Silver City Koto Gadang

Around the bus (confused by itself), that was description faces of my activities today. It sounds weird, doesn’t it? i thought on the same way. I usually used that words when i go somewhere without any purposes that brought my step to Koto Gadang which is nice place and clement as well. It on the order of 30 minutes rode by from home, Bukittinggi. There is magnificent scenary in which green rice fields every side of sight extend outward under Singgalang mountain, That was a matter of course for me, but i would never be bored anyway.

Rice field outspread, that’s all; of course not, beside that Koto Gadang also is known as centre of silver handicraft. Furthermore salts of the earth were born, i mention Hj. Agus Salim, St. Sjahrir, and first journalist women, Rohana Kudus.

Indonesian  father of the nation, Ir.Soekarno had ever said“Koto Gadang, might a small town,but has great heart “

Continue reading “Silver City Koto Gadang”

Advertisements

Mans stride

image

When a man steps outiside of home.
There is a stride that is accompanied of hope likewise a sweat that be witness of his smell.
If you ask to know the ropes, he would not tells.
Just believe and never bite the hand that feeds you.

Larutku

image

Ajari aku cara berbicara,
berbicara yang jujur tentang banyak hal,
hal yang membuatku dapat mengekspresikan diriku dengan lebih baik tanpa bersembunyi dibalik topeng,
topeng yang telah ku pakai selama ini terlalu banyak,
banyak sekali sehingga akupun telah lupa dengan rupa asliku juga wujudku,
wujudku yang terpendam tersebut dalam targali bahkan dengan satu senyum dari mu itu mampu mematahkannya dengan instan,
instan ya begitulah kamu,
kamu yang terkadang membuatku gagu di hadapanmu dan meruntuhkan kepercayaan diriku yang kupercaya setinggi langit,
langit yang kupunya seketika terbalik ketika ketawa riuhmu mencapai titik sarafku,
sarafku membeku menghantam kinerja otakku,
otakku tak berdaya dipermainkan oleh imajinasi yang semakin dalam dan larut,
larut dalam pesona bayang dari gerak-gerikmu yang mengungkapkannya tanpa kata-kata,
kata-kata sang pujangga berjuta malam menuju larut pagi juga takkan berdaya menggoreskan penanya untukmu,
untukmu yang telah menyulut api di sudut terdalam dari tubuh ini yang  seketika melemah,
melemah setelah tau itu kamu,
kamu yang telah mencuri sepotong hatiku,
hatiku yang kini potongannya sudah tidak lengkap lagi. Titik

Elektron untuk travelling

IMG_1565

Satu pertanyaan yang awalnya membingungkan untuk dijawab hingga mendapati jawaban yang telah di set khusus, yaitu “Kenapa melakukan solo travelling?”, bukankah berbahaya, sepi, dan autis tanpa teman berbicara? mungkin asumsi tersebut dapat dibenarkan, tetapi dibalik itu semua tentunya setiap pejalan yang terbiasa berjalan sendiri punya jawabannya masing-masing yang terkadang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Begitupun sensasi travelling sendiri cuma bisa dirasakan oleh orang yang melakukannya dan bukan orang lain. Ya begitulah adanya, hingga orang bijak berkata “You can’t understand a person until you have walked a mile in their shoes“. Lalu bagaimana jika seseorang jalan kemana-mana sendiri, misalnya makan sendiri, ngampus sendiri, nonton sendiri, dan tidur sendiri*(miss focus) apakah hal ini juga dibilang autis oleh sebagian orang, lalu?

Continue reading “Elektron untuk travelling”