Hal. 119~

IMG_20150927_063014-2

Halaman 119.

Sebuah cerita selalu diawali oleh goresan tinta pada selembar kertas. Analogi ini telah ada semenjak manusia tersadar disetiap hembusan nafas nya adalah sebuah cerita, kemudian mereka definisikan menjadi sesuatu yang layak untuk di kenang. Sebuah kenangan bukan lagi untuk dirinya sendiri, tetapi juga milik siapa saja yang yang merindukannya.

Dan berbicara tentang cerita, tentu tak kan pernah ada habisnya. Beberapa diantara memiliki durasi nya tersendiri juga frekuensi nya, tergantung kepada siapa yang menulisnya, alirannya, juga ke otentik an hasrat dari penulisnya.

Goresan pertama selalu menjadi sesuatu yang hidup, selalu begitu. Entah itu bagaimana seharusnya dia diawali, kemana dia akan bergerak, kesudut mana dia meng-inginkan untuk mengayun.  Dia selalu menyita waktu, menghabiskan nya tanpa disisakan sedikitpun, bahkan hanya untuk menghembuskan satu tarikan nafas. Mungkin saja karna dia beralaskan imajinasi, tak memiliki batasan.

Di satu lembar yang masih sangat bersih ini, hanya tertulis sebuah kalimat
“Hanya meng-inginkan untuk terus bersyukur apapun keadaan-nya, hal.119”

Advertisements

Hingga 9 kali

IMG_20151107_165426_BURST1

Entah kenapa pagi ini ada suatu garis lurus yang menarik ku kembali. Memaksaku untuk menoleh ke satu minggu yang telah bergulir. Jalan cerita yang tidak terlepas dari segelas kopi kemudian dilanjutakan segelas lainnya, iya kopi. Seperti biasanya kopi selalu menemani hariku. Hanya saja seminggu ini banyak cerita aneh tentangnya. Bahkan ketika menulis ini pun, rasa hidung ku mencium sesuatu berbau kopi.

Memang setiap pagiku ditemani secangkir kopi, bahkan juga malamku, terkadang juga sore ku. Segelas kopi yang biasa kuseduh sendiri, juga untuk dinikmati sendiri. Belakangan aku lebih sering menikmati nya dengan teman ku. Dengan teman yang berbeda disetiap kesempatannya, tempat yang berbeda,dan  juga cerita yang tak sama. Tidak hanya itu aku pernah, duduk dari satu kedai kopi ke kedai lainnya hanya dalam selang 3 jam.

Iya dengan segelas kopi aku bisa melakukan apa saja, sepertinya. Seakan dia punya daya magis nya tersendiri, terlebih saat membicarakan sesuatu yang biasanya sangat sulit untuk dibicarakan di hari-hari yang biasa. Seakan dengannya pikiranku memiliki sesi nya tersendiri.

Kita akhiri saja ceritanya, sepertinya terlalu berlebihan menyebutkan namanya hingga 9 kali, kopi~

A prison (II)

IMG_5455

Along the time, the wind knew
the glass would pass  under the yoke
the sweet tea with strawberry essence ran  out of the steam
let itself be wrapped by the dew

Falling down by in every moment of breathing
the wind laughed at someone
who were waiting for his time
a moment to catch the eyes

The same feeling like hitting the heavy rain
getting wet and vision blur
even, the words flowed swiftly
hereafter, the story was begun

We were under the light
no more prison inside, just freedom atmosphere
no longer to reveal head blood far below
trully, less connection would make a better intimate

….
You showed a smile instead an eyebrow wrinkling
finding an inspiration to decide your following step
i was not inspiring you, a glass of tea made it
i am happy on you and waiting for next your story, buddy

– Seulawah Coffee, 1 November

A prison (I)

IMG_20150927_062503

Two old friends weren’t looking each other
it was a sign no more a bond connecting
a man in front of was busy with his own tought
perhaps, no more syncronicity feeling inside
or trying to keep the rest of longing
to be working in the other time

A man in the other side was staring into a blank moment
without reflection of the window
it just an iron nets

A prison without man
a prison in their own tought
a prison in the solitude
a prison in the emptiness

When two body were sitting in the same situation
without eyes connection,
the words would never touch into deep heart

– Seulawah Coffee, 1 november