Pembaca puisi pertama

IMG_5224

Rasa-rasanya malam ini ingin menghabiskan waktu dengan menulis saja, setelah sepuluh hari keinginan kalah kuat dibandingkan kemalasan dan kelelahan. Seperti gelombang yang tidak pernah datar sehingga dia tidak terdengar, oleh karena itu dia memutuskan untuk merambat yang terkadang secara dua dimensi naik turun seperti bukit dan lembah bisa juga merapat dan merenggang, dan selalu begitu. Segala sesuatu menari dalam dua hal yang berlawanan, begitupun semangat menulis. Continue reading “Pembaca puisi pertama”

Advertisements

Fokus!

IMG_5582

 

Kata berkelamin sinisme tak pelak sebuah tamparan keras

tidak ada yang lebih sadis daripadanya

perihal yang berkawan dengan ungkapan sebelah mata

kalau tidak begitu banteng tak kan mengejar merah, bukan?

 

Ketika jawaban sekitar adalah menutup mata

kemudian bijak berkata tak akan ada penyelesaian disana

pun tak ada jalan untukmu, kecuali

biarkan jernih menemukan ketenangannya,pikiranmu.

 

Hingga kesadaran menemukan kilat, itu dia

tanda yang sangat sederhana yaitu sekilas didalam pikiran,

bahasa yang tak serumit sebelumnya untuk diterjemahkan

itu dia bahasa senyuman.

 

Dan sendiripun mampu melawan

Melawan ganasnya terpaan angin Hindia

Berguguran itu resiko, tak usah ahh

Tujuan masih jauh, tak sanggup coba kau kurangi saja

Tetapkan menatap lurus

Fokus..! 

 

Senyum dari Sebatang Coklat

Hanya ada tiga hal yang menunjukan nilai dari seorang manusia, salah satunya yaitu menepati sebuah janji. Dan sebagai manusia itulah terkadang kita luput dari ucapan yang terucap sebagai basa-basi yang dasarnya telah dihitung sebagai sebuah janji, kemudian terabaikan. Memang benar bahwa sepasang bibir itu sebuah pisau bermata dua, terkadang mangayun secara sadar, sebaliknya menyayat dari sisi lainnya secara tidak sadar. Dari sebuah kesadaran ini, hidup tak terlepas dari sebuah kontrol, kontrol kata-kata.

Sebuah kecukupan dari sebuah kehidupan yang bernama hati yang telah lama menanti. Menanti untuk menepati sebuah janji yang mengayun merdu tanpa terlebih dahulu memohon ijin dari sang pemilik keputusan, hanya mengetuk jendela hati. Dia begitu hanya karna mengharapkan sebuah senyuman biasa dari sang pemilik janji. Ketika senyum ini seharusnya bisa didapat dari setiap bibir yang mau memberikannya dengan tulus tetapi tidak berbanding lurus dengan sebuah senyum yang dinantikan. Sebuah senyuman yang dinanti, yang diharap dengan penuh rasa cemas hingga membangunkan lamunan akan senyuman biasa itu semenjak beberapa purnama yang lalu. Kemudian berubah menjadi senyum kecut untuk dirinya sendiri bahwa dia merindukan sebuah senyuman biasa itu. Senyuman yang telah pergi menerobos kedalam kabut tebal, tak berarah kemudian lenyap ditelan waktu. Kini dia telah mengubah dirinya menjadi hal yang tidak biasa lagi, sebuah senyuman istimewa.

IMG_4978
Chocolate is you..

Continue reading “Senyum dari Sebatang Coklat”

Ironi Seorang PEMULA

“Gunung bukan tempat sampah”, slogan yang bergaung semakin kencang dua tahun belakangan ini. Semenjak salah satu gunung paling fenomenal di pulau Jawa dijadikan sebagai latar belakang untuk pembuatan sebuah film yang menuai banyak pro dan kontra, Gunung Semeru. Diawal kemunculan film tersebut kita sebut saja 5cm banyak yang mengapresiasi akan kemewahan lanskap alam yang disuguhkan oleh film bertemakan persahabat tersebut. Persahabatan seperti yang kita tau tak dapat dipisahkan dengan alam dimana sebuah hubungan yang diikatkan oleh beberapa manusia akan di uji disana untuk melihat wujud aslinya, seberapa kuat ikatan tersebut. Nilai dari film 5cm sendiri ternyata telah bergeser menurut sebagian orang yang berargumen kontra tentunya, bahkan tak butuh waktu lama film yang diapresiasi ini pun  bertranformasi menjadi sebuah cibiran, buah efek yang ditimbulkannya yaitu membuka mata manusia di bumi pertiwi, bahwa alam Indonesia memang indah.

Layaknya badai kosmik, rapat terjun bebas ke bumi memberikan efek tertentu pada suatu lingkungan yang terkena imbasnya, sebuah mutasi. Kini kondisi gunung sudah tidak seperti dahulu lagi telah terjadi mutasi, sebelumnya dia sebagai wadah permainan yang biasa dinikmati oleh segelintir kelompok boleh jadi itu pencinta alam, penikmat alam, atau pegiat alam. Namun sekarang setiap orang dapat menjadikan gunung sebagai opsional  tempat berlibur bahkan boleh jadi sebagai opsi favorit saat ini. Gunung tak lagi dianggapsuatu tempat yang berbahaya dengan mulai banyaknya agen-agen wisata yang menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan dan menjual alam sebagai produk dagangan mereka, dan gunung tak lagi eklusif. Continue reading “Ironi Seorang PEMULA”

Cerita si Kota Hujan

Beberapa hari belakangan ini mengingatkan ku sebuah cerita didalam cerita saat perjalanan ke kota hujan satu bulan yang lalu. Hanya sebuah cerita sangat singkat tapi memberikan kesan yang sangat dalam dan terdapat sebuah pelajaran berharga didalamnya tentang makna sebuah pengorbanan dan perjuangan.

Seperti biasa aku menemukan diriku telah berada diatas sebuah kendaraan yang selalu membawaku masuk ke dalam lamunan. Dimana keadaan ini cenderung memutar memori usang yang tersimpan di alam bawah sadarku, yang entah kenapa belum ada penjelasannya hingga saat ini. Dugaan ku, harmoni nada yang dihasilkan kuda besi inilah yang menjadi media irisan antara alam bawah sadar dan dunia nyata. Kemudian dunia berhamburan cepat dan terbalik melupakan setiap partikel sekitar yang seharusnya masih eksis, tetapi tidak lagi setelahnya. Gerakannya yang laun dinamis tanpa interupsi terus melaju tanpa terusik kenangan lama yang memang harus ditinggalkan, dia terus bergerak. Begitupun dengan hidup.

Setelah puas bermain dengan ilusi masa lalu aku tersadar oleh senyuman seorang balita. Jika boleh kutaksir umurnya sekitar dua tahunan yang menyedot perhatian ku detik demi detik hingga announcement stasiun memberitahukan bahwa kereta telah tiba di stasiun Bogor. Continue reading “Cerita si Kota Hujan”