Makanan yang tak membuat kenyang

“Dunia ini menyediakan segala keperluan untuk memuaskan kebutuhan manusia, namun tidak untuk memenuhi keserakahan manusia.” – Mahatma Gandhi

Siapa yang tidak ingin jadi orang kaya? Rumah bagus, mobil mahal, punya perusahaan, dan fasilitas lengkap dunia yang serba mewah. Jika ingin sesuatu tinggal tunjuk dan gesek kartu kredit. Hampir semua orang berharap hidupnya penuh gelimang harta, tanpa kekurangan. Bahkan kita sering berprasangka bahwa kualitas hidup yang tinggi bisa dicapai dengan memiliki banyak uang, standar hidup yang baik, keluarga yang bahagia, dan kedudukan yang terhormat di masyarakat. Hasrat seperti ini adalah moral.

Kalangan jetset misalnya, sebagian hidup dalam gelimang kemewahan mulai dari rumah mewah, mobil mewah sampai sepatu pun harus berharga mahal. Afzal Khan, seorang pengusaha keturunan Arab yang tinggal di Inggris, memiliki mobil super mahal dengan plat mobil termahal di dunia. Khan yang juga merupakan orang di balik perusahaan modifikasi Project Khan, membeli plat mobil bernomor F1 untuk digunakan pada Bugatti Veyron kelir putih miliknya. Plat mobil yang hanya ada satu-satu nya di dunia tersebut, seharga 721.743 USD atau sekitar Rp. 6,8 miliar. Jika harga plat mobil itu ditambahkan dengan harga satu unit Veyron yang harganya mencapai Rp. 14 miliar, Anda bisa bayangkan berapa total keseluruhan harga mobil milik Khan.

Namun jika diberi kekayaan seperempat dunia, misalnya, apakah kita dapat hidup bahagia? Kekayaan hanyalah bagian dari sarana menggapai kebahagiaan. Sedangkan kebehagiaan itu sendiri adalah pilihan. Ada orang yang hidup miskin tapi dapat hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya. Sebaliknya ada orang kaya raya tapi hidupnya selalu diliputi kesedihan dan kesusahan.

Potret semcam ini, banyak terjadi di sekeliling kita. Mungkin Anda pernah mendengar berita seorang artis yang hidupnya selalu tertekan meski ia hidup dengan kekayaan yang melimpah. Kemana-mana dibuntuti kamera, disisi lainnya hidupnya terusik oleh para fans,  seolah semua gerak-geriknya selalu ada yang mengawasi hingga urusan pribadi sekalipun. Kesimpulan, kekayaan dan popularitas tidak identik dengan kebahagiaan.

Di sebuah wilayah yang makmur hiduplah seorang sederhana yang cukup misterius. Mengapa misterius? Sebab orang yang tidak kenal akan menganggapnya sebagai orang tua miskin. Itu terlihat dari rumahnya yang ukurannya kurang daru 50 meter persegi. Di dalam rumahpun, tidak ada perabot mahal, semuanya biasa saja. Namun siapa sangka jika pak tua ini adalah seorang pengusaha papan atas yang memiliki aset ratusan miliar rupiah.

Ia hidup bahagia bersama istri dan dua anaknya. Saat anaknya beranjak dewasa dan akan menikah, si anak baru sadar jika orang tuanya adalah pengusaha sukses, bertanya mengapa ia hidup dalam kesederhanaan? Padahal lumrahnya orang yang duitnya banyak hidup dengan kemewahan. Rumahnya tidak besar dan sekedar tempat untuk berteduh.  Jangankan memakai mobil, orangtua yang memiliki kebun puluhan hektar itu pergi kemana-mana selalu memakai motor butut yang ia gunakan juga untuk bekerja.

 Suatu ketika anaknya bertanya, “ Mengapa bapal tidak membeli rumah yang mewah dan besar?”

Bapaknya menjawab, “ Meskipun rumah kita sebesar lapangan sepakbola, ternyata kita hanya butuh tempat untuk duduk dan tidur. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya, sehingga hanya mengurung diri dan tidak bersosialisasi dengan para tetangga. Bukankah kita hidup perlu saling mengenal?”

Si anak pun takjub dengan jawaban bapaknya, Lantas si bapak mengatakan dengan kalimat bijak, “ Rumah mewah dan besar butuh biaya banyak untuk membangunnya. Andai kata biaya rumah mewah itu bapak buatkan pemukiman untuk fakir miskin, betapa senangnya hati mereka. Anakku, engkau harus tau bahwa dunia beserta isinya ini cukup untuk tahu bahwa dunia beserta isinya ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia dari awal penciptaan hingga kematian. Tapi dunia ini tidak akan cukup bagi anak adam yang haus akan dunia dan keserakahan”

Si anak benar-benar takjub dangan nasihat bapaknya. Ia kini sadar jika selama ini ia hidup dalam kesederhanaan bersama keluarganya, ternyata untuk mendidiknya agar menjadi orang yang senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan.

IMG-20131201-01286-2
how much (long) you can eat ?

Tak diragukan lagi, kita menginginkan hidup yang baik dan menyenangkan. Karena itu sepanjang hidup kita punya cita-cita tertentu mulai dari kekayaan, harta, dan kedudukan yang lebih baik. Segala rencana dan upaya dikerahkan untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Namun jika tujuan tersebut menjadi tolak ukur menggapai kemuliaan hakiki, maka yang berperan adalah keserakahan.

Pada dasarnya manusia itu susah terpuaskan sehingga ingin memiliki segalanya. Ketidakpuasan itulah yang membuatnya semakin serakah serta cenderung memikirkan kepentingan diri sendiri. Ada pepatah jepang  yang menggambarkan keanehan orang-orang yang serakah, “ Biarpun Anda tidur di kamar seribu tikar, Anda hanya bisa tidur di atas satu tikar saja.” Meskipun kita memiliki  puluhan rumah, tetap saja kita tempati hanya satu. Meskipun mampu beli makanan enak dan mahal, perut kenyang ada batasnya. Sebanyak apapun deposito kita di bank, pasti ditinggalkan saat menghadap maut.

Celakanya, keserakahan manusia kerap mengundang bencana. Contohnya, ulah pengusaha nakal yang membalak hutan secara liar mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan datang bertubi-tubi. Keserakahan semacam ini tidak hanya di sektor ekonomi, tapi nyaris diberbagai bidang kehidupan, yang jadi korban tentu rakyat kecil yang tidak berdosa.

Inilah yang dikhawatrikan oleh manusia agung sepanjang zaman dalam sebuah hadist yang dipesankan untuk pengikutnya yang setia, Nabi Muhammad saw. Bersabda,

“ Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu sekalian, tapi aku khawatir kalau-kalau kekayaan dunia ini dihamparkan atas kamu sekalian bagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu. Lantas kamu sekalian akan berlomba-lomba pada kekayaan sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba pada kekayaan. Kemudian kekayaan itu akan membinasakan kamu sekalian bagaimana kekayaan itu telah membinasakan mereka.” – HR. Bukhari Muslim

Kita harus yakin jika kekayaan datang dari hati yang mau menerima dengan lapang dada semua pemberian-Nya. Sedangkan kemiskinan datang karena ketidakpuasan. Pantaslah jika ada ungkapan yang menyebut,

“ Andai anak adam di beri satu lembah emas, dua akan meminta yang kedua hingga tanah menyumpal mulutnya (mati)”.

 

Tulisan ini inspirasi dari  buku Hidup jangan seperti Babi dan Kera karya Abdillah Firmanzah Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s