Energi Cinta EDWARD HUTABARAT Untuk Akar Negeri

Hari ini gue off ke jakarta naik citilink untuk pertama kali, satu nilai plus buat sodaranya garuda ini karena berangkat tepat waktu..prok..prok. Sesaat sebelum dan sesudah take off  lo bakal nemuin macem-macem kegiatan orang yang ada dipesawat. Ada yang pura-pura tidur, baca panduan keselamatan, baca novel, ada  yang komat-kamit, ada juga yang tawa-tawa pas ditiup angin dikit ikutan komat-kamit, dan kalo gue ngelap telapak kaki pake tissue, trus dikures lagi. tau kenapa? karna gue ga pernah bisa move on dari yang namanya phobia ketinggian.

Gue tipikal orang yang pasrah-pasrah aja, lalu ngeskip lembaran petunjuk keselamatan dan mata gue tertuju ke Linked, semacam majalah bulanan dari citilink. Gue nemuin satu artikel yang bikin gue jatuh cinta pada pandangan pertama.  Artikel yang menarik dan bakal gue tulis ulang karna siapa tau bulan depan itu artikel udah lenyap ke tukang loak.

Check this one!

“Jangan pernah berusaha menjadi manusia Barat, tapi berusahalah menjadi manusia dengan mindset modern. Ketika seseorang telah modern, dia pasti mencintai kulturnya sendiri dan selalu mengenali akar budayanya dengan fasih”

Teks :Maerya Zee , Foto: Rachmat Gunawan

Anda mengaku mencintai Indonesia tapi tahukah anda dimana letak Waikabubak, Waingapu, Danau Kelimutu, atau pulau Sabu? Tanya Edward Hutabarat tegas saat penulis sedang bersiap diri untuk bertanya.

IMG_7011Ya, alih-alih mengajukan pertanyaan kepada pria yang akrab disapa Edo dan sepertinya lebih senang disebut pekerja seni ini, penulis malah dihujani pertanyaan yang jujur saja membuat penulis kelabakan. Untunglah pertanyaan tersebut berlanjut pada sebuah cerita yang mengalir deras mengenai cinta yang sangat mendalam dari seorang pria terhadap negeri dan budayanya. Cinta yang memberinya begitu banyak energi untuk rela meninggalkan attribut kenyamanan sebagai perancang kebaya papan atas tanah air dan melangkah ke pelosok Indonesia.

Selama 18 Tahun Anda bekeliling Indonesia, apa yang terekam di benak Anda? Sisa kecantikan yang membuat saya tak berhenti untuk terus merambah Sabang sampai Merauke.  Menurut saya, untuk mempertahankan sisa kecantikan ini dunia harus involve, tidak bisa Indonesia seleseikan sendiri apalagi melihat birokrasi dan sistem pemerintahan yang ada. Mengapa dunia harus involve? Karena dunia sudah ikut membongkar perut bumi mengakibatkan punahnya flora fauna. Mereka berpikir bahwa mereka memberikan lapangan kerja di lingkungan itu. Faktanya, saya tak melihat ada kesejahteraan bagi orang-orang yang terjun langsung, misalnya yang menanam kelapa sawit.

Maksud Anda, ini tugas berat utuk mengangkat nama baik Indonesia? Ya, bagaimana sekarang kita bisa bertarung dengan dunia Barat, jika kita tidak membawa akar dan tidak fasih membahas akar Indonesia. Apalagi yang mau kita andalkan dari Negeri ini kalau bukan akar yang ada dari Sabang sampai Merauke. Ada banyak perbedaan, mulai dari upacara kelahiran, kematian, pernikahan, mas kawin, makanan, pakaian, maupun bahasa. Namun tidak banyak yang menyadari betapa kita harus mengapresiasi dan mengangkat semua ini ke permukaan. Kebanyakan diantara kita lebih senang bermain dikulit atau bunganya saja. Tapi tak banyak yang sadar bahwa bunga akan semakin kecil karena akar mulai rusak.

Pernah mengungkapkan apresiasi Anda kepada pihak yang terkait? Masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Sebab kepentingan sudah berbeda. Begitu banyak tempat terpencil hanya bisa didatangai dengan pesawat kecil, hercules, jalan kaki, sepeda, motor, atau perahu. Tubuh pun harus fit karena perjalanan berat. Bagaimana bisa membuat blueprint pedalaman Indonesia jika tak pernah datang kelokasi langsung bersama tim. Pada kesempatan ini saya tidak mau lagi berbicara soal permukaan saja. Tetepi saya harus mengungkapkan bahwa ada sistem yang salah di negara kita dan ini harus diselesaikan.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita harus bikin Blueprint yang jelas, tapi saya bukan ahlinya. Untuk itu harus ada arkeolog, antropolog, ahli ekonomi, budayawan, dan sebagainya untuk membuat blueprint yang jelas dan benar. Perlu diketahui bahwa masyarakat modern adalah yang mengenal dan mencintai akarnya. Dunia barat belum tentu modern. Sebagai contoh, mereka tentu akan berhenti menggali perut bumi untuk mencari emas 20 jam per hari selama bertahun-tahun. Jika mereka modern, mereka akan memikirkan bagaimana menutup galian dan mengatasi limbah, karena alam akan mencari keseimbangan.

“Kebanyakan di antara kita lebih senang bermain di kulit atau bungannya yang indah dan berwarna saja.”

IMG_7012

Gambarkan perasaan Anda tiap kali melakukan perjalanan keliling Indonesia? Saya bahagia menjalani pilihan hidup saya. Walaupun sampai sekarang keluarga dan teman dekat saya selalu bertanya, untuk apa saya mengerjakan semua ini. Tidak perlu saya jawab pertanyaan mereka karena saya bahagia menjalani semua ini. Berkeliling ke Sintang, Borneo, Kalimantan, Padang, Aceh, sambil mengumpulkan barang-barang khas tiap daerah. Saya bahagia berada di lapangan dan mendokumentasikan berbagai keindahan alam. Lalu saya bawa hasil dokumentasi itu untuk dunia internasional, seperti memperkenalkan batik dan tenun.

Perjalanan anda banyak menawarkan suasana mencekam.  Bagaimana Anda bisa tetap menikmatinya? Selalu mengingat untuk mencintai dari hati sambil berdoa.  “ Berikan saya kesempatan untuk menikmati keindahan alam ini. Karena saya ingin sharing ini ke pada banyak teman dan orang-orang.” Seketika alam akan selalu menjaga dan melindungi kita, asalkan permintaan itu diungkapkan dari hati. Terima kasih atas kesempurnaan ini, semua sudah sempurna saya hanya ingin membagikan ini kepada banyak orang supaya lebih menghargai hidup seutuhnya. Saya sudah merasa bahagia jika bisa mengerjakan apa yang saja sukai.

IMG_7013

Dengan siapa biasanya Anda traveling? Selalu sendiri dengan membawa persediaan makanan yang memadai. Sama sekali tidak ribet.

Kiat melakukan perjalanan ‘beresiko” sebagaimana yang biasa Anda lakukan? Hidup itu adil. Misalnya, untuk melihat karya alam di pedalaman suku Asmat itu tidak gampang, harus bayar fifty-fifty nyawa untuk lihat keindahan alam di pedalaman ujung Indonesia. Karenanya begitu meninggalkan pelabuhan Asmat, jangan lupa untuk meninggalkan alamat ke seluruh kecamatan. Jika dalam dua minggu tidak kembali bisa segera mencari kecamatan lainnya. Di perhentian kecamatan, saya wajib menelpon keluarga untuk memberitahu posisi terakhir saya. Namun percayalah, semua perjuangan itu akan terbayar ketika kita mencintainya dengan hati. Semua pemandangan alam memberikan energi penuh bagi saya. Itulah saat terbaik untuk mencapai keseimbangan hidup.

“Bangkitkan energi dulu, maka saya percaya alam akan memberikan peluang kepada siapapun yang benar-benar terobsesi ingin melihat alam”

Waktu ideal yang dibutuhkan untuk mengunjungi daerah pedalaman? Tidak pernah cukup jika bicara soal waktu tapi sedikitnya 2 minggu. Untuk orang yang mencintai perjalanan itu dari hati semua akan menjadi mudah. Pendekatan saat mencari perahu murah dan baik, pendekatan ke orang setempat pun sudah menarik, bertemu dengan berbagai macam karakter dengan attitude yang berbeda-beda. Ah, semuanya perjalanan jadi menyenangkan asal dari hati.

Mimpi apa sebenarnya yang ingin Anda capai? Saya berjalanan keliling Indonesia bukan berusaha membuat lingkungan berubah tetapi saya hanya ingin mencari kebahagiaan sendiri dan untuk alam.

Untuk bisa seperti Anda tentu modalnya tidak sedikit? Modal itu dimulai dengan energi dulu. Punya modal tapi tidak ada energi lebih parah lagi. Bangkitkan energi dulu, maka saya percaya alam akan memeberikan peluang kepada siapapun yang benar-benar terobsesi ingin melihat alam. “That is an energy”

Apakah alam yang membentuk pribadi Anda menjadi semakin matang dan teguh? Saat alam menjerit kesakitan, saat alam bernyanyi soal keindahannya, saya bahagia bisa melihat gerakan-gerakan itu. Saya tidak pernah membentuk diri saya seperti bagaimana. Semua alamiah terbentuk. Ketika menikmati alam dan bertemu manusia, saat saya berinteraksi dengan berbagai perbedaan dari Sabang sampai Merauke, maka saat itulah saya semakin dekat dengan diri saya dan alam.

IMG_7014

Sekian banyak pedalaman yang Anda kunjungi pastinya banyak pengalaman hidup yang bermakna? Saat melihat laut, gunung, burung –burung, awan yang berubah warna, telinga ini mendengar, mata melihat, hidung mencium, dan saat itu juga mulut mengucap rasa syukur atas segala kesempurnaan. Setiap perjalanan selalu mengingatkan pengalaman pertama kita menginjak bumi, membuat kita bersyukur punya kamar mandi, kita masih punya teman, punya tempat tidur. Mereka (Masyarakat pedalaman) tidak memiliki tempat tidur, tidak pernah ada dapur, kamar mandi, semuanya jadi satu. Setiap hari mereka hanya mencari makanan layaknya burung-burung, dari pagi naik perahu, suami istri beternak mencari udang, lalu pulang mencari daun kering untuk masak, mereka tidak mengenal makan pagi, siang, atau malam.

Magnet apa yang selalu menarik Anda kembali ke tempat-tempat itu? Prinsip saya seperti ini; hanya setetes embun tapi setidaknya saya berbuat sesuatu. Hidup itu untuk berbagi. Sekecil apapun, berbagilah. Alam yang akan membuat itu besar. Saat berbagi, saya tidak pernah merencanakan. Contohnya rumah kediaman saya saat ini. Berbagai kerajinan tradisional saya kumpulkan hanya karena saya ingin berbagi supaya orang jadi aware dan melihat kekayaan tradisional kita.

Terlepas dari kondisi-kondisi yang mengenaskan di pelosok negeri ini, apa hal positif dan titik cerah yang sudah terwujud nyata? Orang mulai mengenal tenun. Orang juga mau pakai batik dan tenun. Itu juga banyak positifnya, karena pameran soal Indonesia. Terlihat dari perkembangan yang cukup baik. Tapi perkembangan itu baiknya tidak hanya bicara “bunganya” saja. Jangan puas karena orang pakai batik. Coba gali dan cari bagaimana cara membuat batik. Kenali batik bukan hanya karena motifnya, tapi juga bagaimana proses pembuatannya di tempatnya langsung. Sehingga kita tahu kotanya, kulturnya, makanannya, jangan nikmati keindahan Danau Kelimutu, sebelum menikmati makan jagung bersama dengan warga setempat.

“Hidup itu untuk BERBAGI sekecil apapun, BERBAGILAH”

Pesan Edo untuk Kawasan Wisata

Edward Hutabarat tidak berhenti menyuarakan perlunya memperhatikan kondisi toilet yang ada di tempat-tempat wisata Indonesia. Salah satunya yang terletak di Danau Kelimutu atau Danau Tiga Warna, Kampung Moni, Flores, Nusa Tenggara Timur. “ Apakah panitia dan pemerintah sudah menyadari bahwa toilet duduk sangat dibutuhkan dibanding toilet jongkok? Saya punya foto kondisi toilet jongkok disana. Bagaimana mensukseskan Sail Komodo jika kondisi toilet seperti itu? Ungkap Edo berapi-api.

Pernah dipandang sebelah mata sebagai orang Indonesia? Tidak pernah. Saat saya betemu orang asing, saya “hajar” mereka dengan keindahan alam Indonesia. Saya tunjukan foto-fotonya dan ungkapkan betapa saya bangga sebagai orang INDONESIA.

Advertisements

2 thoughts on “Energi Cinta EDWARD HUTABARAT Untuk Akar Negeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s