Celoteh tanaman berapi

IMG_7247

Aku tumbuh besar ditempat tertentu
tempat yang sudah digariskan
Akar ku tertancap dalam sekali didalam sana
lebih tinggi dari nyiur
lebih kuat dari beringin.

Aku tau segala hal yang terjadi di sekelilingku
Aku memberikan kehidupan
bagi siapa saja yang bergelut disekitarku.

Sejatinya Aku pendamai sejati
penyabar yang hakiki
Pemendam kesedihan hingga tersadar
semua ada batasnya.

Diantara kawanku
memiliki masalah pada emosi mereka
Hentak menghentak tanpa henti
mengepul tak ada obat.

Ketika penyakitku ini makin parah,
Aku tak mampu mengontrolnya
seketika aku ditinggalkan,
Aku dimusuhi, Aku dibenci.

Kapan aku berhenti
kapan?
sungguh aku tak tau.
menengadah tangan, hanya itu.
Akupun berduka.

*Untuk Sinabung yang dirundungi kesedihan dan air mata.

Advertisements

Om Iwan bilang Hijrah!

Beberapa waktu lalu ada salah satu akun twitter, menanyakan lagu favorit kalo lagi jalan apa? gue biasanya sih jarang denger lagu kalo lagi jalan. Nguras batere gadget soalnya, maklumin udah soak binti mahmud. Tapi kalo lagi stay dipenginapan sih gapapa atau dalam keadaan tertentu misalnya, turun gunung via jalur senaru Rinjani jam 1 dini hari. Niatnya sih buat ngusir rasa was-was karna memang jalur senaru terkenal angker. Gue bukannya enjoy dengerin lagu malah makin merinding karna diikutin bau kembang dan denger suara dangdutan, ngeri-ngeri sedap lah. Tapi diluar itu sebenernya setiap perjalanan lebih enjoy dengan telinga terbuka dengerin suara sekitar. Mata celingak-celinguk kian kemari, dibanding cuma nunduk  macam anak babi ke layar gadget. 

“put down your gadget and camera. Takes deep of breath and enjoy the view”.

Continue reading “Om Iwan bilang Hijrah!”

Sensasi di kamar kelahiran Bung Hatta

IMG-20120901-00816

Sebagai orang Bukittinggi asli hal ini sedikit memalukan buatku.  Walaupun sering melintas didepan rumah kelahiran sang proklamator, Bung Hatta, tapi belum sekalipun masuk kedalamnya. Bukannya ngga mencintai sejarah, tapi memang ada benarnya, pribahasa “gajah diseberang lautan keliatan, semut dipelupuk mata tidak”. Disini bukan dalam artian kesalahan seseorang, tapi hal yang jauh dikejar sedangkan yang jelas-jelas didekat dilewatkan begitu saja. Tempat yang jaraknya cuma 15 menit yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, butuh 21 tahun buatku untuk melihatnya, Ironi hehe

Continue reading “Sensasi di kamar kelahiran Bung Hatta”

Mati suri (jatinangor)

IMG_5582Sabtu malam seperti biasa angin sedikit melenggang kian kemari. Benturan tak terlalu banyak kian kemari untuk diterpa. Pertanda jalanan sepi miskin penghuni.

Januari mendekati februari tempat ini menjadi kota mati. Berlindung di dalam pagar masing-masing dari serbuan zombie. Seakan virus ganas meraja lela merontokkan, tinggalah ranting dan beberapa helai daun.

Tak banyak yang bersisa. Mereka yang terjebak dalam orientasinya yang tak serupa satu sama lain. Mereka aktif, dengan kebanggan atribut dan lambang dipunggung, apalah itu, jelas. mereka sebut dirinya aktivis, atau barangkali terjebak tak sanggup keluar dari lingkarannya.

Adapula mereka bertahan dengan alasan yang rasional. Uang, butuh cukup keberanian untuk melawannya. Merelakan alasan akan kebebasan, apalagi kerinduan akan tanah tumbuh dan lahir. beruntunglah mereka terdidik di tanah tujuan, hagemoni para pemberani, para penjejak rantau.

Januari mendekati februari, semua dari anak semut yang berjuang setiap dari subuh hingga petang berhamburan kemana-mana. Bak bola sepak menghantam sarang mereka, tercerai. mencari jalan, telusur langkah. Ada pengharapan untuk segera kembali dan ada yang sama sekali tidak.

Sekali lagi aku mati, bukan hanya untuk ku tapi bagi mereka yang mengais-ngais, Menampung tetesan embun. Tak guna, karna kota tak sebenar-benarnya mati. Miskin penghidupan, hambar selera untuk bertahan hidup. Pilihan tak banyak, tapi harus memilih demi hidup.

Aku masih setia mengabdi di kota ini, diterpa angin sejuk, dan dingin. Aku menikmati, sungguh.