Mati suri (jatinangor)

IMG_5582Sabtu malam seperti biasa angin sedikit melenggang kian kemari. Benturan tak terlalu banyak kian kemari untuk diterpa. Pertanda jalanan sepi miskin penghuni.

Januari mendekati februari tempat ini menjadi kota mati. Berlindung di dalam pagar masing-masing dari serbuan zombie. Seakan virus ganas meraja lela merontokkan, tinggalah ranting dan beberapa helai daun.

Tak banyak yang bersisa. Mereka yang terjebak dalam orientasinya yang tak serupa satu sama lain. Mereka aktif, dengan kebanggan atribut dan lambang dipunggung, apalah itu, jelas. mereka sebut dirinya aktivis, atau barangkali terjebak tak sanggup keluar dari lingkarannya.

Adapula mereka bertahan dengan alasan yang rasional. Uang, butuh cukup keberanian untuk melawannya. Merelakan alasan akan kebebasan, apalagi kerinduan akan tanah tumbuh dan lahir. beruntunglah mereka terdidik di tanah tujuan, hagemoni para pemberani, para penjejak rantau.

Januari mendekati februari, semua dari anak semut yang berjuang setiap dari subuh hingga petang berhamburan kemana-mana. Bak bola sepak menghantam sarang mereka, tercerai. mencari jalan, telusur langkah. Ada pengharapan untuk segera kembali dan ada yang sama sekali tidak.

Sekali lagi aku mati, bukan hanya untuk ku tapi bagi mereka yang mengais-ngais, Menampung tetesan embun. Tak guna, karna kota tak sebenar-benarnya mati. Miskin penghidupan, hambar selera untuk bertahan hidup. Pilihan tak banyak, tapi harus memilih demi hidup.

Aku masih setia mengabdi di kota ini, diterpa angin sejuk, dan dingin. Aku menikmati, sungguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s