Sepasang kaus kaki belang

Satu minggu berlalu seolah ia kilat, datang tak bersuara.
Tidak membuat kaget, sama sekali tidak.
Satu minggu berlalu, memutar ingatan kembali
Seolah ia menjadi petir, oh banyak yang telah berlalu.

Satu minggu berlalu, dan teringat sesuatu
Kaos kaki ini masih saja sama
Seperti sepasang saat senin lalu
Oh seminggu rupanya berlalu

Ia tidak bau karena petir pun kilat
Hanya saja lembab karena percikan hujan
Sepasang kaos kaki butuh pengganti
Dan seringkali, kaos kaki tak berpasangan

Jadilah ia belang
Meskipun ia dapat bersembunyi
Dibalik sepasang sepatu
Oh kaus kakiku belang~

Bandung, November  14

Advertisements

Syair itu

IMG_7666.jpg

 

 

 

 

 

 

Syair tak akan terlahir dari tempat terang.
Dimana gelap gulita disana buta berkata dalam kata.
Syair ada disana.

Syair tak pernah mengarung diombak tenang.
Dimana terjang menghantam kapal mengayuh entah kemana.
Syair berlabuh padanya.

Syair bukan upaya, tapi daya.
Daya yang mengalir bukan dialiri.
Dimana Syair
Disitu gelisah baik pun buruk…

Kesan

852732922_72578.jpg

Perlu kah untuk diingat, tidak. Apabila hanya untuk menghabiskan ruang dalam ingatan. Pun melupa membutuhkan usaha yang tak sedikit. Hanya menghabiskan oksigen yang mengalir di nadi.

Berlalunya tiap detik, menghapus satu persatu lukisan yang bernama kesan. Biarkan begitu, pun bintang tak pernah meminta untuk dioret acak di gelap kanvas langit. Ketika ia tak meminta, ia kembali pada malam-malam berikutnya.

Disudut yang tak pernah sama, hanya wujud. Itu arif yang diajarkan bintang, menuntun. Tidak membebani disatu titik, disatu ruang, disatu emosi. Terus bergerak-menari meninggalkan kesan yang ikut bersemi dihati. Cukup.

Kesan
09-06-2018

Simbol`

photo_2018-03-23_09-35-10
“Chemex” – Coffee Maker

 

“lu yakin ngasih nama itu?”

Pertanyaan yang tidak satu dua di lontarkan oleh beberapa teman dan sahabat. Setelah meminta pendapat akan logo dari nama yang sudah kutetapkan menjadi nama usahaku. Dimulai dari akhir tahun 2017, diawali dari kegemaran untuk mengkonsumsi kopi, tidak hanya sekedar “konsumsi” namun juga menelaah saintifik dibalik kopi itu sendiri. Saintifik disini baik itu dari segi kimiawi, pertaniannya, hingga faktor teknis seperti perbedaan pengaruh dari air penyeduhan, alat seduh, dan parameter lainnnya. Kemudian berujung pada pemesanan mesin untuk menyangrai kopi satu bulan setelahnya.

“bukannya berniat untuk “discourage” tapi kalo lu pakai nama itu soalah2 membentuk segmentasi tersendiri”

Pernah muncul keraguan untuk  merevisi nama menggantinya dengan sesuatu yang lebih filosofis atau orang bilang lebih keren atau juga lebih kekinian. Dan memang benar, menilik nama-nama yang digunakan untuk sebuah kedai kopi ataupun merek dagang kopi yang telah disangrai, masih banyak pilihan. Namun tetap aku menjatuhkan pilihan pada satu nama yang sederhana ini dan cukup familiar digunakan dimana-mana.

Dan lagi setelah logo yang didesain oleh seorang kawan yang bekerja dibidang kreatif desain selesai, aku semakin memantapkan untuk menggunakan nama yang sederhana ini. Tepat tanggal 3 april ini, sudah 3 bulan logo ini aku gunakan sebagai ujung tombak dari usaha ini.

cutmypic.png
Barokah Coffee Shelter

In Islam, Barakah or Barokah (Arabic: بركة‎) is a kind of continuity of spiritual presence and revelation that begins with God and flows through that and those closest to God. Barokah can be found within physical objects, places, and people, as chosen by God.

Inilah simbol yang aku gunakan, sebuah representasi dari lambang “infinity” yang memiliki arti tak ada batas. Dengan terdapat sebuh biji kopi didalam nya menunjukan bahwa tidak ada batasan pada kopi, baik dari segi ilmunya, pembelajarannya, rasa, dan juga bagaimana cara untuk menikmatinya. Barokah atau Barakah berasal dari bahasa arab yang berarti pertambahan nilai terhadap sesuatu untuk mendekatkan diri pada Allah sang pencipta semesta.

Dalam sebuah nama dan simbol sederhana ini terdapat makna yang luar biasa~
Tak ada alasan untuk tidak berjuang dengan nama ini bukan?

 

03-04-2018
Barokah Coffee Shelter

Takao-san

Melanjutkan cerita mengenai “Weather Forecast” beberapa bulan yang telah berlalu, dan. Sebelum ingatan-ingatan kecil mengenai hiking yang aku lakukan di Jepang terhapus, Takao-san.

Setelah terkaget-kaget menemukan bahwa stasiun kereta terakhir,Takaosanguchi, tak ubahnya pasar kaget yang ada di Bandung. Apakah salah aku dan site salah stasiun? Bertanya ke pusat informasi menjadi pilihan yang tepat, dengan keramahan yang luar biasa, penjelasan detail, dan bekal peta. Selanjutnya aku dan site mengikuti arus pendakian yang luar biasa ini.

Ada beberapa hal yang menarik diawal pendakian yang  jarang sekali bahkan belum pernah aku temui di Indonesia;

  • Rentang usia pendaki yang bervariasi dari usia 2 tahun – hingga 75 tahun *kira-kira
  • Mengaktualisasikan diri di alam menjadi penting
  • Alam menjadi bagian pendidikan semenjak usia dini
P_20171119_100559
Bukan digendong – tapi digandeng

Aku menemukan kemesraan tetap ada meski kebanyakan orang-orang bilang diusia senja pasangan tidak lagi seperti pasangan diawal-awal pernikahan, tapi lebih seperti “teman”. Tapi dengan alam sebagai media ternyata kemesraan itu tiada senyap diusia senja.

Aku menemukan dan terheran anak-anak usia 2-4 tahun telah dididik untuk bertanggung jawab terhadap dirinya (berjalan menanjak, meskipun lelah, merengek bahkan sesekali terjatuh) tak lantas membuat ayah-ibu nya untuk menggendongnya, betapa kagetnya aku sebaliknya orang tua muda ini hanya menyemangati buah hati mereka.

IMG_8786.JPG
Sebaliknya, buah hati yang memotivasi ayahnya
IMG_8788.JPG
Kontras; Tua-Muda 

Sebelum menapaki Jepang, yang aku hapal mengenainya adalah negara yang identik dengan  Manga, Anime, Game, atau sering juga terdengar istilah otaku yang dialamatkan untuk seseorang yang mengisolasi dirinya tanpa interaksi manusia, segala sesuatu yang identik dengan kegiatan indoor. Hiking kali ini memberikan pandangan baru bahwa kehidupan di Jepang juga sangat seimbang antara kegiatan indoor dan outdoor nya.

Tidak heran jika negara ini dikenal sebagai negara orang tua, memiliki rerata usia cukup panjang. Menilik dengan kegemaran mereka untuk merawat diri dengan makanan sehat dan juga aktivitas luar ruangan seperti hiking ini. Dan justru saya yang terheran sekaligus terkagum-kagum dengan pendidikan usia dini-nya.

IMG_8805.JPG
Ambience musim gugur..

Setelah keluar dari hutan lebat nan hijau, terlihat lah gradasi warna merah khas musim gugur. Pemandangan ini tak kalah indahnya buat ku yang pertama kali menikmati musim gugur dinegeri sakura ini.

IMG_8823.JPG

 

Aku sadari 2 hal; keindahan alam dinikmati dengan keluarga dan ternyata keindahan alam itu untuk dinikmati sepanjang hayat; ditafakuri hingga diri ini menyatu dengan alam~

Takao-san, Japan
19 November 2017