Dokter tanpa gelar

Siang ini tak ada sekelompok awan hitam yang berkumpul dan berencana untuk memandikan kerbau yang sibuk melecut – lecutkan ekor ke badannya. Boleh jadi lalar sawah lah yang usil bermain dengan  si kerbau. Ya lalar  suka hal-hal yang tak sedap.

Badan malas sekali untuk diguyur, bukannya aku satu jenis dengan si kerbau tapi memang air disini sangat dingin. Meskipun hari yang cerah ini sayang sekali buat dilewatkan hanya dengan bermain-main dengan si malas dikamar. Dengan berat hati dan berat langkah kupaksakan buat mutusin si malas, walaupun sebenernya aku masih sayang dia, hiks.

Dengan langkah gontai move on ke kamar mandi untuk mengguyur seluruh badan dan menyabuni setiap sela-sela sumber keringat. Karna disana terdapat ketakutan menjadi korban keusilan lalat yang berikutnya. Dan juga ketakutan akan objekan gosip para awan hitam  sehingga berniat memandikan ku secara paksa.

Bismillah, dengan menggeber motor pinjeman, aku menuju suatu tempat yang sejuk. Disaat itu disisi kanan dan kirinya terhamparan sawah sejauh mata memandang. Sampai lah aku di kaki gunung merapi. Kali ini bukan untuk trekking ke puncak tapi untuk berkunjung ke rumah Abak dan Amak.

Loh bukannya sedari tadi dari rumah, kenapa malah berkunjung ke rumah Abak dan Amak sendiri? Apakah gpakubanak yang terpisahkan dengan orang tua sewaktu kecil?sungguh pertanyaan yang kejam sekali. Memang dalam bahasa Indonesia Abak dan Amak artinya bapak dan ibu”. Tapi yang aku kunjungi ini bukan sekedar bapak dan ibu biasa, tapi orang yang udah aku anggap sebagai orang tua sendiri. Beliau yang menggendongku sedari bayi, menenangkan dikala  menangis, menepok pantatku, dan mengganti popok ku ketika men*rett. Loh emang lu pernah bayi juga, imut dong? Tentu!  Haha

IMG_6994

Setelah melepas rindu, dikasi makan lontong khas buatan amak, seddap. Ada tamu yang datang, naluri buat berasumsi dan hasrat buat kepo memang lagi tinggi saat itu. Dugaan pertama adalah mereka  sepasang suami istri. Gue tau karna si wanitanya tengah berbadan dua. Dugaan kedua  adalah mereka bukan suami istri dan datang untuk mengugurkan calon bayi yang lucu itu, ooh malangnya engkau nak.

IMG_6978

Abak sibuk menyiapkan kompor minyak, lempengan besi , selang penyedot, dan cairan minyak yang ada bijiannya. Melihat gelagat si pria yang meringis cemas dan alat-alat yang disiapkan abak, aku semakin yakin dengan apa yang akan terjadi. Sebelum operasi dimulai Abak memanaskan dulu lempengan besi diatas kompor yang nanti akan membunuh calon bayi dengan cepat. Kalian semua pembunuh kejam!

Lempengan besi pun panas, lalu abak menuangkan cairan kental itu keatasnya. Kemudian Abak mengambil selang. Jantung ku berdegup sangat kencang saat itu. Karna tau hal ini tidak seharusnya boleh terjadi, dosa besar. Apadaya saat itu tidak tersedia hak buat mencegahnya. Hati ini meringis seketika. Kemudian operasi  pun segera dimulai.

IMG_6976

Ternyata semua dugaan ku salah.

you are safe kid” ada kelegaan dalam hati.

Operasi yang menegangkan ternyata hanyalah sebuah operasi penyembuhan sakit gigi, hahaha.   Tentunya aku tidak menyangka sebelumnya. Kalau abak seorang dokter gigi yang telah praktek selama puluhan tahun. Beliau memang ga nancepin plang “Klinik Gigi Abak” didepan rumahnya, yang praktek dari jam sekian sampe sekian. Bisa datang kapan saja selama beliau ada dirumah. Tidak juga mematok tarif sekian sampai sekian untuk sekali pengobatan, alias seikhlasnya bahkan gratis.

Teknik penyembuhannya sendiri menggunakan asap untuk mematikan kuman dan ulat di gigi. Ulat,iihh? Kapok deh males sikat gigi, sekarang gue 3x sehari. Proses operasinya pertama lempengan besi dipanasin dulu, lalu di taro diatas bata didalam baskom yang berisi air. Kemudian campuran cairan minyak goreng dengan biji terong belanda di tetesin ke atas lempengan besi panas. Selanjutnya di sedot dengan mulut menggunakan selang ampe ngebul, kumur-kumur trus ditelen trus modyar dah hahaha. Tentunya setelah diisep dikeluarin lagi.

IMG_6992

“Emang cara pengobatan seperti itu aman? Tradisional, kuno, ihh ga level. Mending ke dokter deh lebih aman, modern, terjamin.”

Kepandaian ini merupakan salah satu warisan kearifan lokal, salah satu warisan kebudayaan nenek moyang. Entah bagaimana mereka menemukannya, tanpa riset, tanpa penelitian. Untuk menemukan jawabannya sendiri mungkin gue membutuhkan riset. Seperti bagaimana candi Borobudur diciptakan. Sampai sekarang cuma hipotesa-hipotesa yang berseliweran tentang bagaimana bisa manusia yang belum mengenal teknologi bisa membuat candi Borobudur yang begitu detail, presisi, dan penuh historis.

Mungkin telah ribuan terimakasih yang diterima oleh abak selama puluhan tahun ini, tanpa mengharapkan itu tentunya. Entah dari mana abak mendapatkan keahlian tersebut. Entah gimana beliau menjelaskan secara ilmiah teknik tersebut bisa menyembuhkan sakit gigi. Dan jangan sekalipun underestimate  terhadap kearifan lokal, dan berpandangan cuma ilmu kedokteran modern yang dapat dipercaya. Karna ilmu kedokteran juga berkembangan dari pertanyaan akar-akar kebudayaan di masyarakat.

“Jangan cuma menikmati bunganya saja, tapi cobalah gali akar-akar yang membuat bunga tersebut menjadi indah dan berwarna”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s