Jalan Toll

Dulu jalan toll dibangun untuk mempercepat laju. Tujuan lainnya untuk mempersingkat waktu tempuh. Lalu jalannya lurus-lurus saja tiada berkelok-kelok jikalau seperti mengikuti bukit dan lembah. Tapi itu dulu.
Sekarang kita lebih senang melaju sembari berbaris terkadang rapi terkadang semrawut tergantung suasana hati milik pengemudi atau bisa juga kesabaran yang menanti dibalik pintu rumah. Laju tak lebih cepat dibanding dulu.

Seakan tiada pilihan, hanya ini saja, jikalau kembali kejalan bukit dan lembah sudah malas atau bahkan lebih melambat lajunya. Lalu katanya ada solusi lain, bagaimana dengan kereta cepat yang bisa mempersingkat waktu hingga seperempatnya. 

Aku pikir kita pun akan tergoda, tapi akan kah nasibnya seperti jalan toll hari ini? Solusi untuk masalah baru? Siapa yang tau karena belum dicoba, bukan.

Memang tiada jalan mundur, hidup akan terus bermasalah dan bersolusi, apapun itu. Hingga bumi menjadi tua dan jenuh, dan berhenti berputar. 

Dari aku yang ikut berbaris diatas jalan toll sembari memicingkan mata dari siraman cahaya matahari sore.

Kaki Telanjang

Menyusuri pantai ku merintih
Diantara jarak bayang daun nyiur
Angin menjelang tengah hari berdamai
Hingga malam melepas rantai amuk

Muara tak seberapa jauh
Mulut bertukar adu dengan laut
Tak kunjung jua kaki menapak tepiannya
Mata terkadang fana

Semakin dekatnya muara
Nyiur semakin enggan bertautan
Bayangan bernaungnya pijakku
Menyiksa telapak dan jemari

Bertelanjang kaki mengejar muara

Sabda Cinta

Sabda cinta

Kehidupan normal seakan-akan menguap ketika cinta memasuki musimnya. Menemukan belahan yang membuatmu gelisah ketika ia lalai menjaga dirinya. Pernah gemas? Tidak enak bukan. Musim panas masih jauh dari kelopak mata tapi rasa marah menyaingi. Mengumbar kata hendak memberi tahu mana yang benar mana yang mesti dijalani, bukan dengan amburadul memperlakukan diri.

Seperti ibu memarahi buah hati, itu sayang itu cinta. Kamu? Bukan buah hatinya bukan imamnya bukan makmumnya, tiada usah marah, bukan tempatnya bukan haknya. Gemas bukan? Tentu saja, karena itu cinta ada. Jika bukan cinta,terlantar lah anak bertindak semaunya tiada tuntunan.

Pernah begitu? Berarti lupa untuk bangun dari namanya jatuh cinta. Ini sabda untuk mengetahui apa itu cinta dan tanda-tanda jatuh cinta. Dan jangan lupa, ini melenakan. Marah tanpa alasan itu lumrah dalam cinta, tapi tidak marah tanpa alasan ketika tiada dalam ikatan, karena kita bukanlah monyet bergelantungan. Mereka tiada mengerti apa itu sabda cinta, yang sesungguhnya~

Gemas membacanya? Saya juga ketika menulisnya~

Lupa

Duh malas sekali jika disuruh menghapal. Setelah berkeras memaksa memori otak untuk merekam setiap kata yang tertulis di lembaran-lembaran, namun tak jua persis seperti yang tertulis. Sisanya menjadi bahasa yang dimodifikasi sana-sini. Malas sekali, karena besok juga akan lupa lagi.

Ini cerita tentang menghapal bukan memahami.

Begini-begitu mau sesusah apapun yang harus dihapal atau semenakutkan apapun yang harus dihapal, tetap saja sulit. Katanya sih yang sering mengeluh sulit untuk menghapal hanya orang pemalas, pemalas yang mudah diganggu konsentrasinya. Dan pemalas selalu tidak bertemu hasil yang memuaskan, dan setengah pemalas yang suka memodifikasi akan bertemu dengan sesuatu yang setengah-setengah yang masih masuk kategori tidak memuaskan. Dan si pemenang lah yang berhasil mengatasi kemalasan untuk menghapal, katakanlah itu kemudahannya dalam menghapal.

Kemampuan menghapal salah satu ciri orang yang sukses, mesti sebagian orang tidak setuju, memahami lebih penting katanya. Tapi aku katakan ini adalah cerita tentang menghapal bukan memahami. Jadi kita sepakat kalau kemampuan menghapal adalah kemampuan yang baik dan menghantarkan pada kesuksesan, setuju?

Lalu bagaimana dengan kemampuan yang berkebalikan dengan kemampuan menghapal. Aku tidak berbicara tentang kelemahan dalam menghapal, tapi kemampuan melupakan. Kontra dari menghapal ini apaguna nya, tidak pernah sekalipun disebut bahwa kemampuan ini akan menghantarkan seseorang pada kesuksesan. Lalu?

Bumi ini berotasi begitu juga kehidupan, orang bilang kadang dibawah kadang diatas, semua orang juga tau bukan. Ternyata tidak sesederhana itu ketika perumpaan itu menghampiri di badan. Ketika kita dirundung permasalahan hingga badan lemas dan pikiran terperangkap dalam ruang hampa, limbung. Disaat seperti itu kita akan mengingat Tuhan lebih dari hari-hari biasanya, bahkan seseorang yang tidak percaya Tuhan pun akan menyebut nama-Nya.

Untuk terus maju dari kondisi terpuruk kemampuan seseorang dalam melupakan menjadi penting. Seberapa cepat untuk bisa keluar dan memulai sesuatu yang baru.

Tuhan adalah obat segala obat, seiiring dengan singkat atau lama waktu yang menemani, lalu untuk lupa bukan berarti kelemahan.

Mau nulis apa lagi lupa!!! :’)

Keledai Malang

Keledai mati itu tuli sedari lahir
mata itu saja yang diandalkanya
mulut yang tiada pernah pasif memamah
malang betul nasibnya

Engkau tahu,
setidaknya masih ada kebaikan matinya
menghantarkan tuannya selamat
sudah tugasnya memang

Pernah kau jumpai hewan mati berpakaian?
ini dia keledai malang,
itu dia senyum terkembang di pembaringan
tiada pakaian yang lebih baik dari itu

Jikalau keledai mati haruskah dikafani?
atau bangkainya pelipur lara pemangsa gurun?
keledai malang,
apakah engkau tau jalan pulang menuju-Nya?