Penjual koran pun boleh bahagia..

“Nilai kekayaan kita terletak di dalam benak dan hati. Bukan terletak pada harta yang kita miliki.” Marian Wright Edelman

Anda pasti tahu bahwa setiap jiwa butuh perjuangan hidup untuk mencari materi. Jangankan manusia, semut pun tidak akan tinggal diam, hewan itu akan mencari makan untuk menggenyangkan perutnya. Burung-burung setiap pagi meninggalkan sarangnya dan sore hari kembali dengan perut yang kenyang. Kambing-kambing berlarian dari bukit turun ke lembah mencari sabana untuk mencari rumput demi menyambung hidup.

Apalagi manusia, bukan sekedar makan dan minum, membayar kontrakan rumah, berobat ke rumah sakit, membayar sekolah untuk anak, membayar cicilan motor, bahkan sekedar untuk membuang hajatpun, kini setiap orang butuh materi. Jika Anda memarkir kendaraan di pusar perbelanjaan, Anda harus siap ongkos untuk membayar tukang parkir.

Pendek kata, hidup selalu dikelilingi oleh materi. Dengan materi itulah manusia dapat menjalan hidupnya dengan penuh percaya diri, karena apapun yang ia inginkan dapat terpenuhi dengan layak. Jangan heran jika ada orang yang kerja sedari pagi hingga malam, banting tulang tanpa mengenal lelah hanya demi mendapatkan materi. Mereka rela mengais rejeki di negeri orang dengan meninggalkan sanak saudara, anak dan istri untuk menggapai apa yang disebut dengan duit.

Materi memang penting bagi kelangsungan hidup manusia, namun bukanlah satu-satunya hal yang terpenting dalam hidup sehingga harus dipuja hingga menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Memang tidak sedikit di antara manusia yang tidak mampu mencari materi hingga ia menjatuhkan harga dirinnya dan menjadi peminta-minta meski bertubuh tegar, muda, sehat, dan masih berpotensi.

Entah berapa banyak orang seperti itu di negeri ini. Mungkin jumlahnya mencapai jutaan! Berarti pula,  betapa banyak orang yang hidup dalam keterdesakan ekonomi, hidup tidak layak, dan kemiskinan. Akibat itu pula, kesenjangan antara si kaya dan si miskin seringkali berbuntut pada tindakan pelanggaran hukum. Bagaimana tidak, jika si kaya diam dan tidak peduli, sedangkan si miskin kesakitan menahan lapar, ke mana mereka meminta? Sementara lapangan kerja belum memberinya ruang untuk mencari nafkah?

Sungguh mulia orang yang sekedar berjualan koran di pinggir jalan raya meski mereguk 10 hingga 20 ribu setiap harinya. Itu jauh lebih baik dari pada menjadi peminta-minta atau perampok yang berdasi atau yang bersenjata tajam. Lebih baik dari pada makelar kasus yang sukanya berbuat onar, atau mafia hukum yang gemar membolak- balik fakta kebenaran.

Berapapun yang diperoleh, mereka (penjual koran) tidak pernah protes apalagi melakukan demo besar-besaran menuntut kenaikan omzet. Toh, kalaupun mereka protes, siapa yang mau mendengar jeritan dan keluh kesahnya? Padahal, setiap pagi mereka melayani masyarakat untuk memberi informasi tentang dunia.

Mereka datang dengan senang hati membuka cakrawala warga untuk membaca dan menyimak apa yang sedang terjadi di alam dunia ini. Ia mencamkan kata-kata seorang sahabatnya yang telah mendahuluinya ke alam baka, bahwa menjadikan orang pintar dan berwawasan adalah salah satu misi besar bagi para pengasong dan penjual koran. Mungkin karena itulah mereka bangga dengan profesinya.

Mereka tidak menghiraukan apa kata orang yang gemar merendahkan tentang dirinya, pekerja rendahan, dan tidak bonafit. Tidak perlu disandingkan dengan direktur atau pekerja kantoran yang bermobil mewah dengan ruangan yang tersedia lengkap segala perabotannya. Apa pun cibirannya, tidak ada keuntungannya jika digubris. Ibaratnya, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Apa untungnya mencibir dan apa ruginya bagi yang dicibir?

Sungguh pun begitu, pekerjaan ini sangat membahagiakan hati Pak Karman, Hatinya riang setiap pagi, saat matahari mulai menyapanya untuk berangkat kerja. Matahari seolah-olah menggerakan diri untuk memanggil Pak Karman agar bersiap menjemput rezeki dari Sang Khaliq.

Senyumnya selalu mengembang saat lambaian pengendara mobil memberi uang untuk satu koran yang dijualnya. Terkadang, ada pembeli yang berbaik hati memberi sisa uang kembalian yang tidak seberapa. Terkadang ada pembeli yang pelit dengan meminta uang kembalian meski hanya kurang seratus rupiah.

Ia selalu tersenyum dengan rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya. Baginya, berapaun jumlahnya, ia tetap menghargai pemberian Tuhan. Pernah dalam sehari ia hanya mendapatkan 5 ribu rupiah dari hasil jualannya karena terkendala hujan lebat hampir sehariaan. Meski begitu hatinya bergumam, “ Terima kasih Tuhan, betapa besar rezeki yang engkau berikan kepadaku  meski hanya cukup untuk membeli es teh.” Tiada kesah, yang ada hanya ucapan syukur tak terkira.

Hatinya benar-benar bahagia……..

Ia kini berusia 60 tahun. Sudah setengah abad lebih ia mendiami bumi ini. Tinggal sebuah rumah padat penduduk bersebrangan dengan perumahan mewah yang selalu dijaga 24 jam oleh para security. Langkahnya tidak lagi setegar karang seperti usia mudanya 30 tahun yang lalu, saat ia bisa berlari menerobos lambaian pengendara mobil yang terdesak lampu merah untuk segera meninggalkannya. Ia sanggup berlari dan mengejar sepeda motor dengan kecepatan standar. Itu dulu, kini napasnya menderu tersengal sesekali. Berlari sepanjang 100 meter saja, jantungnya sudah berdebar cepat. Tatkala rasa capek sudah menderanya, ia hanya berselonjor di pertigaan traffic light untuk menunggu pelanggan.

Rambut yang beruban dengan wajah yang keriput dan kulit hutam legam akibat sengatan ekstrem mentari siang hari, tak membendung hasratnya demi mencari beberapa lembar uang seribuan. Semangat yang menyala sambil membawa 50 eksemplar koran setiap hari dari agen yang sudah dikenalnya. Terkadang hanya laku separo, sesekali laku semua, dan seringkali hanya seperempatnya saja.

“Koran…………..

“Koran………

“Koran………………

Setiap hari kata itu meluncur bak mantera suci yang ia lontarkan ke setiap pengendara dan pengguna jalan raya. Ia memang tidak pandai merangkai kata sebagaimana iklan di televisi yang klise. Tetapi itulah kata yang sudah terpatri sejak 10 tahun yang lalu. Entah orang tertarik atau tidak, entah ada yang  membeli atau tidak, baginya tidak ada masalah.

Ia hanya ingin mengerahkan kemampuannya untuk pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Ia hanya ingin mempertahankan harga dirinya sebagai seorang kepala rumah tangga dan ayah dari anak-anak yang dicintainya. Pekerja yang tak pernah mencari muka atasannya, pekerja yang tak pernah mau sikut kanan sikut kiri demi meraih simpati sekelilingnya. Pekerja yang hanya ingin dilihat oleh pencipta-Nya saja. Seakan tertulis dalam hatinya, “ ya  Tuhan, liatlah, aku bekerja bukan untuk gengsi dan popularitas, tapi aku bekerja semata-mata untuk menjaga harga diriku dan keluargaku, agar aku tidak menjadi orang yang terlunta-lunta.”

Setiap pagi pak Karman berangkat usai subuh, dengan perut masih kosong dan mata masih lelah namun tak pernah membuatnya malas. Kemalasan baginya adalah penyakit yang tidak ada obat untuk menyembuhkan kecuali melawannya dengan gigih. Orang yang malas dan hanya senangnya bermimpi itu layaknya batu kali yang diletakkan di atas talam berharga. Meskipun begitu, ia hanya sebongkah batu yang tidak memeliki harga jual.

Sang Istri hanya yang menyuguhkan segelas kopi panas dengan pisang goreng sisa semalam, sudah cukup baginya. Terkadang hidangan tahu yang digoreng setelah subuh, membuatnya cukup kenyang. Yang penting bisa memberinya sedikit tenaga. Ia tidak perlu manja dengan masakan instan ala restoran yang biasa dimakan orang-orang berduit.

“Aku berangkat, Bu.”

“Hati-hati dijalan,” sambut sang istri ramah

Bergegas pak karman mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju agen untuk mengambil koran-korannya.

“Koran…………..

“Koran………

“Koran………………

IMG-20131201-01288-2
Siapa mereka? pejuang jalanan? bukan, mereka pahlawan yang membuka wawasan

Setiap waktu, bisa saja mobil atau motor menabraknya saat ia melambaikan koran yang akan dijualnya di tepi jalan. Arus lalu lintas yang pada dan ramai mengharuskannya tetap waspada. Jika lengah, mungkin ia bisa cidera. Beberapa kawannya sempat mengalami nasib mengenaskan, tertabrak. Sungguh pun begitu, ia bersyukur karena masih diberi kesehatan dan keselamatan.

 Sejujurnya, ia tidak takut jika tiba-tiba sebuah motor menabraknya hingga terluka. Ia sama sekali tidak resah jika korannya tidak laku. Ia tidak pernah bingung jika seharian hanya mendapatkan uang 5 ribu rupiah. Ia tidak khawatir meski koran dagangannya basah diguyur hujan. Bukan itu yang ia khawatirkan.

Justru jika ia hanya bersantai, duduk, mendengar perdebatan, bermain angka-angka semu, beride tanpa realitas, saling pamer intelektualitas, berebut posisi, berdebat tanpa ujung di kantornya yang megah dan apa yang ia minta selalu ada di depan mata. Mau gaji selangit, ingin mobil mewah tinggal tunjuk, mau fasilitas mewah tinggal teken.

Bukan, sama sekali bukan itu yang ia inginkan. Ia tidak ingin menjadi orang yang selalu muncul di acara televisi yang ia tonton bersama istrinya selepas Maghrib. Saling berada mulut, adu kepintaran, beradu saling menjatuhkan dengan alasan mencari kebenaran. Padahal kebenaran tidak perlu diperdebatkan apalagi saling menjatuhkan, karena kebenaran seseungguhnya terletak dalam hati manusia itu sendiri.

Pak Karman lebih senang menjadi petarung jalanan yang mempunyai harga diri, tanpa meminta-minta, tanpa provokasi, tanpa intimidasi, tanpa politisasi, apalagi korupsi. Itulah hidup bahagia versi pak Karman, penuh perjuangan, eksistensi jati diri tanpa manipulasi.

Seringkali kita menilai seseorang hanya dari kulitnya saja, sehingga apa yang tampak itulah yang dipersepsi. Ibarat memandang buah durian, kita hanya menganggap buah tersebut sangat mengerikan, berduri dan tentu saja sangat sakit jika memakannya. Tak tahunya, buah tersebut luar biasa lezat jika kita membuka dalamnya.

Manusia memiliki dua dimensi kehidupan, lahir dan batin yang selalu beriringan menemaninya selama hidup. Tatkala kita melihat seorang yang berdasi dengan memakai mobil mewah hati selalu mengatakan jika ia orang terpandang dan wajib dihormati. Saat melihat artis berjalan di atas red carpet, kita begitu kagum dengan popularitasnya. Saat kita melihat pejabat dikelilingi body guard untuk meninjau lokasi proyek, tangan tak berhenti untuk memberikan selamat.

Sedang saat ada orang yang berbaju kumal menawarkan dagangannya dengan santun, kita cenderung mengabaikannya dan memandang sebelah mata. Buat apa menghormati mereka, toh mereka bukan orang yang layak untuk diberi hormat.

Padahal kita tidak tahu, siapa diantara orang-orang tersebut yang hatinya paling mulia dan bahagia. Banyak orang yang berusaha mencari kebahagiaan dengan beragam cara, yang menurutnya itulah jalan kebahagiaan. Namun jalan tersebut justru sering tidak membuatnya bahagia. Mengapa? Itu karena kita mencari kebahagiaan menurut versi orang lain. Kita mengharap seseorang memberikan perasaan bahagia sesuai yang kita inginkan. Padahal bahagia sesungguhnya apa yang ada di dalam hati kita. Itulah yang dikatakan pujangga besar, Jalaluddin Rumi.

Kita mencari kalung permata dari ruangan ke ruangan yang sebetulnya ada di leher kita sendiri”  – Jalaluddin Rumi

*Tulisan ini tribute untuk seseorang yang terus berjuang diusia senjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga harga dirinya dan keluarganya. Seorang penjual tali sepatu dan terkadang menjajakan koran di seputaran kampus di Jatinangor. Beliau Inspirasi kami dan semoga perjuangan beliau dibalas dengan duduk dipangkuan Allah swt dengan nyaman. – Pak Toha 

Tulisan ini inspirasi dari  buku “Hidup jangan seperti Babi dan Kera” karya Abdillah Firmanzah Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s