niat selalu diletakan di urutan yang pertama. Kemudian Pak Rus mangatakan bahwa anaknya baru saja mendaki Rinjani seminggu sebelum nya dan meminta kami untuk mengontak beliau untuk meminta petunjuk kesana.

Didi                 : Halo mas Pras, saya sekarang lagi di rumah Pak Rus. Mau nanya kalo ke Rinjani bagimana ya mas transpor nya?

Mas Pras          : Mas nya punya budget berapa dulu?

Didi                 : Kita berempat, hmm sekitar satu juta per-orang mas?

Mas Pras          : Wah kurang itu mas, minimal 1,5 kalo kesana. Hmmm, tapi bisa sih cuma mas dan teman-teman harus mem-press pengeluaran. Saya masih ragu tapi tergantung gimana mas nya berhemat.

Didi                 : Oke, Matur Nuwun Mas.

Sebenarnya aku dengan berat hati untuk menelpon Mas Pras, tapi karna sikap yang terlalu peduli dari Pak Rus yang membuktikan beliau seorang yang baik, tetap ku lakukan. Dan benar saja, hasil interaksi ku dengan Mas Pras berhasil membuat ku melakukan sebuah kebohongan bahwa diantara kami tidak seorangpun yang memegang modal perjalanan sebesar satu juta, bahkan juga dikumpulkan keempat modal yang kami punya mungkin kurang dari dua juta rupiah. Karna, kami sepakat perjanalan ini tidak akan berhenti hanya sampai disini, perjalanan kami bukan untuk kembali pada keesokan harinya.

Kemudian dengan sebuah langkah sederhana yaitu memesan tiket kerta api, Malang-Banyuwangi, telah resmi merubah arah tujuan kami malam itu. Ketika dijalan menuju sebuah mini market, sebelum tiket di tangan dan sesudah tiket di tangan gelak tawa kami tidak henti-hentinya mengisi obrolan kami, karna masih tidak percaya  bahwa dengan semudah itu tujuan kami berubah tanpa adanya pertimbangan yang rumit, tanpa adanya pertentangan satu sama lin, hanya ada kesepakatan dan gelak tawa. Bener sesederhana itu.

Bagaimana kalau kita menikmati malam dengan segelas kopi dulu? Tawar ku, yang tentunya di lesehan pinggir jalan, khas warung kopi di jawa dimalam hari.

Kenapa tidak, malam terlalu panjang untuk di sia-siakan, timpal Aziz, Iqbal, dan Vivi

Disinilah cerita dimulai, cerita perjalanan kami berempat yang masing-masing tidak saling kenal dengan baik, bahkan Vivi, Aziz dan Iqbal baru berkenalan hari ini. Perjalanan yang nanti menggoreskan sebuah cerita dan melukiskan kenangan yang mungkin memiliki nilai yang sama dengan cerita puluhan tahun.

IMG_3788
Foto yang diposting temanku beberapa hari yang lalu 🙂

“ Jangan pernah merencakan sebuah perjalanan, jika tidak mau kecewa dengan kegagalan”

Mungkin kita sering mendengar kata-kata diatas, tetapi aku tidak sepenuhnya sepakat dengan kalimat tersebut. Memang perjalanan kami seperti tidak direncanakan, tetapi sebenarnya tidaklah begitu. Karna apakah mungkin sesuatu akan terjadi tanpa ada rencana apapun. Mungkin hanya ada dua hal dalam berencana, ketika direncanakan dengan matang dan tidak matang. Bahkan Tuhan pun sudah memiliki rencana tersendiri terhadap kita bukan, lalu yang membedakannya adalah kami menempatkan niat diurutan teratas, kemudian rencana disusun seiring dengan langkah yang menemani kami. Dan disana takdir kami berada ~

 

Ini lah Hidup

“Manusia berencana Tuhan yang menentukan.”

Sebuah ungkapan yang menghasilkan sebuah tanya, apakah dia hanyalah sebuah rangkaian kata-kata, jikalau tidak lalu apakah makna sesungguhnya.

Untuk sebuah pertanyaan yang serius, untuk sebuah gelas kosong yang dibiarkan terbuka~

IMG_5366.jpg

“Tidak usah lah membuat rencana, nanti ujung nya malah batal; atau jangan terlalu banyak berencana nanti gagal, sakit hatinya lebih dalam”.

 Kutipan yang kedua sering kali kita dengar di sekitar, bahkan mungkin saja kita alami sendiri. Dan kemudian aku bertanya lagi, apakah berencana itu memang seperti itu, menggagalkan.

Sepanjang pengetahuan yang telah ku kumpulkan, bukankah berencana itu baik. Membuat segala sesuatu yang bergerak ke segala arah, menjadi memiliki arah,
membuat segala sesuatu menjadi memiliki prioritas,
membuat segala sesuatu tumbuh sebagai ranting, tidak hanya sebuah batang tunggal.
membuat sesuatu lebih dekat kepada intinya sendiri, tujuan.

Lalu kenapa?

Dengan berencana akan membuat segala sesuatu menjadi terlihat lebih rumit, lalu menghasilkan berbagai kekhawatiran, berbagai ketakutan, berbagai bayangan kegagalan.

Lalu kenapa?

Dengan tidak berencana, apakah membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah, mungkin saja~

Mungkin benar bahwa apapun bentuknya akal pikiran yang akan menentukan langkah masing-masing kita. Mungkin saja, bukan karna hanya masalah hasil, bukan saja masalah proses didalamnya. Atau kah kita seharus berjiwa besar terhadap segala bentuk-bentuk yang ada didepan kita kelak, masa depan.

ini lah hidup, ~