Pejalan Buta Membawa Obor

Tak terasa sudah tiga hari sejak badan pesawat mendarat di Batam memindahkan diri ini dari Padang, hingga masih ada kesempatan untuk menghembuskan nafas di subuh ini. Ku tarik sedikit gorden’, mentari bergerak sangat cepat dan padu seperti menuntun manusia yang hidup dibawah nya, hanya saja tidak ada kabut pagi tapi kabut sebentuk pribadi manusia.

IMG_5358-2

Waktu terus bergulir setia mengikuti perbincangan dari tiga orang anak muda yang sedang berproses menuju kedewasaan, ya malam ini kita sedikit menyengol bahasa-bahasa yang kaya sarat makna. Malam itu seperti dibelah menjadi tiga bagian disetiap kata-kata yang terlontar membuat nya menjadi terdengar tidak natural dan terkesan berat namun ringan, bahasa yang disederhanakan kemudian membawa arti yang dalam. Di fasa pertama muncul kalimat yang diiringi gelak tawa, kemudian di fasa kedua diikuti jeda sembari mangut-mangut pertanda adanya persetujuan dari kalimat tersebut, dan terakhir adanya kesadaran bahwa cerita yang ketika itu telah melewati sedikit hari menuju esok memberikan kami ilmu untuk lebih baik dari hari sebelumnya.

Dari sekian banyak cerita, salah satu cerita yang berbekas dan layak untuk diceritakan.

Ketika seorang pejalan buta yang ditangan kanan nya terdapat sebuah obor berjalan pada suatu pagi buta disebuah kampung yang masih diselimuti oleh kabut. Meski dikatakan kampung pun jauh berbeda dari riuhnya hiruk pikuk kota, disini dikampung, kehidupan dewasa tetaplah suatu hal yang rumit sama seperti pikiran manusia itu sendiri. Kemudian berbisiklah manusia disekitarnya ditengah-tengah kesibukan rutinitas yang mewarnai kampung tersebut, “hendak kemana si buta membawa-bawa obor, apalah guna?“.

Begitupun dengan cara kerja otak dan pikiran dalam berimajinasi memandang sebuah hal. Tidak akan pernah terlahir hanya sebuah imajiner saja, jumlahnya bisa puluhan bahkan ratusan bentuk cara pandang. Persis seperti kalimat diatas itu salah satunya, ketika dihadapkan dengan suatu keadaan apakah cara pandang kita akan sama dengan bisikan manusia kampung tersebut. Dan sebelumnya segala bentuk cara pandang tidak ada yang salah, hanya klaim dan anggapan yang menjadikannya salah dan benar.

Secara logika sederhana seharusnya yang dibutuhkan oleh seorang buta adalah tongkat untuk membantu dia dalam berjalan menentukan arah dan merasakan keadaan sekitarnya. Setelahnya datang pertanyaan apalah guna seorang buta membawa obor ketika dia tidak dapat merasakan bentuk visual dari cahaya.

Kemudian cara pandang yang berbeda muncul dari kacamata yang lain bahwa, mungkin saja seorang buta ini bermaksud membawa obor untuk menerangi orang lain disekitarnya alih-alih untuk dirinya sendiri. Boleh jadi ketika dia mencoba membantu menerangi sekitarnya dengan cahaya sembari  berharap orang lain tidak akan menabraknya setelah mengetahui posisinya.

Di fase terakhir aku menemukan sesuatu didalam cerita ini. Hal yang sederhana ternyata sebuah rahasia kedamaian dalam hidup yaitu, ketika kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sesuatu itu akan kembali lagi kepada kita.

Yuk mari angkat obor setinggi-tingginya untuk sekitar.

Advertisements

Bung Hatta 90 Derajat.

Genap satu bulan sudah berlalu, selepas berbuka puasa aku berbincang dengan ibu seperti hari-hari yang biasa kulakukan semenjak seminggu yang lalu setelah mencium tangan beliau sesat mendaratkan kaki di depan pintu rumah, menikmati hari yang tenang. Perbincangan singkat selama 30 menit itu diawali oleh topik yang entah apalah, karna sebelum memulai tulisan ini butuh berjam-jam untukku mengingatnya dan itu  tidak membantu sama sekali, begitulah manusia makhluk yang tidak dapat mengingat semua hal. Hanya saja sembari menunggu adzan isya itu kami berbincang mengenai ibu tiri. Seperti yang kita tau secara umum ibu tiri itu di digambarkan sebagai seorang yang kejam, meskipun tidak dapat di tarik kesimpulan sesederhana itu karna masih banyak ibu yang baik hatinya. Atau sebetulnya tergantung dari manusianya, ya kita manusia memang suka men-generalisir segala hal.

Kemudian topik berganti begitu saja saat ibu bercerita tentang Inyiak ku (Kakek) yang menurut ibu sangat menenangkan saat beliau menjadi imam shalat karna beliau seorang Hafizh yang memiliki suara yang bagus dan beliau juga seringkali diminta sebagai perwakilan provinsi untuk mengikuti lomba Qori di Jakarta. Beliau tidak pernah mau karna alasan yang sederhana “Anak-anak ku banyak dan aku tidak bisa meninggalkan mereka” yang menurut ibu, tidak ada yang tau alasan yang sebenarnya. Kemudian ibu melihat foto mamak (paman)nya terpasang di dinding rumah kemudian bercerita bahwa Bung Hatta itu dulu temen deket Inyiak Zubir (paman ibu), karena mereka sama-sama berasal dari Bukittinggi, teman sepermainan dan juga bersekolah ke Batavia, bedanya Inyiak Zubir menekuni bidang kimia saat itu.

IMG_5000-2
Taman Monumen Bung Hatta 

Continue reading “Bung Hatta 90 Derajat.”