The Synthesizer

12331604_523828471133070_1083479734_n

Morning cloudy isn’t like neither white nor black
is like you can catch something in
that others is blinded
seeing thing far beyond

Brain is sucking imagination
laughing, crying, and stunned alone
noone understand – craziness is alone
until somebody realise and make it story

It is like wringing clothes
feel what is twist like
drop by drop of water
this is how the synthesizer works – noone understand

Advertisements

Abstrak dalam tulisan

Hei saya merindu mu
hei kenapa begitu, saya sungguh mahal untuk kamu rindukan

Iya saya tahu itu, sangat
nah, tidak lah elok kamu ungkapkan itu kepada saya

kata-kata saya belum usai, saya rindu abstrak didalam tulisanmu…

Baik, hari ini telah berada di penghujung juli. Kan tidak ada salahnya tidak menulis selama 54 hari. Karena menulis membutuhkan fokus, kata mereka. Untuk saya menulis membutuhkan imajinasi, bagaimana bisa saya menulis sesuatu ketika fokus menuntut. Fokus meminta untuk duduk didepan, agar lebih jelas melihat jalanan. Ada hal yang mesti segera untuk sampai.

Tidak dosa bukan tidak menulis selama 54 hari, kan saya bukan penulis. Tapi kamu menunggu imajinasi saya, lalu saya meminta maaf kepadamu. Apa, kamu bilang kita duduk berdua – berbicara tentang hal tak biasa – ketika kamu membaca tulisan saya, seperti itu kata mu tadi. Saya baru mendengar jika dengan membaca melalui selembar layar seolah telah terhubung, bahkan duduk bercerita.

Tadi saya bilang imjinasi duduk dibelakang, kemudi ganti, lalu bagaimana?
Tulisan-tulisan usang disini saya kembali baca, lalu apa?
Kamu tahu, benar-benar abstrak semua yang saya tulis, bahkan saya tidak ingat bagaimana bisa menulisnya.
Terheran-heran, mungkin ini saatnya imajinasi kembali ke kemudi.

Sudah itu saja, karena spotify dalam shuffle mode memutar lagu slank – Terlalu manis (piano version).
dan saya merinding~

Saya kembali menulis untuk kamu baca – Abstrak, 31-07-17

Jalan Toll

Dulu jalan toll dibangun untuk mempercepat laju. Tujuan lainnya untuk mempersingkat waktu tempuh. Lalu jalannya lurus-lurus saja tiada berkelok-kelok jikalau seperti mengikuti bukit dan lembah. Tapi itu dulu.
Sekarang kita lebih senang melaju sembari berbaris terkadang rapi terkadang semrawut tergantung suasana hati milik pengemudi atau bisa juga kesabaran yang menanti dibalik pintu rumah. Laju tak lebih cepat dibanding dulu.

Seakan tiada pilihan, hanya ini saja, jikalau kembali kejalan bukit dan lembah sudah malas atau bahkan lebih melambat lajunya. Lalu katanya ada solusi lain, bagaimana dengan kereta cepat yang bisa mempersingkat waktu hingga seperempatnya. 

Aku pikir kita pun akan tergoda, tapi akan kah nasibnya seperti jalan toll hari ini? Solusi untuk masalah baru? Siapa yang tau karena belum dicoba, bukan.

Memang tiada jalan mundur, hidup akan terus bermasalah dan bersolusi, apapun itu. Hingga bumi menjadi tua dan jenuh, dan berhenti berputar. 

Dari aku yang ikut berbaris diatas jalan toll sembari memicingkan mata dari siraman cahaya matahari sore.

Kaki Telanjang

Menyusuri pantai ku merintih
Diantara jarak bayang daun nyiur
Angin menjelang tengah hari berdamai
Hingga malam melepas rantai amuk

Muara tak seberapa jauh
Mulut bertukar adu dengan laut
Tak kunjung jua kaki menapak tepiannya
Mata terkadang fana

Semakin dekatnya muara
Nyiur semakin enggan bertautan
Bayangan bernaungnya pijakku
Menyiksa telapak dan jemari

Bertelanjang kaki mengejar muara

Sabda Cinta

Sabda cinta

Kehidupan normal seakan-akan menguap ketika cinta memasuki musimnya. Menemukan belahan yang membuatmu gelisah ketika ia lalai menjaga dirinya. Pernah gemas? Tidak enak bukan. Musim panas masih jauh dari kelopak mata tapi rasa marah menyaingi. Mengumbar kata hendak memberi tahu mana yang benar mana yang mesti dijalani, bukan dengan amburadul memperlakukan diri.

Seperti ibu memarahi buah hati, itu sayang itu cinta. Kamu? Bukan buah hatinya bukan imamnya bukan makmumnya, tiada usah marah, bukan tempatnya bukan haknya. Gemas bukan? Tentu saja, karena itu cinta ada. Jika bukan cinta,terlantar lah anak bertindak semaunya tiada tuntunan.

Pernah begitu? Berarti lupa untuk bangun dari namanya jatuh cinta. Ini sabda untuk mengetahui apa itu cinta dan tanda-tanda jatuh cinta. Dan jangan lupa, ini melenakan. Marah tanpa alasan itu lumrah dalam cinta, tapi tidak marah tanpa alasan ketika tiada dalam ikatan, karena kita bukanlah monyet bergelantungan. Mereka tiada mengerti apa itu sabda cinta, yang sesungguhnya~

Gemas membacanya? Saya juga ketika menulisnya~